Monday, October 24, 2016

[BOOK REVIEW] Sweet Nothings by Sefriyana Khairil


Judul: Sweet Nothings | Pengarang: Sefriyana Khairil | Penerbit: Gagas Media | Tahun Terbit: 2012 | Jumlah Halaman: 314 hlm. | ISBN: 9797805336 | Harga: Rp 45.000,- (Saya beli obralan, harganya Rp 19.000,-).

BLURB

Aku menyukaimu. Aku membencimu. Aku tak bisa menerima setiap perubahan yang terjadi dalam diriku saat bertemu denganmu.

Tapi kau seperti air, mengalir begitu saja di dalam hidupku. Dan sebentar saja, kau sudah jadi bagian yang tak bisa kusisihkan dari hari-hariku.

Sebagian dariku tak siap tunduk begitu saja di bawah pesonamu. Dan niatmu menyaru bersama senyuman dan tenang sikapmu.
Kau membiarkan aku menebak-nebak ke mana kau akan membawa hubungan ini. Aku bertanya-tanya—dan tak bisa berhenti menyipit curiga ke arahmu.

Sampai suatu saat, kau membuka rahasia hatimu.

Kau ingin menggantikannya—dia yang sudah meninggalkanku. Kau bilang lagi, bisa mencintaiku seperti yang aku mau.
Aku mendengus, menahan diri supaya tidak tertawa. Betapa tidak, kau baru saja mengatakan hal yang tak masuk akal.

Cintalah yang melukaiku dulu. Bagaimana mungkin kau bisa meyakinkanku bahwa kali ini cinta jugalah yang akan menyelamatkanku dari kesepian ini?
---

Prolog dulu, ya, gaes. Jadi saya membeli novel ini ketika saya lagi liburan Idul Adha di Gombong. Nah, kebetulan ada bazar buku, tapi pas saya ke sana, bukunya lagi nggak begitu bagus. Cuma saya selalu tertarik sama buku dari Gagas Media yang memang sering sekali mengusung tema romance, young adult, dan lainnya. Beberapa juga pernah saya review di blog ini, di antaranya, You Are My Sunshine, Catatan Musim, Cinta Kemarin, dan Kau. Pada akhirnya saya memilih novel Sweet Nothings ini karena sebuah alasan sederhana: saya lagi mengalami sesuatu yang 'sweet' tapi 'nggak ada artinya. Hahaha. Dan lagi saya tertarik sama sampulnya yang bergambar sebuah cake.

Sweet Nothings bercerita soal seorang wanita berusia 38 tahun pemilik toko kue, Sweet Sugar, yang baru satu tahun berdiri. Ia, Saskia, mendirikan Sweet Sugar ini dengan sepenuh tenaga dengan dibantu oleh sahabatnya, Indira, yang usianya 4 tahun lebih muda, Namun, perbedaan usia itu tidak menghalangi persahabatan mereka. Saat itu, Sweet Sugar sedang membutuhkan seorang Pastry Chef, karena orang yang menempati posisi sebelumnya telah resign. Indira akhirnya memperkenalkan Saskia pada Harsa, sepupunya yang merupakan seorang pastry chef professional.

Kedatangan Harsa ke Sweet Sugar tentunya membuat gelisah Saskia. Betapa tidak, Harsa adalah seorang yang tampan dan memiliki pesona di mata semua perempuan, tak terkecuali Saskia. Meskipun ia terus mengingkari pesona Harsa. Ya, Saskia punya trauma terhadap laki-laki, setelah suaminya meninggal dunia.

Keteguhan dan kegigihan Harsa akhirnya meluluhkan hati Saskia. Namun, hubungan mereka tidak berjalan mulus karena pikiran-pikiran Saskia yang selalu terbentur pada perbedaan usia mereka yang jauh. Harsa lebih muda 8 tahun dari Saskia. Saskia sendiri sudah memiliki dua anak dari suaminya yang dulu.

Well, saya lihat ini memang kisah chicklit banget. Kisah wanita karier usia 30-an lah. Saya mah apa atuh, masih bocah. Endingnya sudah bisa ditebak, tentu saja. Poin-poin perbabnya selalu diawali dengan potongan lirik lagu. Bahasa puitis milik Sefriyana Khairil ini cukup bisa membuat saya tersipu-sipu. Apalagi kalau Harsa sudah melakukan hal-hal kecil nan romantis. Duh, mau baper tapi gimana ya? Hahaha.

Jadi, apakah Saskia akan tetap bersama Harsa? Atau malah memilih untuk tidak berhubungan dengan Harsa karena keraguannya yang terlampau besar pada lelaki yang satu itu? Silakan baca sendiri. :)
---

By the way, sebelum masuk bab pembuka buku ini, kalian akan disuguhkan oleh sebuah resep strawberry pie yang lengkap. Ini salah satu hal yang saya suka dari novel yang isinya soal masakan, cake, cafe, dan lainnya. Saya jadi bisa menyontek resep-resepnya. Hahaha.

Ketika membuka pintu masuk Sweet Sugar, Saskia merasakan angin mengirimkan aroma-aroma ke indra penciumannya--gula, mentega, dan kayu manis yang begitu melekat. Begitu pintu ditutup, kehangatan muncul dalam desain klasik toko--perpaduan putih, krem, dan cokelat muda, seperti merasakan karamel sebelum menyesap cappucino. (hlm. 2 - penjelasan soal Sweet Sugar).

Sebuah novel tentu memiliki ketidaksempurnaan, selain dari segi cerita yang mudah ditebak, saya juga menemukan beberapa kesalahketikan dalam novel ini. Namun, tetap tidak memengaruhi kekhidmatan saya membaca novel ini dengan sesekali membayangkan bagaimana rasanya ada di Sweet Sugar dan mencicipi berbagai kue dan camilan.

Beberapa kata dalam novel ini juga sangat quotable, dan potongan lirik di awal bab selalu berhasil membuat saya penasaran ingin mendengarkan lagunya juga.

"You can't move on if you always look back, Babe. The past is not a place to live in. It's a storage. A place where we put our olf or used stuff." (hlm. 77)
"I don't plan any of it, Kia. I can say, no, I'm not falling love with you. But, my feelings for you keep growing and growing. Something inside of you that makes me feel this way. Feel like I am reborn. Lighter. Amazingly happy. All I can say is, the greatest feeling that I ever felt." - Harsa (hlm. 177). 
Tak pernah mudah melepaskan seseorang yang membuatmu merasa bahagia. Sama sulitnya dengan terus menggenggamnya, tapi tahu seseorang itu akan jauh lebih bahagia bukan dengan dirimu. (hlm. 276).
Well, opini saya saat membaca deskripsi soal Harsa adalah... betapa kerennya laki-laki yang bisa masak. :D

RATE: 3/5

Kamar kos, sudah sore.
24 Oktober 2016, 15:47.

2 comments:

  1. jadi pengin baca sweet nothing lagi, dulu aku lupa pinjam sama siapa hahaha....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe ini bukunya asik sih, jadi bikin pengen masak kue wkwk

      Delete