[NULIS KAMISAN] S04E04: KERETA

November 08, 2018



PERON
Gerbong 3 dan cerita cinta yang tak monoton.
---


Hujan lagi. Tampaknya esok hari aku harus benar-benar membawa payung, meski aku tahu di dalam jok motorku ada jas hujan yang siap dipakai. Tapi... tidak mungkin kan aku memakai jas hujan ketika berjalan kaki menuju stasiun? Apa kata orang-orang nanti? Memang lebih afdol kalau pakai payung.

Suara hujan yang semakin deras membuatku tertahan di lobi kantor. Meski jarak kantor dan stasiun hanya beberapa menit berjalan kaki, aku tidak ingin basah kuyup ketika sampai di sana. Belum lagi berada di dalam kereta yang padat penumpang. Seketika kepalaku pening.

Ponselku berdering. Ramon.

"Halo?"
"Sudah pulang?"
"Belum. Lagi hujan."
"Yaudah, tunggu hujannya reda."
"Iya."
"Hati-hati, Sayang."
"Iya, kamu juga."

See? Itu kekasihku. Kami sudah hampir 3 tahun menjalani hubungan ini. Dia orang yang baik dan bertanggung jawab. Tidak pernah ada yang salah dengan dirinya. Semua yang ia lakukan terasa benar di mataku. Kalau aku terlalu kekanakan, ia bisa bersikap dewasa dan memaklumiku. Kalau aku manja, ia lebih bisa memanjakanku. Itu sebabnya hubungan kami baik-baik saja sampai sekarang.

Senang? Tentu saja. Siapa yang tidak senang punya kekasih pengertian seperti dia? Hanya saja... hubungan ini terasa begitu monoton.

Langit sudah tak begitu kelabu. Hujan berubah jadi gerimis yang membingungkan. Diterobos tetap basah, tak diterobos sepertinya lama redanya. Akhirnya aku memilih berlari menuju stasiun dan menutupi kepalaku dengan tas tangan.

Stasiun tak pernah sepi dari penumpang, terutama di jam pulang kantor semacam ini. Rasanya aku memang tidak pernah menemukan kondisi stasiun yang sepi, walaupun itu akhir pekan dimana orang-orang dominan libur.

Orang-orang berlalu lalang di depanku dengan berbagai macam kerumitan di pikiran mereka. Salah satu keahlianku adalah memperhatikan wajah-wajah mereka dengan seksama. Wajah-wajah lelah yang berusaha tabah, wajah-wajah bahagia bertemu hujan, atau wajah-wajah antusias karena bersisian dengan seseorang. Aku menghela nafas panjang. Berusaha membuang segala macam penat yang ada di pikiranku.

Aku sengaja berdiri di peron 3 agar bisa langsung masuk ke gerbong favoritku. Kereta menuju arah Bogor dari Stasiun Tebet. Berdesakan adalah rutinitas yang biasa kulakukan. Dari mulai kereta penuh sampai nyaris kosong ketika sampai Bogor. Aku menikmatinya.

18.50
Jam pulang kantor memang belum usai. Terlihat dari gerbong kereta yang penuh sesak di dalamnya. Seorang laki-laki bersweater yang duduk di kursi prioritas mempersilakanku duduk, namun ternyata di belakangku ada seorang ibu sedang menggendong anak. Maka, kupersilakan ibu itu duduk di sana. Kulihat laki-laki itu nyengir. Aku beranjak menyingkir dan berdiri di dekat pintu.

"Padahal tadi niatnya mau kasih kursi buat kamu," katanya yang kini berdiri di seberangku. Tepat di depan pintu.

"Ada yang lebih butuh daripada saya." Aku tersenyum kemudian mengalihkan wajahku ke luar pintu. Malam hujan dengan kerlap-kerlip lampu kota. Itu pemandangan yang selalu aku sukai ketika berada di dalam kereta.

Berada di dalam kereta seperti dibawa menjelajahi waktu. Bunyi mesin kereta yang cepat membuatku ingin pergi ke suatu tempat untuk bisa mengurai pikiran yang rumit. Kejenuhan yang melambung terlalu jauh sampai aku tidak bisa lagi mengembalikannya pada posisi semula.

Semesta bicara tanpa bersuara
Semesta ia kadang buta aksara
Sepi itu indah, percayalah
Membisu itu anugerah★

"Turun dimana, Mbak?" suaranya membuyarkan lamunanku.

"Ha? Oh, eh, di Bogor. Kamu?"

"Saya di Depok. Oh, ya, saya Ryan." Ia mengulurkan tangan ke arahku. Sejenak aku menatap tangannya sebelum akhirnya menyambut uluran tangan itu.

"Risa." Aku tersenyum sopan.

Percakapan kami berlanjut hingga ia turun di stasiun Depok dan aku masih melanjutkan perjalananku sampai di Bogor. Meski menanggapinya dengan seadanya, aku tahu Ryan orang yang baik. Ya, baik... dan menarik. Ada sesuatu yang menjadi daya tariknya saat mengobrol tadi. Aku tahu, ketika aku melamun mungkin ia sedang berusaha membacaku. Membaca raut wajah rumitku yang kusut masai.
***

Kali ini belum hujan. Aku bergegas menuju stasiun sebelum hujan turun. Seperti biasa, aku berhenti dan menunggu di peron 3. Entah mengapa aku sangat menyukai peron ini—yang kebetulan angkanya merupakan angka favoritku.

