[BOOK REVIEW] Melihat Api Bekerja by M. Aan Mansyur


Judul: Melihat Api Bekerja (Kumpulan Puisi) | Pengarang: M. Aan Mansyur | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Desain Sampul dan Ilustrator: Emte | Tahun Terbit: 2015 | Jumlah Halaman: 160 hlm. | ISBN: 9786020315577


“Aan adalah salah seorang dari dua atau tiga penyair kita yang berhasil memaksa kita dengan cermat mendengarkan demi penghayatan atas keindahan dongengnya.“ - Sapardi Djoko Damono.
---

Sebuah puisi dan ilustrasi yang memukau.

Saya sempat ragu mengambil buku ini untuk sebuah koleksi. Saya suka puisi, tetapi lebih sering enggan untuk membeli karena saya pikir puisi-puisi yang bertebaran di dalam buku bisa saya lacak dari internet. Selain itu, puisi di dalam buku seringkali terlihat mahal di harga. Jujur, saya suka yang gratis. Tapi rasanya membeli buku ini tidak sayang-sayang amat, buku ini dipenuhi puisi. Ya, namanya juga kumpulan puisi.

Pertama, kenapa akhirnya saya memutuskan untuk membawa buku ini ke kasir beserta buku puisi terbaru milik Kak Aan, Tidak Ada New York Hari Ini, karena saya sudah terlanjur ketemu Kak Aan di MIWF 2016. Hahaha. Bukan hanya itu, sebagai seorang yang suka puisi, saya pikir tidak ada salahnya membeli sebuah buku puisi sebagai referensi dan untuk menikmati keindahan puisi yang dapat membuat jatuh cinta.

Melihat Api Bekerja adalah paduan puisi dan ilustrasi yang menggoda. Kata-kata dari Kak Aan dan ilustrasi milik Muhammad Taufik (Emte) membuat buku kumpulan puisi ini terasa semakin hidup.


Buku ini dibuka dengan sebuah pengantar dari Sapardi Djoko Darmono yang kita tahu juga seorang penulis puisi. Dalam judulnya "Mendengarkan Larik-Larik Aan Mansyur" kita seperti diajak berdiskusi, mendengar penuturan dari Sapardi tentang puisi-puisi Aan yang berlagu seperti dongeng, bercerita tentang apa saja yang dia lihat. Sapardi lebih banyak bercerita soal apa itu puisi, bagaimana puisi Aan lebih seperti dongeng daripada ujud visual puisi itu sendiri.

Membacanya, saya cuma bisa mengangguk takzim dengan sedikit-sedikit mengernyitkan dahi.

Hal yang pertama sekali saya lihat dari buku puisi Kak Aan adalah mengamati bagaimana ilustrasi itu bergerak seiring dengan puisi yang bertebaran di sana. Bagi saya, puisi Kak Aan memang seperti cerita; sederhana dan mengalir dengan diksi yang bagus dan tak terpikirkan oleh saya. Apakah seharusnya puisi seperti itu? Saya sendiri masih belum mengerti. Tetapi saya bisa memahami apa yang ingin disampaikan dalam sebuah puisi.

Terlalu banyak kata yang berubah jadi dongeng. Benar apa kata Sapardi soal puisi Aan yang mana segalanya berubah jadi sebuah kisah yang harusnya kita dengar hingga tuntas, juga kesederhanaan dalam puisi-puisinya. Salah satu yang menjadi favorit saya adalah "Jalan yang Berkali-kali Kau Tempuh" dan "Menikmati Akhir Pekan".

Kau baru saja melewati persimpangan terakhir.

Kau tak lagi melihatnya ketika menoleh.

Dan pada akhirnya, tiada apapun kautemukan setelah tiba di sini. (potongan puisi Jalan yang Berkali-Kali Kau Tempuh. p. 83)
Aku benci berada di antara orang-orang yang bahagia. Mereka bicara tentang segala sesuatu, tapi kata-kata mereka tidak mengatakan apa-apa. Mereka tertawa dan menipu diri sendiri menganggap hidup mereka baik-baik saja. Mereka berpesta dan membunuh anak kecil dalam diri mereka.
Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri. (Menanti Akhir Pekan, p.125)

Perihal ilustrasi, saya pun jatuh cinta pada goresan tangan milik Muhammad Taufik. Seperti yang saya bilang, ilustrasi membuat puisi menjadi lebih hidup dan menarik saya untuk lebih memahami makna dari puisi. Meskipun ilustrasinya lebih sering membingungkan saya. Hanya saja saya suka dengan warna cokelat yang seperti hasil bakaran, sesuai dengan judulnya yang memiliki unsur api di dalamnya. Saya jadi ingat kalau ada lukisan yang dibuat dengan menggunakan api. Dan hasilnya cukup menakjubkan.


Saya tidak bisa berkomentar banyak soal buku puisi, apalagi ilustrasinya. Sebagai penikmat saya sudah cukup terpuaskan dengan semua puisi Kak Aan yang menghipnotis saya dan membuat saya jatuh hati. Termasuk ilustrasinya yang memaksa saya untuk memahami makna dari sebuah gambar. Sekian.

RATE: 3,5/5

Comments

  1. Bagus juga ini. Gaya bahasanya gak neko-neko. Gak terlalu tinggi, kaya puisi kebanyakan.

    Kalo kata bahasa Sunda nya mah: Simple tapi nyerihatekeun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu. Sederhana sekali memang bahasa puisinya, tapi cukup menohok :)

      Delete
  2. Aku ada buku ini :D cuma baru setengah bacanya :D soalnya bahasanya menurut aku terlalu tinggi buat aku :') wwkkw aku nggak biasa baca beginian, tapi baru belajar :D hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dibaca dong kak. Asik lho baca puisi sekalian belajar diksi. KAlau bahasanya dirasa terlalu tinggi, bisa sekaligus cari maknanya :)

      Delete
  3. emaaang khas banget. Bahkan kalo ngga salah sampe ada yang mikirin apakah puisinya Aan itu puisi atau bukan. Linknya kalo ga salah ada di medium dia. Tapi kereeen. Wohoo! \(w)/
    Anyway, gue baru tahu lo sepreoduktif ini nulisnya ntiw. Dalam sebulan udah ada10 post keren. Gue follow dulu ah blognya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue sih baca bukunya Aan ini kayak ngalir aja gitu bang, walaupun kadang suka ada nggak ngertonya tapi tetep wah bagi gue hahaha.
      Ini lagi rajin aja bang hahaha. Makasih sudah follow :)

      Delete
  4. waaah iya nih, puisi di buku terbarunya dalem banget kesannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tunggu saya nanti mau review buku puisi Aan yang terbaru :D

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)