Saturday, July 22, 2017

Mino dan Batik Pringmas Papringan, Oleh-Oleh Khas dari Banyumas


Setelah tidur nyenyak dan menikmati pagi yang dingin di Baturaden serta menyerap ilmu dari Pak Sudiyanto, Tim Juguran Blogger #3 menuju tempat lain di daerah Sokaraja.

Bus yang kami tumpangi ramai dengan musik dangdut yang juga familiar di telinga saya. Ya gimana enggak, tiap pergi kemana pake bus seringnya diputarkan lagu dangdut. Apa memang lagu dangdut nggak bikin ngantuk, ya? Kalau saya sih ngantuk mah ngantuk aja. Nggak peduli sama lagu. Hahaha.

Perjalanan siang itu memakan waktu sekitar satu jam, waktu yang cukup buat saya tidur lagi.  Setelah puasa 'bobo siang' di bus, kami akhirnya sampai di rumah produksi Mino Pak Narwan di Jalan Jaya Serayu No. 88, Banyumas.

Mino apaan, sih?

Hari sebelumnya Mbak Olipe sudah memberitau saya soal Mino ini. Katanya Mino itu makanan khas Banyumas, bebtuknya kue gitu. Tapi Mbak Olipe nggak ngasih tau saya apa singkatannya. Makanya sampai di rumah Mino pun saya masih bertanya-tamya kayak apa sih Mino itu. Ternyata... Mino itu Mini Nopia. Kalo itu sih aku sering makan! Nah, sedangkan Nopia itu bentuknya lebih besar lagi dan saya malah belum pernah makan yang Nopia ukuran besar.

Ini Nopia.

Seneng banget rasanya bisa mengunjungi rumah produksi Mino. Mulai dari pembuatan, pembakaran, sampai pengemasan. Bener-bener baru pertama kali lihat proses produksinya. Tapi, yang unik dari proses pembuatan Mino ini ada pada proses pembakarannnya. Jadi, Mino yang sudah dibentuk kecil-kecil ini kemudian dimasukkan ke dalam wadah semacam gentong tanah liat yang sudah di panasnya. Tapi... ditempel di dinding gentongnya gitu. Satu gentong itu bisa untuk membakar 800 buah Mino. Keren!

Ini yang saya bilang satu gentong isi 800 Mino. Btw, itu gentongnya panas, kalo kena kulit ya langsung melepuh.

Mino dan Nopia ini punya berbagai varian rasa, yaitu cokelat, gula jawa, durian, dan brambang (bawang merah). Harga satu bungkus Mino berukuran 300gr cuma Rp 11.000,-, sedangkan yang besar Rp 18.000,-. Cocok banget lah buat oleh-oleh kalo mau pulang kampung.

Ini baru Mino (Mini Nopia)

Well, nggak cuma Mino yang bisa kita bawa sebagai oleh-oleh, tapi ada satu lagi nih. Batik! Yup, kami juga diajak mengunjungi Batik Pringmas di Papringan, Banyumas. Selain melihat beragam motif batik yang dipajang di sana, kami juga belajar membatik langsung, lho. Demi apapun, ternyata membatik itu susah! Wajar dong kalo harganya mahal karena memang proses pembuatan batik tulis itu memakan waktu yang lamaaa!

Mari membatiiiik!


Saya ternyata nggak ada bakatnya buat membatik. Ampun deh, ngebatik satu kain seukuran saputangan aja butuh waktu lama. Sedangkan ibu-ibu di sana beuh... 5 menit juga jadi!

Sepanjang agenda di Batik Pringmas, Papringan, kami juga mendapat sambutan oleh mbak-mbak cantik dari Hotel Santika Purwokerto dan bincang-bincang asik bersama Bapak dan Ibu dari Bappeda Litbang Banyumas serta perwakilan dari Bank Indonesia. Sebagaimana baru saya ketahui juga bahwa Batik Pring Mas ini ternyata bekerjasama dengan Bank Indonesia dan membuka galeri di Hotel Santika. Jadi, kalau mau beli kain Batik Pring Mas bisa juga di Hotel Santika Purwokerto, ya!

Koleksi batik di Batik Pring Mas, Papringan, Banyumas.

Masih bingung mau bawa oleh-oleh apa dari Banyumas? Udah lah bawa Mino sama Batik Pringmas aja. Hehehe. By the way, masih ada cerita selanjutnya yaa!

Tulisan ini dibuat dari kegiatan Juguran Blogger di Banyumas bersama Blogger Banyumas dan di dukung oleh Bapeda Litbang Banyumas, Bank Indonesia, Loja De Cafe, Fourteen Adventure, PANDI.ID dan Hotel Santika Purwokerto.


Kamar Kos, mari nyekripsi lagi.
22 Juli 2017. 01:12.

Thursday, July 20, 2017

Meraba Jarak


Kemarin, saat daun-daun menggugur 
Saat embun pagi menetes di ujung 
Aku bertemu pagi dengan salam kepahitan 
Sendu yang merengkuh lebih dalam hari-hari sebelumnya 

Juguran Blogger Banyumas #3: Ada Kesan di Setiap Pertemuan



Malam itu saya masih terjaga di depan laptop sembari menggarap bab IV skripsi ketika info soal Juguran Blogger Banyumas mampir ke ponsel saya. Melihat kata "GRATIS" tentu saya langsung tertarik. Apalagi saya anaknya suka yang gratisan. Hahaha. Iya, kan? Siapa yang nggak suka gratisan coba? Lalu, saya baca flyernya berulang-ulang untuk menetapkan hati: ikut atau tidak.

Monday, July 17, 2017

Serba-Serbi Transportasi Online di Purwokerto


Di zaman yang serba digital ini, sepertinya semua hal menjadi sangat mudah dilakukan, termasuk dalam hal mengakses pemesanan jasa transportasi. Kalau dulu setiap pulang sekolah saya harus menyetop angkutan umum di pinggir jalan, sekarang tinggal pesan lewat aplikasi, kita bisa langsung dijemput dengan nyaman. Dunia sudah berubah.

Saturday, July 15, 2017

Aku Tak Marah by Djokolelono



Judul: Aku Tak Marah | Pengarang: Djokolelono | Penerbit: Moka Media | Tahun Terbit: Juli 2014 | Jumlah Halaman: 152 hlm. | ISBN: 9789797958 | Harga: Rp 38.500,- (Saya beli di BBW harganya Rp 7.000,-)