Monday, June 13, 2016

[BOOK REVIEW] Rumah Kopi Singa Tertawa by Yusi Avianto



Judul: Rumah Kopi Singa Tertawa | Pengarang: Yusi Avianto Pareanom | Penerbit: Banana | Desain Sampul: Rio si Tupay | Tahun Terbit: 2011 | Jumlah Halaman: 172 hlm. | ISBN: 9789791079266

BLURB

Apa yang akan kaulakukan jika tahu kapan dan bagaimana kematianmu datang, dosa lama menggetok kepala anak buta memanggilmu, novelmu segera diluncurkan sementara bentuk tubuhmu memalukan, tetanggamu selalu mengantar makanan yang tak pernah enak, orang yang kaubenci dimutilasi, terbelit Hukum Murphy, serangkaian kebetulan menyerangmu, atau terkena penyakit yang mengundang tawa?

Rumah Kopi Singa Tertawa menyodorkan pertanyaan-pertanyaan tersebut sembari mengajak pembacanya tertawa, menangis, dan ikut bersama penulisnya mengopyok berbagai khazanah kebudayaan dunia dan menjadikannya kegilaan baru.

Cerita-cerita yang ada dalam buku ini ditulis dalam kurun 1989-2011. Kecuali 'Laki-laki di Ujung Jalan', cerita yang lain pernah dimuat di media massa dalam bentuk yang sama atau sedikit berbeda. 'Tiga Laki-laki dan Seekor Anjing yang Berlari' dan 'Telur Rebus dan Kulit Kasim' ditukil dari novel Raden Mandasia si Pencuri Dagng Sapi.
---

Siapa yang bilang kalau buku ini berisi tentang kopi dan segala yang berkaitan dengan kopi? Kalian tentu saja salah. Buku ini adalah rupa dari kehidupan manusia yang seringkali terjadi. Membaca buku ini mampu membuka mata saya lebar-lebar untuk tahu apa yang sesungguhnya terjadi di kehidupan. Tidak sesuai dengan judulnya, saya menemukan makna lain yang ingin disampaikan Om Yusi dalam 18 cerita pendeknya, yang menurut saya sangat aduhai.

Bermula dengan "Cara-Cara Mati yang Kurang Aduhai" yang dibuka dengan cerita seorang Stanley Baker Jr yang meminta daftar makanan yang ingin ia makan sebelum hukuman mati. Mati adalah sebuah rahasia, tidak seorang pun yang tahu kapan ajal itu datang. Dalam cerita ini, si tokoh aku bicara soal kematian orang-orang, tanpa bicara soal kematian dirinya sendiri. Sampai suatu ketika ia mendapat cara mati yang kurang aduhai juga.

Merujuk pada judul buku ini, ada satu cerpen dengan judul yang sama. Isinya hanya seputar percakapan orang-orang di masing-masing meja, dengan topik yang berbeda-beda. Saya hampir tidak mengerti mengapa judul buku ini hanya berisi percakapan yang tidak terlalu epik. Kemudian saya bertanya-tanya, dimana letak lucunya? Ah, mungkin ini buku satir yang membuat kita nyengir miris ketika membacanya.

Beberapa cerpen di dalamnya mengambil setting waktu pada bulan Ramadhan, salah satunya Dari Dapur Bu Sewon, yang bercerita tentang Bu Sewon yang senang membagi-bagikan makanan kepada tetangganya. Memang tidak ada salahnya berbagi terutama di bulan ramadhan, namun ada yang salah dengan masakan Bu Sewon, rasanya yang tidak pernah beres. Hingga suatu hari Bu Sewon mengalami kecelakaan di kamar mandi, sehingga ia absen membagikan makanan itu. Antara lega dan prihatin, pasangan muda yang selalu diberi makanan oleh Bu Sewon malah mengucap syukur karena tidak harus merasakan masakan Bu Sewon lagi.

Kecuali darah, kau bisa memilih atau menawar segalanya di dunia ini. (p. 131)
Permainan keji dan kepolosan ada dalam cerita Tiga Maria dan Satu Mariam. Bercerita soal perempuan bernama Maria dan Mariam dengan latar yang berbeda-beda, tetapi cuma satu yang menarik minat saya, yaitu cerita tentang Maria Larasati Tunggadewi yang dibohongi ayahnya dengan dalih mengusir setan dalam tubuhnya untuk kesembuhan ibunya. Kepolosan Maria membuat dirinya bungkam dan pasrah dengan perlakuan sang ayah yang keluar jalur. Hingga akhirnya ia tahu apa yang sesungguhnya ayahnya lakukan kepadanya. Sampai akhir hayat ayahnya, ia tak mau bicara, bahkan tak memaafkannya.

Satu lagi yang baru saya ketahui, Hukum Murphy. Cerpen terakhir yang ada dalam buku ini berjudul Hukum Murphy Membelit Orang-Orang Karangapi. Diceritakan bahwa hampir setiap orang di Karangapi, sebuah desa di Semarang, selalu diintai nasib buruk. Tidak hanya disana, tetapi setiap orang di belahan dunia manapun. Hukum Murphy berlaku tanpa pernah kita ketahui seperti apa nasib buruk yang akan menimpa kita.
---

Buku ini tidak membuat saya tertawa, tetapi meringis miris. Percayalah buku ini memberikan banyak pelajaran kehidupan yang sederhana dan kadang terlupa oleh kita. Buku ini saya dapatkan secara gratis, pemberian dari teman saya, Kak Dhila ketika saya berada di Makassar. Plusnya, saya bertemu langsung dengan penulis buku ini dan diberi quotes di dalam bukunya.

Secara keseluruhan, buku ini bagus untuk dibaca. Hanya saja saya belum menemukan esensi "Rumah Kopi" yang tertera pada judulnya. Itu saja sih.

RATE: 4/5


Bonus foto aku sama Om Yusi :D

Purwokerto, 13 Juni 2016. 23:45

2 comments: