[Book Review] Fangirl by Rainbow Rowell

March 02, 2019


Judul: Fangirl | Pengarang: Rainbow Rowell | Penerbit: Spring| Tahun Terbit: November 2014  | Tebal Buku: 456 hlm. | ISBN: 978-602-71505-0-8


Pernahkah kalian begitu tergila-gila pada cerita fiksi hingga nyaris menyamakannya dengan kehidupan sehari-hari? Membuat fanfiction dari tokoh favorit kalian, membeli banyak aksesoris bertema cerita fiksi tersebut, sampai membuat dunia yang berbeda alur ceritanya dari kisah aslinya? Inilah yang dilakukan Cath sepanjang waktu.

Menjadi remaja yang baru memasuki dunia kampus tentu tidak mudah. Ia seorang yang pemalu dan hanya punya satu orang yang bisa dipercaya: Wren, saudara kembarnya. Namun ternyata Wren memilih untuk "berpisah" dengan Cath ketika di kampus.

Cath tidak tahu harus berbuat apa tanpa Wren. Namun pelan-pelan ia memiliki teman yang mau menerima segala keanehannya.

Ia maniak fiksi. Terutama kisah dari soal Simon Snow yang punya 7 seri dari penulisnya. Dan akan berakhir di seri kedelapan. Cath mau ia membuat ending seri kedelapan dalam fanfictionnya sebelum penulis aslinya menamatkan kisah tersebut.

Menulis fanfiction adalah bagian dari hidupnya. Simon dan Baz  adalah dua tokoh yang jadi poros hidupnya. Sayangnya tak ada yang tau kalau Cath adalah penulis fanfiction yang terkenal itu. Entah kenapa saya menyukainya karena mengingatkan saya pada salah satu novel fantasi yang terkenal sepanjang masa: Harry Potter.

Seperti kebanyakan novel terjemahan, Fangirl juga memberi banyak narasi di dalamnya. Meski awalnya terlihat membosankan (terbukti karena saya lama sekali membaca ini dan meraba-raba ke mana arah ceritanya). Namun, ceritanya mulai asik saat Cath bertemu Levi.

Levi ini adalah pacar—atau tepatnya mantan pacar—teman sekamar Cath, Reagan. Hubungan mereka bertiga akhirnya jadi dekat. Terlebih ketika Levi tertarik pada Cath dan meminta Cath membacakan cerita fanfictionnya.

Adegan membacakan ini menurut saya cheesy sekali, tapi manis. Saya pikir Levi ini seorang disleksia, makanya ia tidak sanggup membaca cerita Cath—bahkan buku-buku kuliah sekalipun—secara langsung. Itu sebabnya, ia selalu meminta Reagan (yang sejurusan dengannya) untuk membantunya belajar.

Konflik antara Cath-Wren-dan Ayahnya juga kentara sekali. Konflik keluarga yang sangat familiar, tapi tetap mengena ke hati saya. Ini bagian mengharu biru sekali ketika dua anaknya sudah dewasa, dan ayahnya harus tinggal sendiri setelah bercerai dengan ibu mereka.

Sejauh membaca buku ini sampai tamat, saya selalu ingin jadi seperti Cath yang apa adanya. Nggak neko-neko, dan punya kemampuan menulis yang oke. Soal Levi, yang bikin saga suka dari karakternya adalah dia nggak memandang segala sesuatu dengan remeh. Dia tau ada sisi lain dari seseorang yang bisa dibanggakan.

Contohnya saat Cath bilang fanfictionnya mentok di satu titik dan terlihat tidak menarik, Levi mau mendengarkannya sampai habis dan bilang itu menarik. Dan soal mobil tua Levi yang antik tapi keren bagi saya. Selera Levi bisa dibilang oke. Hahaha.

Di dalam buku ini kalian akan seperti membaca dua kisah. Kisah Cath dan kesehariannya, dan potongan-potongan kisah fanfiction milik Cath atau potongan dari buku asli Simon Snow.

Dan yang paling menarik memang soal sampulnya yang terlihat sederhana. Kalo soal judulnya, memang benar Cath seorang fangirl dari Simon Snow. Bukan fangirl kokoreaan yaaa. Hehehe.
___

Story behind the review.

Saya mengikuti ulasan Fangirl di grup Klub Bukh Indonesia sudah lama sekali. Tapi baru sempat membaca buku ini baru di tahun 2018. Begitu lamanya buku ini nangkring di rak. Tapi saya merasa tertarik saat ada yang bilang kalau kisah Simon Snow dalam buku itu dimiripkan dengan Harry Potter.

Memang tidak mirip ketika saya baca, hanya saja kesan suasana sihir dan 7 buku yang legendaris itu jadi seakan mirip. Bisa menyelesaikan buku ini tentu jadi prestasi karena sempat mandek beberapa minggu sampai akhirnya melanjutkan lagi hahaha.

Yap, sekian deh. Ratenya? Bintang 4 deh.

You Might Also Like

0 comments