Perjalanan: Gunung Argopuro 3088 Mdpl (Part 5-END)

Sebelumnya:

Danau Taman Hidup
Danau Taman Hidup malam itu cukup membuat menggigil. Angin malamnya demikian menusuk. Aku ingin tidur, tapi aku lapar. Dilema. Kemudian, malam itu kami hanya makan mie instan rebus yang subhanallah lezatnya (apapun yang di gunung pasti terasa enak deh). Iya, aku makan mie instan yang dibuat oleh Surya dan Dhani, berdua untukku dan Mbak Megumi. Sungguh, makan mie instan di suasana yang dingin sekali itu terasa sangat nikmat.

Lokasi camp kami tepat di sebelah danau. Bisa dibilang kami akan kedinginan di sini karena angin danau langsung sampai di tempat kami. Kukira sebelumnya kami akan camp agak di dalam hutan, nyatanya tidak. Setelah cukup kenyang dan menghangatkan diri dengan makan, tubuhku sempat menggigil saking dinginnya. Jujur saja, aku termasuk yang tidak terlalu kuat dingin, tapi masih bisa menahannya. Aku ingat juga malam itu aku menggigil parah ketika makan mie, semua tubuhku gemetar. Sampai si Surya bilang, “Udah Ti, lo masuk aja sana ke tenda.”

Tenda malam itu adalah surga dunia. Cukup hangat untuk tidur, ditambah kami tidur berdempetan berempat seperti sebelumnya, hingga hawa di dalam tenda semakin hangat. Selamat tidur. Ini adalah malam terakhir di Argopuro!

Senin, 3 Agustus 2015.
Selamat pagi, cinta! Danau Taman Hidup di subuh maish menyeramkan, tapi tidak di pagi harinya. Sungguh cantik dengan matahari yang bersinar cerah. Golden sun!

Danau Taman Hidup

Hari terakhir kami di Argopuro adalah hari makan sepuasnya. Sisa bekal makanan sebelumnya kami habiskan untuk pagi itu sebelum turun ke basecamp Bremi. Menu makanan pagi itu masih sama seperti sebelumnya, nasi kuning goreng dengan kornet, sarden, dan lainnya. Pokoknya makan yang snagat istimewa kalau di gunung mah.

Lokasi ini sungguh sangat cantik memang. Sayangnya, air di danau sedang surut, sehingga mengurangi kecantikannya. Dan… inilah hari terakhir kami mengunjungi Argopuro. 5 hari 4 malam yang sangat berkesan.

We take a picture before we go home. Last day in Mt. Argopuro

Pukul 9 pagi kami siap-siap packing. Tak hanya kami, pendaki lain pun juga sudah siap-siap. Supaya tidak kesorean sampai di basecamp.

Perjalanan menuju basecamp Bremi sudah mulai santai. Jalur turunan membuatku tidak lagi kehabisan nafas, meski jalanku tetap pelan karena takut nyusruk. Dan yang selalu setia di belakangku sekaligus menjadi sweeper tim ini adalah Denden, Wisnu, Kak Edo. Mungkin yang lain sudah sampai di basecamp duluan karena jalan mereka sungguh snagat cepat. Berbeda sekali denganku.

Keluar dari hutan, kami memasuki ladang warga yang… panas sekali! Bagusnya ada pohon tomat yang merahnya merona dan membuat air liur hampir menetes. Aku akhirnya berceletuk, “Ini tomatnya seger banget. Boleh diminta enggak ya?” Dan salah satu warga yang kebetulan ada di sana membolehkan kami mengambil beberapa buah tomat yang sedang ranum-ranumnya. Masya Allah, segar sekali!

Oh iya, saat kami turun, banyak pendaki yang baru naik melalui jalur Bremi. Aku sendiri berpikir mungkin tidak akan kuat bila melewati jalur Bremi sebagai jalur pendakian awal karena tracknya yang snagat menanjak pasti snagat menguras tenaga.

Sekitar pukul 14.30 kami sampai di basecamp Bremi. Yeah, akhirnya! Setelah mandi, istirahat, dan jajan-jajan, kami bersiap untuk pulang. Kami sempat makan eskrim sebelum pulang, sungguh nikmat sekali. Sejenak kami melupakan bagaimana cara kami pulang karena kami belum pesan tiket kereta api dan sayangnya semua tiket hari itu dan besoknya habis. Alhasil kami berpikir “Gimana nanti sajalah. Yang penting sampai di Surabaya dulu.”

Pulaaaang!

Kami menumpang mobil pick up warga yang mengantarkan kami sampai ke perempatan daerah Probolinggo. Senja sudah tiba dan kami kelaparan. Kami pun memutuskan untuk makan, tentunya dengan mencari makanan yang murah. Dan mampirlah kami ke kedai makan soto lamongan yang membuat kenyang perut kami yang lapar dan jangan lupa, harganya murah lho. Sayangnya aku lupa nama tempatnya.

Ibu dan bapak penjulanya snagat ramah, mereka tinggal berdua di ruma seklaigus kedai makan. Katanya, “Kami sudah tua, sayang kalau nggak ngapa-ngapain. Jenuh.” Kemudian aku ingat orangtuamu yang hanya berdua di rumah. Si ibu dan bapak aslinya dari Malang dan kejutan sekali bahwa mereka banyak berbagi cerita terutama soal kasha cinta dan anak-anak mereka. Mereka bilang sangat senang kedatangan kami. Katanya kami sudah dianggap seperti anak sendiri yang sedang berkunjung ke rumah orangtuanya. Wah, jadi kangen!

Malam sekitar pukul 8, akhirnya kami memutuskan untuk naik bus ke Terminal Surabaya. Niatnya, kami akan naik bus sampai Purwokerto karena tidak dapat tiket kereta. Sampai di Surabaya sekitar pukul 11 malam dan masih menunggu bus ke Purwokerto yang berangkat pukul 1 dini hari. Suasana terminal pun ramai, kami Cuma menghabiskan waktu dnegan mengobrol saja.

Tepat pukul satu dini hari kami sudah naik bus menuju Jogja untuk transit sejenak karena bus yang langsung ke Purwokerto tidak ada malam itu. Harga tiket bus seperti rata-rata bus pada umumnya, Surabaya-Jogja itu kalau tidak salah Rp 65.000. Oh iya, di Terminal Surabaya ini kami berpisah dengan Surya dan Dhani, karena mereka akan pulang ke Jakarta besok dan malam itu menginap di rumah teman mereka.

Kami sudah menemukan bus yang tepat untuk ke Jogja dan ada kejadian lucu dan memalukan buatku ketika di dalam bus. Aku sudah bilang pada Denden kalau aku mau duduk di sampingnya. Namun kemudian Wisnu juga mau duduk di samping Denden. Aku bilang, “Nu, aku mau duduk sama Denden dong.” Wisnu nggak mau pindah dan akhirnya aku merajuk.

“Uwislah, ngalah karo adine,” begitu kata Mas Okky kepada Wisnu yang akhirnya membuat Wisnu pindah tempat duduk. Hahahaha. Biar saja, aku kan sudah menge-tag Denden duluan. Huh! Akhirnya kami pulang. Bus berangkat pukul 01.30 dan tiba di Jogja sekita pukul 09.30. Terminal Giwangan yang membuatku rindu main ke Jogja.

Kami menyempatkan diri untuk sarapan dulu di Jogja dan melanjutkan perjalanan ke Purwokerto dengan menggunakan bus dari Terminal Giwangan. Di sini, Mbak Megumi dan Mbak Cecil sudah dijemput oleh temannya. Kami bertujuh pun pulang sekitar pukul 11.30 dan tiba di Purwokerto pukul 16.30. Sudah banyak yang menunggu kami di Terminal Bulupitu Purwokerto! Yeah akhirnya sampai di Purwokerto juga. What a wonderful holiday, gaes! I love you!
***

Sekian cerita dari Gunung Argopuro yang merupakan gunung ketiga yang aku kunjungi bersama teman-teman KMPA. Perjalanan ini membuatku belajar banyak hal, baik soal waktu, manajemen, persahabatan, solidaritas, dan pengetahuan lainnya.

Terima kasih banyak kepada Mas Erwin yang sudah mengajak aku mengunjungi tempat yang cukup jauh ini (fyi, ini kedua kalinya aku ke Jawa Timur). Amd big special thanks for my team in this journey: Denden, Wisnu, Kak Edo, Mas Okky, Kak Fita, and for my new friends: Mbak Megumi, Mbak Cecil, Surya, Dhani. Semoga perjalanan ini memberikan banyak pelajaran bagi kita semua.

Sampai ketemu di perjalanan selanjutnya, gaes! Jadi, kapan kita kemana?

Purwokerto, 24 Oktober 2015. 03:20.

Comments

  1. Wauu..Argupuro ada yg bilang perjalanan tak berujung. Tp pemandangannya keren y,,jd ingin bs ke sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbaaak. Seru lhoooo :))
      Silakan coba sensasinya hehee

      Delete
  2. wiihhh seru tuh kayaknya...keren.. udah lama ga naik gunung

    Eh, salam kenal mba afrianti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo kak, jalan-jalan lagi. hehehe
      salam kenal juga kak Fatah :D

      Delete
  3. Danaunya indah ih,pengin foto di sana juga hihihi. By the way, aku belum pernah naik gunung Tiw, padahal waktu masih SMA punya keinginan naik gunung.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)