Catatan Perjalanan: Gunung Gede 2958 Mdpl

January 11, 2019

Original picture by Kak Leni
Suatu hari di tahun 2013. Masa dimana menunggu kelulusan itu membosankan. Lalu teman saya membicarakan soal gunung. Sepupu saya membagikan foto di Lembah Mandalawangi. Saya cuma bisa tertegun dan bertanya pada diri sendiri, "Kapan ya bisa ke sana?"

Keinginan tetaplah keinginan. Saya tidak berhasil mengunjungi Gunung Gede sebagai gunung pertama saya. Saya malah dialihkan ke Gunung Slamet yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah. Sampai akhirnya di 2018 saya punya kesempatan itu.

Berawal dari ajakan seorang teman yang saya kenal dari sebuah grup whatsapp Klub Buku Indonesia—teman yang juga saya ketahui sering mendaki gunung—akhirnya saya turut serta ke dalam tim pendakian Gunung Gede. Awalnya saya ragu, sebab saya hanya kenal dengan teman saya ini melalui media chatting, tanpa bertemu sekalipun. Namanya Kak Leni. Bahkan pendakian kali ini sebenarnya rencana milik suaminya dan teman kantornya. Tapi karena saya kadung penasaran dengan gunung Gede, maka saya lanjutkan saja.

19 Oktober 2018.
Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 4 sore ke daerah Mampang sebagai meeting point kami semua. Ya, kami akan berangkat setelah maghrib mengingat hari itu anggota tim lainnya masih bekerja. Kami akan berangkat bertujuh, namun 1 orang di antaranya menggunakan sepeda motor untuk berangkat ke basecamp Cibodas. Jadi, kami berenam yang pergi menggunakan mobil.

Kami berenam: saya, Kak Leni, Mas Pandu (suami Kak Leni), Om Indra dan Mbak Vivi (suami-istri) dan Pak Seno—akhirnya berangkat sekitar pukul 7 malam dari Mampang menuju basecamp setelah berbelanja keperluan logistik.

Kurang lebih 3 jam perjalanan, kami sampai di basecamp pukul 11 karena jalanan cukup ramai dan padat. Sampai di sana, ternyata sudah banyak mobil terparkir. Banyak juga yang akan menghabiskan akhir pekan di gunung. Kami lalu memilih ngopi di warung yang tersedia dan beristirahat untuk memulai pendakian esok pagi.

20 Oktober 2018
Kami kesiangan!

Orang-orang yang mau mendaki sudah berangkat sejak pukul 7. Kami? Jam 9 dong. Lewat jalur Gunung Putri pula. Padahal kami parkir mobil di Cibodas. Ketika saya tanya, alasannya supaya bisa lintas jalur. Saya pun hanya ber-oh saja karena baru pertama kali.

FYI, seharusnya untuk mendaki Gunung Gede, pendaki harus mengisi simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) secara daring melalui website Taman Nasional Gunung Gede. Namun kala itu, kami dibantu oleh salah seorang kenalan Mas Pandu yang bekerja di Taman Nasional. Ya, jadinya kami dipermudah.

Berangkat menggunakan angkot menuju jalur pendakian Gunung Putri, kami harus membayar 25ribu rupiah perorangnya. Cukup mahal juga, tapi memang sih jarak tempuhnya nyaris 30 menit dari basecamp Cibodas.


Basecamp Putri - Pos 1 (±1,5 jam)
Setelah selesai membayar kami berangkat dan langsung berjalan melewati ladang milik warga. Setelah berjalan kurang lebih 10 menit, kami diharuskan melakukan pemeriksaan di pos penjagaan. Sepertinya hanya menyerahkan surat-surat saja.

Selang 10 menit kemudian kami sampai lagi di pos pemeriksaan lanjutan. Di sini kami diperiksa sampai ke dalam isi tas dan carrier. Benda-benda yang bisa menjadi sampah harus ditinggalkan, terutama tisu basah. Sangat dilarang membawa tisu basah ke area Gunung Gede. Ya, saya sih percaya saja karena memang sampah utama di gunung itu lebih banyak tisu basah.

