Tuesday, July 5, 2016

[BOOK REVIEW] Tidak Ada New York Hari Ini by M. Aan Mansyur


Judul: Tidak Ada New York Hari Ini (Kumpulan Puisi) | Pengarang: M. Aan Mansyur | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Layout: Emte | Foto: Mo Riza | Tahun Terbit: 2016 | Jumlah Halaman: 120 hlm. | ISBN: 9786020327235

BLURB

Hari-hariku membakar habis diriku
Setiap kali aku ingin mengumpulkan
tumpukan abuku sendiri, jari-jariku
berubah jadi badai angin.

Dan aku mengerti mengapa cinta diciptakan—
---

Ini buku puisi karya Kak Aan yang saya baca setelah Melihat Api Bekerja. Tidak jauh berbeda dengan buku puisi yang sebelumnya, hanya saja kali ini ilustrasinya bukan lagi berupa gambar tangan, melainkan dengan foto. Buku ini tentu saja booming setelah film AADC 2 tayang dan meledak di bioskop. Puisi-puisi Rangga, begitu katanya, menjadi sangat epic dan memorable di pikiran orang banyak.

Memang puisi Tidak Ada New York Hari Ini yang dibacakan Rangga di film terasa lebih menusuk di hati. Pun ketika saya mendengarnya langsung dari si penyairnya, yaitu Kak Aan di MIWF2016 kemarin. Rasanya buku ini memang epic, terutama puisi-puisi yang muncul di film.



Saya tidak bisa banyak berkomentar tentang sebuah buku puisi. Namun, kalau mau membandingkan dengan buku puisi yang saya baca sebelumnya, tentu saya akan bilang buku ini tidak lebih baik daripada Melihat Api Bekerja. Baik dari segi isi puisi yang sedikit, maupun ilustrasinya.

Di buku TANYHI (saya singkat saja), puisinya lebih sedikit dan cenderung lebih singkat. Juga terlalu banyak foto yang bertebaran dan mengurangi esensi dari kumpulan puisi itu sendiri, bagi saya. Saya pun jadi bertanya-tanya apakah ini buku kumpulan puisi atau buku kumpulan foto?



Tentu kamu akan ingat puisi ini...

Semua perihal diciptakan sebagai batas. Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain. Hari ini membatasi besok dan kemarin. Besok batas hari ini dan lusa. Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara, dan kantor walikota, juga rumahmu dan seluruh tempat dimana pernah ada kita.

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta. Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah kata-kata. Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang. Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang.

Seorang ayah membelah anak dan ibunya--dan sebaliknya. Atau senyumnu, dinding diantara aku dan ketidakwarasan persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur.

Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.


Ingat? Ya, itu salah satu puisi terepic yang ada di dalam film AADC 2. Ya, bagi saya puisi Kak Aan selalu menyentuh dalam-dalam hati saya. Saya suka dengan diksi dan gaya bahasanya yang mengalir dan sederhana.

RATE: 3/5

No comments:

Post a Comment