Sunday, February 15, 2015

[BOOK REVIEW] Harun dan Samudra Dongeng by Salman Rushdie



Judul: Harun dan Samudra Dongeng
Pengarang: Salman Rushdie
Penerjemah: Anton Kurnia dan Atta Verin
ISBN:  978-979-024-363-7
Penerbit: Serambi
Tahun Terbit: 2011
Tebal Buku: 224++ hlm.

BLURB

Ayah Harun adalah pendongeng terhebat yang pernah ada. Kisah-kisah ajaibnya mampu membawa kegembiraan bagi penduduk kota sedih Alifbay. Namun, pada suatu hari yang menyedihkan, sang ayah kehilangan kemampuan mendongengnya.

Harun bertekad mengembalikan bakat mendongeng ayahnya. Dengan bantuan seekor Burung Bulbul ajaib, ia terbang menuju Samudra Dongeng---mengawali sebuah petualangan yang seru dan menakjubkan...

---

Ini cerita dongeng pertama yang saya baca. Sungguh diluar dugaan. Ini benar-benar dongeng yang penuh imajinasi. Dulu saya membaca dongeng hanya pada majalah Bobo sewaktu SD. Dan membaca buku ini rasanya seperti dipaksa mengerti jalan yang ajaib, padahal saya tidak begitu mengerti dengan pikiran "ajaib" macam ini.

Buku Harun dan Samudra Dongeng ini jelas bercerita tentang dongeng. Dari judulnya saja kita sudah bisa menebak bahwa buku ini berisi imajinasi tentang dunia yang ajaib. Dimulai dengan cerita Raja Omong Kosong, sebutan untuk Rasyid Khalifa, ayah dari Harun Khalifa, yang seorang pendongeng paling hebat di kota sedih. Di sini saya sudah takjub dengan penjabaran kota sedih yang selalu terlihat sedih. Salman Rushdie sungguh sangat membuat saya berpikir untuk memahami bagaimana seluk beluk kota sedih itu.

Ayah Harun yang berprofesi sebagai pendongeng juga sering mendapat tawaran oleh para calon pemimpin negeri untuk mengkampanyekan calon pemimpin tersebut dengan dongeng-dongengnya. Tapi suatu ketika, Rasyid tak mampu mendongeng sedikitpun. Hal itu terjadi karena air dongengnya sudah habis. Harun bertemu dengan jin air bernama Jikka dan Burung Bulbul bernama Tappi. Mereka bertiga pergi ke samudera dongeng untuk menyelamatkan ayah Harun agar bisa mendongeng lagi.

Melalui Proses Rumit 'Tuk Diterangkan, Harun lama-kelamaan mengerti tentang seluk beluk samudera dongeng hingga akhirnya ia harus berhadapan dengan Khattam Shud yang ingin mencemari samudera dongeng dan melenyapkan segala dongeng di dunia. Pertempuran pun dilaksanakan. Selain untuk menyelamatkan samudera dongeng, mereka pun harus menyelamatkan Putri Bacheat. Bersama para Halaman-Halaman (semacam tentara di kerajaan Gup) mereka menuju kerajaan Chup tempat Khattam Shud berada.

Pertempuran yang terjadi sungguh sangat membingungkan bagi saya. Kerajaan Chup yang dipimpin oleh Khattam Shud telah berhasil membuat orang berpisah dengan bayangannya. Sehingga yang mereka lawan adalah bayangan, bukan orang asli.

Buku ini memang sangat berisi tentang dongeng, tetapi mengemas unsur politik juga. Intinya sih perang kerajaan juga ada. Ya, bagi saya membaca buku ini menyenangkan. Tapi perlu perhatian khusus karena hanya kurang paham beberapa alur dongeng. Mungkin buku ini cocok untuk anak-anak yang masih jeli untuk berimajinasi. Namun tetap harus didampingi karena anak-anak pasti bertanya beberapa makna di dalam buku ini yang sebenarnya mengandung beberapa pesan moral juga. Saya suka dengan covernya. Sekian.

Overall 4/5.






Cileungsi, 14 Februari 2015. 22:23.

No comments:

Post a Comment