Friday, August 25, 2017

Untuk yang Merana Dibalik Setiap Keraguan


A/N: Baca ini dengan memutar sebuah lagu dari Fiersa Besari - Waktu yang Salah.



Menjelma jadi yang kau ingin tentu tidak mudah. Diam-diam, pelan-pelan, berusaha sedikit demi sedikit menjadi yang lebih baik. Menjadi seperti yang kau ingin, lebih tepatnya. Pagi selalu datang bersamaan dengan sejumlah resolusi baru. Harapan yang belum sempat diketahui akan berakhir nyata atau cuma ilusi. Roda-roda berputar pada ribuan mil jalanan panjang pembatas laju pertemuan. Hingga orang-orang kerap kebingungan, kemana lagi harus melangkah? Tetap dalam rutinitas atau keluar dari zona nyaman.

Begitu pula rindu, yang sering kausebut-sebut setiap malam. Menggema hingga ke pikiran bertahun-tahun lamanya. Aku melihatmu dalam barisan kata yang nyata. Satu demi satu huruf yang kaususun berdasarkan aturan. Aku tidak pernah berpikir bagaimana harus ada di sisimu. Aku tidak pernah berpikir bagaimana cara membuatmu melihatku. Aku tidak pernah berpikir bagaimana cara berbicara denganmu. Tidak pernah.

Sampai di suatu siang yang panas, demikian. Kamu tau yang kumaksud.

Suara-suara di pikiranku semakin bergema. Kotak sunyi itu tidak lagi sunyi. Sesaat menggaungkan namamu. Sesaat kemudian nama orang lain, dan orang lain, dan orang lainnya lagi. Pikiranku terbelah? Ya, berada di antara macam-macam karakter yang kutenui setiap hari akhirnya mengusikku dalam banyak hal. Segala perasaanku jadi berantakan. Segala keteraturan jadi luar biasa tak terkendali. Setiap hari, tanpa batas waktu yang jelas, dunia terasa semakin menyudutkanku dari segala hal.

Saat senja sudah sepenuhnya menghilang. Kebisingan itu terus muncul. Diam-diam menelusup jadi rindu. Aku berusaha geming pada setiap pikiran yang memberontak. Aku selalu ingin bisa jadi orang yang yakin pada setiap langkah. Aku ingin jadi orang yang tidak terhambat keraguan. Aku ingin seperti itu. Tidak seperti ini, gadis plin-plan yang berkeliaran kesana-kemari tanpa kejelasan. Gadis angkuh yang berpura-pura menjalani kehidupan dengan baik-baik saja.

"Sama perasaan sendiri aja gak yakin."

Maaf kalau aku terlihat main-main, kekanakan, dan segala hal yang kau anggap belum mencerminkan kedewasaan. Maaf kalau aku terlihat masih "gak yakin dengan perasaan". Maaf kalau semua ini terlihat seperti permainan 'jaga-jaga' dan membuatmu terasa dipermainkan.

Tetapi kemudian, keraguanku muncul di saat keraguanmu menghampiriku. Ketika aku sibuk kesana-kemari, bukankah kamu juga sibuk bersenda gurau dengan para penggemarmu? Ketika aku sibuk menunjukkan rasa sukaku pada orang lain, bukankah kau juga sibuk memuji banyak perempuan? Ketika aku sibuk menangisimu atau orang lain, bukankah kamu juga sibuk bikin baper banyak perempuan?

Kita... sama, bukan?

Jadi, apa yang membuatmu berpikir ini semua salahku? Bukan hanya soal keraguanku yang membuat kejadian ini semakin rumit, tapi juga ragumu yang seolah-olah tak memberiku ruang untuk bicara.

Sampai pada malam yang gelap dan hanya berisi rindu, yang entah pada siapa, aku masih bebas. Tak terikat pada siapapun atau apa pun. Apa yang kaubilang di malam itu mungkin  ada benarnya. Memperjuangkan seseorang tidak sebercanda itu. Tetapi, kamu tidak bisa menuduhku "tidak yakin pada perasaan sendiri" dengan semudah itu. Lalu bagaimana dengan kamu? Dengan semua pujian manis yang kamu lemparkan pada setiap perempuan yang menyapamu? Bukankah kamu juga masih ragu-ragu? Masih terlalu mudah menanggapi orang lain dengan hal-hal semacam itu?

Kamu, sejujurnya... ada dalam kotak keraguan soal perasaan itu menyakitkan. Kenapa aku diharuskan menetap selagi aku ingin bebas? Sedang kamu kubiarkan bebas, tetapi ingin orang lain menetap padamu?

Mungkin benar, kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah.

NB: Coba kamu baca tulisan ini.

Purwokerto, setelah membaca 'kicauanmu'.
25 Agustus 2017. 01:43.

No comments:

Post a Comment