Monday, March 9, 2015

[BOOK REVIEW] The Scorch Trials by James Dashner


Judul: The Scorch Trials
Pengarang: James Dashner
Penerjemah: Meidyna Arrisandi
Penerbit: Mizan Fantasi
ISBN: 978-979-433-657
Tahun Terbit: 2012.
Tebal Buku: 511++ hlm.

BLURB

Selama ini Thomas keliru. Ada dua Maze. Namun, berkebalikan dengan Maze yang dihuninya, Maze lain didiami oleh sekelompok anak perempuan, yang dikenal sebagai Grup B. Bahkan, Teresa yang disangkanya hilang, ternyata justru bergabung di sana. Kini Grup B menantinya dengan tugas khusus: membunuh Thomas! Namun, bukan kematian yang membuatnya jerih, melainkan pengkhianatan Teresa, gadis yang diam-diam dicintainya.

Sementara itu, jumlah para Glader berangsur berkurang. Keadaan di luar Maze lebih mengerikan dari yang mereka duga. Bola baja yang muncul tiba-tiba dari kegelapan, badai gurun pasir yang merajam habis sampai ke tulang, hingga gerombolan Crank haus darah, semakin menciutkan hati mereka. Namun, mereka terus melangkah maju, demi menemukan jawaban dari misteri selama ini, demi menemukan jalan pulang menuju rumah dan keluarga.

Semua kesulitan dan kengerian di Maze barulah awal dari serangkaian proses kejam dan mendebarkan. Berlanjut di Scorch, percobaan baru telah mengadang. Untuk bisa lolos, kali ini mereka tak boleh sekadar bermodal nekat. Diperlukan kecerdikan dan ketajaman insting karena musuh-musuh mereka bersembunyi rapat di balik dinding ilusi.
---

Saya memutuskan membeli buku ini, pada akhirnya, karena seri pertama buku ini, The Maze Runner telah difilmkan. Pada waktu itu saya belum menonton filmnya, sehingga belum bisa menebak ke arah mana cerita ini sesungguhnya. Apakah akan mirip dengan Hunger Games atau bagaimana? Setelah saya menonton film The Maze Runner saya merasmerasa ada sedikit kemiripan dengan film Hunger Games, yaitu bertahan hidup.

Kehidupan Thomas di Maze mengingatkan saya pada cara Katniss bertahan hidup di hutan demi agar tidak terbunuh. WICKED (World in Catastrophe, Killzone Experiment Department)--Dunia dalam Bencana, Departemen Percobaan Wilayah Pemusnahan--dan Capitol memiliki peran yang sama, merancang arena yang dihuni oleh para pemain.

Di Scorch ini, Thomas dan teman-temannya diperintahkan untuk mencari surga yang aman dalam waktu dua minggu. Menelusuri petualang Thomas, saya hanyut dalam rasa penasaran dan seperti bisa merasakan bagaimana jadinya kalau saya ada di posisi tersebut. Kekurangan makan, sinar matahari yang membakar, gurun pasir, gedung-gedung tua, Crank yang mengerikan, dan keinginan untuk bertahan hidup. Bicara tentang Crank, dalam benak saya, Crank begitu mengerikan. Karena di awal buku ini saat Thomas ada di dalam asrama, tiba-tiba muncul segerombolan Crank yang berteriak-teriak di luar jendela. Namun, yang saya temui dalam bab-bab berikutnya penggambaran tentang Crank sungguh agak mengecewakan bagi saya. Crank di sana digambarkan seperti manusia biasa yang hampir gila akibat terjangkit Flare. Saya pikir akan seperti zombie.

Flare. Virus yang menyerang otak. Itulah sebabnya WICKED melakukan percobaan pada Thomas dan teman-temannya. Pada film The Maze Runner, visualisasi penyebaran virus Flare pada manusia terlihat sangat mengerikan. Tubuh manusia yang terkena Flare akan pecah-pecah seperti dataran tanah tandus. Maka dari itu saya berpikir bahwa Crank yang ditemui oleh Thomas akan serupa ini. Ada sih beberapa Crank yang semacam itu yang berusaha mengejar Thomas hanya karena ingin memiliki hidung. Namun, saya merasa ketegangan berkurang karena sesudah bertemu Crank yang menginginkan hidung tersebut, Thomas dan kawan-kawan tak lagi bertemu Crank yang jahat, mereka malah bertemu Crank yang baik yang akhirnya ikut pergi ke surga yang aman tersebut.

Saya sungguh sangat menikmati membaca buku yang seperti ini. Banyak ketegangan di dalamnya. Termasuk usaha untuk negosiasi dengan Crank baik agar mau membantu menunjukkan jalan. Selain itu saya baru saja belajar tentang komunikasi kelompok. Dalam materi yang saya baca, saya menemukan bahwa interaksi antar anggota kelompok biasanya dilatarbelakangi oleh kemiripan dengan dirinya sendiri. Menurut saya, adanya interaksi para Glader dan gadis-gadis dalam Grup B yang baru bertemu di Scorch adalah karena mereka sama-sama merasakan bagaimana hidup di dalam Maze, sehingga ada semacam keinginan untuk berbagi cerita tentang keadaan di Maze mereka masing-masing, juga karena mereka punya tujuan yang sama: mencapai surga yang aman dan menyelamatkan diri.

WICKED is good.

Kata-kata itu muncul berulang kali dan dengan tujuan menyelamatkan kehidupan manusia. Namun, jelas dalam buku ini saya belum melihat dimana kebaikan WICKED yang tega membiarkan orang-orang mati. Memang sih, Flare adalah jenis virus baru yang kemudian diteliti untuk dicari obatnya, tapi dengan membiarkan orang-orang mati demi keselamatan umat manusia dan menjadikan remaja jadi bahan percobaan, dimana baiknya? Baiklah mungkin saya harus membaca seri terakhir buku ini, The Death Cure. Sekian.

Overall 4/5.

Purwokerto, 8 Maret 2015. 21:13..

2 comments: