Thursday, June 4, 2015

[BOOK REVIEW] The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Dissapeared by Jonas Jonasson



Judul: The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Dissapeared
Pengarang: Jonas Jonasson
Penerjemah: Marcalais Fransisca
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 978-602-291-018-3
Tahun Terbit: 2013
Tebal Buku: viii + 508 hlm.


BLURB

Allan Karlsson hanya punya waktu satu jam sebelum pesta ulang tahunnya yang keseratus dimulai. Wali Kota akan hadir. Pers akan meliput. Seluruh penghuni Rumah Lansia juga ikut merayakannya. Namun ternyata, justru yang berulangtahunlah yang tidak berniat datang ke pesta itu.

Melompat lewat jendela kamarnya, Allan memutuskan untuk kabur. Dimulailah sebuah perjalanan luar biasa yang penuh dengan kegilaan. Siapa sangka, petualangannya itu menjadi pintu yang akan mengungkap kehidupan Allan sebelumnya. Sebuah kehidupan di mana—tanpa terduga—Allan memainkan peran kunci di balik berbagai peristiwa penting pada abad kedua puluh. Membantu menciptakan bom atom, berteman dengan Presiden Amerika dan tiran Rusia, bahkan membuat pemimpin komunis Tiongkok berutang budi padanya! Siapa, sih, Allan sebenarnya?
---

"Segala sesuatu berjalan seperti apa adanya, dan apapun yang akan terjadi, pasti terjadi."

Buku dengan judul yang lumayan panjang ini mengisahkan tentang Allan Karlsson, seorang kakek berusia 100 tahun yang memutuskan untuk pergi dari sebuah rumah lansia. Well, perjalanan Allan setelah kabur dari Rumah Lansia diwarnai dengan berbagai hal konyol. Ia dititipkan sebuah koper berisi 50 juta krona dan terpaksa membawanya kabur hingga membuatnya menjadi buronan polisi.

Dalam buku ini, Jonas Jonasson membuat alur maju mundur. Flashback yang diberikan pada pembaca adalah kisah mengenai hidup Allan sewaktu masih muda. Dan yang menyenangkan adalah bahwa Jonas membuat pembaca mengetahui apa yang terjadi dalam rentang waktu 1905-2005. Berbagai peristiwa dunia yang terjadi selama kurun waktu tersebut dihubungkan dengan memasukkan tokoh Allan sebagai poin penting yang memiliki peran. Dan ya, buku ini hampir seperti fiksi sejarah dimana banyak kejadian-kejadian dalam sejarah masuk di buku ini, meskipun dengan tambahan bumbu komedi khas Jonas Jonasson.

Membaca kisah Allan Karlsson kita seakan mengetahui bahwa ada banyak peristiwa di belahan dunia yang dapat kita tahu, terlebih jika kita bukan tipe orang yang suka membaca buku sejarah. Buku ini benar-benar menyuguhkan sejarah dalam sudut pandang lain tanpa mengubah sejarah itu sendiri. Seperti dalam buku ini dikisahkan bahwa Allan berteman baik dengan Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman, yang mana kita tahu bahwa Truman adalah presiden ke-33 AS. Ya, tokoh-tokoh di dalam buku ini memang benar adanya.

Terkejut atau tidak bahwa nama Indonesia masuk di dalam buku ini. Penjabaran mengenai Indonesia bisa jadi menyentil pembacanya. Dalam buku ini diceritakan bahwa Herbert Einstein, teman Allan, menikahi seorang gadis Bali yang kemudian menjadi duta besar di Paris dengan bantuan uang. Sebuah kalimat yang sungguh sangat menyentil, tetapi benar adanya:

Di Indonesia semuanya bisa dijual sehingga siapa saja yang punya uang bisa mendapatkan apapun yang mereka inginkan. (hlm. 359).

Buku ini bukan hanya mengedepankan sisi peristiwa di dunia, namun sisi komedi juga mewarnai buku ini. (Meskipun saya agak kurang paham dengan komedi yang dimaksud di sini. Mungkin selera humor saya rendah.)

Pada intinya, buku ini membuka wawasan saya tentang sisi sejarah yang sebelumnya tidak saya ketahui karena saya memang jarang membuka buku sejarah. Dan buku ini cukup saya rekomendasikan kepada kalian semua. Di akhir cerita sungguh mengejutkan bahwa Allan kembali berlibur ke Indonesia dan... Allan bertemu presiden Yudhoyono untuk membicarakan masalah pembuatan bom atom. Sungguh sebuah epilog yang epic menurut saya. Hahaha. Sekian.

Rate: 4/5.



Purwokerto, 4 Juni 2015. 22:47.

No comments:

Post a Comment