Thursday, September 15, 2016

[BOOK REVIEW] Delapan Sisi by Adityarakhman, dkk.


Judul: Delapan Sisi | Pengarang: Adityarakhman, dkk. | Penerbit: Plotpoint Publishing | Tahun Terbit: 2013 | Jumlah Halaman: 182 hlm. | ISBN: 9786029481440



BLURB

Seorang remaja harus memilih antara cinta atau masa depan.
Seorang ibu harus memilih untuk menuruti tuntutan sosial atau tuntutan anak kandungnya.
Seorang pengasuh harus memilih satu dari puluhan anak yang diasuhnya.
Seorang bapak menghadapi pilihan untuk percaya pada mimpi atau pragmatis saja.
Seorang dokter harus memilih untuk setia pada janji atau setia pada diri.
Seorang pendidik harus memilih untuk tutup mata atau menghadapi kesalahannya.
Seorang mertua harus memilih kebahagiaan dirinya atau anak menantunya.
Seorang istri dihadapkan pada pilihan cintanya pada suami atau anaknya.

Ini adalah delapan kisah tentang kehidupan, delapan cerita tentang pilihan. Tentang seorang lelaki yang berprofesi sebagai dokter aborsi. Seperti sebuah berlian dengan delapan sisi, delapan kisah di dalamnya adalah pantulan dari kehidupan satu orang. Kisah delapan orang terkait karena pilihan satu orang. Karena manusia bukan sebuah pulau yang hadir sendiri, pilihanmu bukan milikmu saja.
---

Awalnya saya mengabaikan buku ini dimanapun buku ini ada, baik di toko buku saat harganya masih mahal, maupun saat saya berada di depan tumpukan buku obral. Melihat dari judulnya, saya tidak tertarik, bahkan tidak ingin mengetahui apapun yang ada di dalamnya, apalagi ceritanya. Dugaan saya adalah buku ini tidak menarik. Nyatanya, seorang teman di Klub Buku menunjukkan bahwa buku ini adalah buku yang layak dibaca dan merekomendasikannya pada anggota grup. Tertariklah saya untuk mengetahui apa isi dari buku ini, tetapi tidak berusaha mencari buku ini.

Suatu saat ketika Mizan Group sedang membuka lagi masa obralnya, saya dengan kalap memilih buku-buku obral yang ada di websitenya. Dan buku Delapan Sisi ini menjadi salah satu pilihan saya, selain itu harganya juga sangat-sangat terjangkau. Kalau tidak salah ingat, harganya hanya Rp 12.000,-. Saking kalapnya tentu saja saya memborong banyak buku, kurang lebih sekitar lebih dari 20-an buku hanya dengan harga nyaris tiga ratus ribu dan dengan total diskon sekitar 1 juta lebih. Harga diskon yang fantastis dalam sejarah pembelian buku saya selama ini. FYI, total bukunya seberat 7 kg dan dikirim ke rumah dengan alasan supaya ongkos kirimnya murah. Hahaha.

Delapan Sisi bercerita soal apa sih? Awalnya saya kira ini cerita kumpulan cerpen yang terpisah seperti Kukila ataupun Rumah Kopi-nya Om Yusi. Ternyata buku Delapan Sisi ini benar-benar kumpulan cerpen yang apik untuk dibaca. Tema utamanya adalah soal aborsi. Iya, aborsi. Proses pengguguran janin dari rahim seorang perempuan. Sungguh!

Mendengar kata aborsi mungkin kita akan berpikiran bahwa buku ini membawa pengaruh buruk karena pasti isinya ada kaitannya dengan hamil di luar nikah. Namun, percayalah kalau buku ini sebenarnya memberikan efek penyadaran serta pengetahuan yang juga tidak sedikit. Kata-kata aborsi dalam buku ini sungguh membuat saya ngilu, terlebih ketika ada penggambaran bagaimana proses aborsi itu terjadi. Rasanya perut saya ikut ngilu dan perih ketika membacanya.

Tentunya karena buku ini adalah kumpulan cerpen, maka ada delapan cerita pendek yang ditulis oleh masing-masing penulis dengan sebuah judul berupa nama orang yang menjadi tokoh utama. Asiknya, mulai dari cerita satu hingga cerita berikutnya masih terdapat benang merah. Sehingga saat saya membaca buku ini saya sering menduga-duga, "Oh jangan-jangan ini anaknya si itu," dan sebagainya.

Aborsi ternyata memang banyak faktornya, salah satunya untuk alasan kesehatan sang ibu.

"Nama prosedurnya suction curretage," kata sang dokter lagi. Ibu takkan mau tahu lebih lanjut bagaimana prosesnya. Untuk usia sepuluh minggu, itu yang terbaik yang kami miliki. Prosesnya sehari kelar, beres, anak ibu sudah bisa beraktivitas kembali seperti biasa besoknya." (hlm. 13)

Dalam cerita di atas jelas saya mendapatkan pengetahuan baru soal suction curretage, meskipun hanya sedikit. Sebelumnya saya tahu sebatas kuret itu adalah proses yang dilakukan untuk membersihkan rahim apabila seorang ibu keguguran. Dan inilah penggambaran proses suction currettage-nya...

... Ia (asisten dokter) menyiapkan speculum, tenaculum, dan sebuah mesin penyedot bertenaga besar. Ujungnya tajam serupa pisau baja yang digunakan untuk memotong-motong tubuh bayi hingga berantakan, lalu menarik plasenta atau ari-ari dari dinding rahim. Pada bagian belakang mesin terdapat sebuah tabung seperti botol, cannula. Tubuh janin, plasenta, serta darah dan cairan ketuban akan berkumpul di dalam tabung itu. (hlm. 18)
Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya bahwa delapan cerita ini mempunyai benang merah yang akhirnya menjadi ide cerita selanjutnya. Saya pikir proses penulisannya sudah dipikirkan secara matang oleh kedelapan penulis ini, karena mau tidak mau mereka harus menemukan celah yang menjadikannya sebab-akibat dalam cerita yang mereka buat.

Isu yang diangkat dalam buku ini juga bukan hanya soal aborsi, tetapi ada juga soal penjualan anak. Saya hampir-hampir tak percaya ketika membaca cerita soal Lastri yang merupakan seorang ibu di panti asuhan. Satu anak kesayangannya yang tidak ia perbolehkan untuk diadopsi orang lain, ternyata malah ia jual demi menghidupi kehidupan panti asuhan tersebut. Sungguh ironis, bukan?

Isu LGBT juga tidak lepas dari buku ini. Pernikahan sejenis yang menginginkan seorang anak, hingga menciptakan cibiran dari lingkungan sekitar. Juga kisah seorang dokter lulusan terbaik yang akhirnya memilih menjadi dokter aborsi ilegal.

Pilihanmu bukan milikmu saja.

Tagline yang cukup simpel untuk menunjukkan bahwa setiap pilihan yang kita ambil akan ada dampaknya bagi orang lain meskipun terlihat seperti kebetulan dan ketidaksengajaan.

Delapan kisah dalam buku ini sangat menakjubkan bagi saya.Tentunya dengan ide cerita yang cukup unik dan jarang dibahas dalam sebuah buku, saya menemukan celah menariknya. Sehingga membuat saya ingin terus membacanya sampai habis dan berusaha mencari tahu soal aborsi. Sampai saya ngilu sendiri ketika membuka video soal currettage di youtube. Ampun deh! Tapi tetep suka sama isi ceritanya :D

RATE: 4/5

6 comments:

  1. Wow, review ini sukses bikin aku pengen baca bukunya.

    Ah iya, proses aborsi ilegal juga ada yang memaksa kontraksi lho...kedengerannya sih lebih manusiawi daripada proses yang nyabik-nyabik si janin, tapi sebenarnya enggak ada sisi manusiawi dari aborsi ilegal sih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ibaratnya kita membunuh manusia yang belum lahir ke dunia. Lebih mengerikan menurutku :(

      Delete
  2. Saya juga sudah baca buku itu.. saya suka delapan penulis menulis delapan cerpen (yang sebenarnya berkaitan) menurut sudut pandang masing-masing..
    Pas selesai baca kaya "wahh jenius" ��

    ReplyDelete