Melanjutkan perjalanan, ternyata ada banyak warung yang didirikan oleh warga di sepanjang jalur. Saya sendiri sempat kaget melihat keberadaan warung itu. Gunung yang biasanya sepi, kini malah bisa jadi tempat nongkrong.


Memang sih, adanya warung ini memudahkan banyak pihak. Warga bisa mendapatkan penghasilan dan pendaki tidak perlu repot membawa logistik yang banyak. Tapi eksploitasi semacam ini bikin saya enggak nyaman, meski bisa dibilang warung menjadi suatu kemudahan.

Sampai di pos 1, kami memutuskan untuk istirahat sejenak. Ramai sekali di sana.

Pos 1 - Pos 2 - Pos 3 (15 menit + 1 jam)
Jaraknya ternyata lumayan dekat. Kami pun hanya istirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanan sampai di Pos 3 untuk makan siang. Sepanjang jalur tak ada yang bisa saya ceritakan selain ramai dan macet karena harus berjalan satu-satu.

Jalur pendakiannya sendiri cukup ramah dan banyak pula pendaki yang beristirahat di warung-warung. Hm, jangan ditanya, bau pop mie yang menguar itu menggoda sekali. Tapi saya menahan diri untuk jajan karena kami masih membawa logistik yang cukup untuk makan siang.


Pos 3 - Pos 4 (1 jam 35menit)
Setelah istirahat makan siang selama ±1 jam, kami melanjutkan perjalanan yang semakin sulit dikondisikan. Baik dari segi jalur sampai jalannya pun harus antre, kami terus berjalan. Pos 4 terasa sangat jauh dari bayangan.

Hampir menyerah, ada plang penunjuk arah yang hanya bertuliskan "Pos Bayangan". Duh, kapan sampainya ya? Rasanya kaki sudah pegal dan takut tidak keburu sampai di alun-alun Suryakencana tepat waktu.

Jalan perlahan, sesekali berhenti untuk mengatur napas. Akhirnya pos 4 yang berlahan sempit dan di sebuah jalur yang miring sudah di depan mata. Ramainya jangan ditanya, saya sampai pusing melihat keramaian di sana. Dan tentu saja ada warung yang berdiri di sana dan menjual gorengan hangat. Lagi-lagi saya hanya menahan diri.

Pos 4 - Alun-Alun Suryakencana (±30 menit)
Jalur sudah semakin berbatu. Cuaca mendung menyelimuti. Kabut turun sedikit-sedikit. Ketakutan saya mulai bertambah. Takut kehujanan, takut kemalaman, takut tersesat. Dengan sebegitu banyaknya orang yang berjalan, saya berusaha mendahului. Ingin lebih cepat sampai, sebelum gelap.

Sepanjang perjalanan, saya selalu berjalan bertiga dengan Mbak Vivi dan Mas Yudi. Empat anggota tim lainnya berjalan jauh di belakang. Kami berniat untuk menunggu di Suryakencana sembari mendirikan tenda terlebih dahulu. Sehingga ketika mereka datang, semua sudah siap.

Gerimis berkali-kali turun dan berhenti. Sampai akhirnya kami tiba di Alun-Alun Suryakencana, hujan turun cukup deras. Kami memutuskan untuk berteduh di salah satu warung dan memesan minuman hangat sambil menunggu hujan reda.

Suryakencana benar-benar menakjubkan. Padang luas yang mengingatkan saya di sabana ketika berada di Argopuro. Meski tidak sama persis sih.


Ketika hujan sudah cukup reda kami langsung mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Kami memilih tempat di dekat sumber air agar bisa mengambil air dengan mudah. Saya, Mbak Vivi, Mas Yudi, dan Om Indra akhirnya mendirikan tenda di dekat jalur ke puncak.

Malam mulai turun, dingin menyerbu, tapi tiga teman lain belum juga kelihatan batang hidungnya. Akhirnya Mas Yudi memilih turun kembali untuk menyusul 3 teman kami, yaitu Kak Leni, Mas Pandu, dan Pak Seno. Sedangkan kami bertiga memilih menyiapkan makan malam.

Pukul 8 malam, Kak Leni, Mas Pandu, Pak Seno, dan Mas Yudi sampai ke tenda. Ternyata di perjalanan mereka harus terlebih dahulu membantu seorang pendaki yang terkena hipotermia (beserta drama-drama romansa si pendaki yang ditinggal oleh pacarnya). Kami makan malam dengan menu ayam goreng dan sambal yang sungguh nikmat.

Kiri ke kanan: Kak Leni, Mas Pandu, Mas Yudi, Om Indra, Pak Seno, saya, Mbak Vivi.

21 Oktober 2018
Alun-Alun Suryakencana - Puncak  (±1 jam)

Pukul 9.45 kami baru siap berangkat menuju puncak. Memang kesiangan sih, tapi kami juga tidak berniat mencari sunrise di puncak. Melihat matahari terbit di Suryakencana sudah lebih dari cukup. Namun, banyak juga pendaki yang tidak lintas jalur baru turun dati puncak melewati tenda kami.

Perjalanan ke puncak cukup menguras energi juga. Treknya terbilang cukup seru, dengan jalan agak berbatu yang dikelilingi oleh pepohonan. Rasanya mirip ketika berjalan di jalur Gunjng Slamet sewaktu dulu atau mirip dengan jalur di Gunung Kerinci. Saya bolak-balik berhenti karena sering nyaris kehabisan napas.

Menuju puncak!

Hampir pukul 11 siang, kami sampai di puncak yang ternyata sudah sangat ramai seperti pasar. Ada dua warung yang berdiri di puncak. Sungguh pemandangan aneh bagi saya yang berharap bahwa puncak akan sepi dari atribut warung semacam ini. Mengingatkan saya pada Gunung Ungaran dimana kamu bisa membuka tenda di puncaknya.

Istirahat kemudian foto-foto di tugu puncak menjadi salah satu kegiatan kami. Kak Leni pada akhirnya pun tidak tahan dengan aroma pop mie yang menggoda. Hahaha. Tepat tengah hari, kami memutuskan turun ke Kandang Badak dan akan memasak makan siang di sana.

Yeay puncak!

Puncak - Kandang Badak  (±1,5 jam)
Perjalanan turun dari puncak ke Kandang Badak terbilang cukup panjang. Meski pemandangannya sangat cantik. Kamu bisa melihat kawah dari Gunung Gede serta Gunung Pangrango yang berdiri gagah di sebrangnya. Mengingatkan saya pada puncak Merapi kala itu.

Partner perempuan yang strong!

Turun ke Kandang Badak juga cukup menguras energi. Jalur turunan yang berbatu malah membuat kaki saya cepat lelah dan pegal. Sudah bisa dipastikan jika ujung kaki saya akan mengalami lecet seperti biasanya. Sebab, ketika turun, kakimu harus menahan bobot tubuh dan menyebabkan ujung kaki menumpunya di sepatu.

Seperti biasa, saya, Mbak Vivi, Mas Yudi, dan Om Indra sampai terlebih dahulu di Kandang Badak. Setelah mengambil air, kami langsung memasak makanan yang tersisa di perbekalan kami: spaghetti. Udah kayak orang bener makan siang cuma spaghetti. Tapi ternyata ada rombongan lain yang juga memasak menu yang sama seperti kami.

Usai makan siang, kami lanjut bergegas, sebab perjalanan masih panjang dan kami tidak ingin kemalaman.

Kandang Badak - Basecamp Cibodas (±3 jam 40 menit)
Perjalanan turun terasa semakin berat saja. Jalur berbatu ini rasanya nggak habis-habis. Membosankan sekali. Saya sempat berpikir kenapa jalunya malah dibuat berbatu ya? Padahal sangat melelahkan dan menyakitkan untuk kaki.

Di perjalanan kami menemukan turunan setan. Yap, turunan yang sangat terjal dan mengharuskan kamu berpegangan pada tali seperti mau rappeling. Saat kami melihatnya, ada antrean untuk turun yang cukup memakan waktu. Satu orang yang turun bisa memakan waktu 5-10 menit. Akhirnya Mas Yudi mengajak kami melewati jalur lain. Alasannya agar lebih cepat.

Sepanjang jalan, kami berjalan bertiga. Namun ketika sudah setengah perjalanan ternyata Mas Yudi sudah tidak terlihat lagi. Akhirnya hanya saya dan Mbak Vivi. Sisa romhongan ada di belakang entah berapa menit jauhnya. Ya sudah, daripada kemalaman menunggu, kami terus berjalan dan memilih untuk menunggu rombongan di basecamp saja.

Ada satu hal yang membuat saya ngeri, kami melewati jalur air terjun panas yang sungguh membuat saya berhati-hati sekali. Jalurnya kecil, licin, dan berdekatan dengan jurang. Selain itu, hanya ada tali pembatas. Saya tidak membayangkan bagaimana jika melewatinya pada malam hari. Sore hari saja saya nyaris terpeleset. Ngeri sekali membayangkan jika sampai jatuh ke jurang. Hiiii....

Hari sudah nyaris gelap ketika saya dan Mbak Vivi melewati jembatan panjang yang terbuat dari batang pohon yang besar-besar. Saya pikir mungkin basecamp sebentar lagi. Sebab biasanya kalau sudah ada jembatan, berarti sudah dekat dengan pemukiman warga.


Ternyata saya SALAH BESAR....

Kami belum sampai....

Masih jauh....

Hari sudah gelap sepenuhnya. Saya memilih menyalakan senter karena jalanan berbatu semakin membuat sakit kaki saya. Pikiran saya sudah tidak karuan. Ingin lekas sampai. Kaki saya berkali-kali tersandung karena saking lelahnya. Kalau bisa dilepas, ingin saya lepas kaki untuk sementara.

Hampir setengah 7 malam kami sampai basecamp. Karena sudah lelah, kami lupa melapor ke pos jaga. Lalu turun begitu saja ke parkiran. Mas Yudi sudah sampai sejak pukul 5 sore dan langsung pulang karena ada urusan.

Kami harus menunggu anggota tim lainnya. Saat mendapat kabar bahwa Om Indra terkena cedera kaki, kami akhirnya memutuskan kembali ke pos jaga dan menunggu di sana. Ternyata masih banyak pendaki yang baru turun. Sekitar pukul 10 malam akhirnya 4 anggota tim lainnya sampai dengan selamat di basecamp.

Lalu kami langsung tancap gas ke rumah.
___


Inti dari perjalanan ini adalah akhirnya saya menemukan teman baru. Suatu hari nanti bisa diajak ngetrip bareng lagi. Semoga sehat-sehat semuanya dan rezekinya lancar. Aamiin.


Cileungsi, 9 Januari 2019.

You Might Also Like

4 comments

  1. asli ya, gunugn gede ini lumayan deket lah jarraknya dari rumah, tapi pendakian pertama bukan ke sini. haha. kapan2 bareng dong. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang dekat belum tenti terjamah, tapi yang jauh selalu dikejar. Hahaha.

      Yuk nanti kalo kesana lagi aku kabarin deh yaa. :D

      Delete
  2. Wohem, teringin aku nanjak lagi :3 jadi, Gunung Gede ini bisa dibilang lumayan ramai warung ya ka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanjak dongggg. Hehehe.
      Iya ramai banget. Aku sampe kaget karena orang2 pada jajan hahaha. Ada jual nasi uduk pula.

      Delete