Stasiun masih ramai seperti hari-hari biasanya. Masuk ke dalam gerbong dengan berdesakan, aku berusaha menyingkir agar tidak begitu terdorong ke tengah. Tiba-tiba saja seseorang menarik tanganku ke arah pintu yang sudah tertutup sepenuhnya. Aku berusaha melepaskan diri dari cengkeraman itu. Tahu sendiri kan bagaimana pelecehan seksual bisa terjadi di dalam kereta?

Ketika akhirnya aku berada di sudut favoritku—di dekat pintu, barulah aku sadar kalau ia ada di sana. Lelaki yang kemarin berbincang denganku.

"Sorry, tadi saya yang narik tangan kamu. Soalnya kasian juga kejepit di tengah orang begitu. Maaf ya." Kemudian ia nyengir dan menampakkan barisan giginya yang rapi.

"Oke, no problem." Aku berusaha membuang pikiran buruk yang sempat mampir beberapa menit yang lalu.

Kami berdiri berhadapan dengan hening. Hanyut di pikiran masing-masing ketika hujan turun dengan derasnya.

"Suka Banda Neira nggak?" Ia bertanya tiba-tiba.

"Ha?"

"Banda Neira, suka nggak?"

"Oh. Pernah denger namanya, tapi belum pernah denger lagunya." Aku berusaha jujur dan tersenyum sopan.

"Dengerin, deh." Ia memberikan satu earphonenya kepadaku. Ragu, aku hanya menatapnya dan earphone itu bergantian. "Coba dulu."

Aku mengambilnya dan memasangnya di telingaku. Ada suara yang kukenal. Ya, aku memang pernah dengar beberapa lagunya, tapi tidak pernah ingin mencari tahu judulnya. Namun yang satu ini... terasa asing.

"Judulnya Hujan di Mimpi," katanya seakan bisa membaca pikiranku.

Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari★

Ketika sedang asik mendengarkan lagu dari ponselnya. Suara yang kudengar berbeda—bunyi dering telepon.

"Halo, Sayang?"

Suara perempuan. Aku dengan tahu diri melepas earohone-nya dari telingaku dan mengembalikan padanya. Tatapan matanya berkata seolah-olah meminta maaf kepadaku. Aku pun membalasnya dengan ekspresi semacam, "Santai saja", lantas mengalihkan pandanganku ke luar pintu.
***

Setiap hari aku berdiri di peron yang sama. Setiap hari aku memasuki gerbong yang sama. Dan setiap hari pula aku bertemu dengannya dengan tampilan yang nyaris sama: hoodie hitam dan ransel berwarna senada. Tidak pernah kuniatkan untuk berhubungan sejauh ini dengannya. Tetapi lagi-lagi, aku kalah dengan pikiranku sendiri.

Setiap hari, perjalanan kurang dari 1 jam menjadi waktu-waktu yang menyenangkan bagiku. Bahkan lebih menyenangkan ketika bertemu dengan Ramon. Aku tahu ini salah, tetapi aku tidak ingin kehilangan rasa nyaman saat berbincang dengannya meski cuma 40 menit setiap harinya.

Posisi kami memang serba salah. Kami cuma dua orang yang bertemu di kereta dengan tidak sengaja. Kami tidak pernah bertemu di luar stasiun dan gerbong kereta. Kami bahkan tidak bertukar nomor telepon atau media sosial. Kami tidak tahu nama lengkap masing-masing. Dan kami sama sekali tidak tahu identitas diri di luar daripada nama panggilan kami.

Kami hanya dua orang yang bertemu di dalam gerbong, mengakrabkan diri dengan mengobrol dan menaruh rasa nyaman satu sama lain. Kami cuma tahu arah pulang masing-masing tanpa tahu alamat lengkap. Kami cuma mendengarkan lagu-lagu Banda Neira bersama. Kami tahu ada hati yang harus kami jaga masing-masing.

Aku tahu ia punya kekasih dan ia pun tahu aku punya kekasih. Itu sebabnya kami—aku membatasi diri untuk tidak terkait terlalu jauh dengannya. Meski ia pernah mengatakan hal yang membuat pipiku menghangat saat hujan waktu itu.

Semesta bergulir tak kenal aral
Seperti langkah-langkah menuju kaki langit
Seperti genangan akankah bertahan
Atau perlahan menjadi lautan★

"Kamu ternyata menyenangkan ya."

Ya, hanya kalimat itu dan aku senang bukan main.

"Hei, tumben udah ada di stasiun." Suara itu. Aku menoleh ke sumber suara dan menemukan sosoknya yang berpakaian seperti biasanya.

"Eh, iya. Biasa, Jum'at pulang cepet." Aku menghela nafas lagi. Aku belum siap dengan kondisi ini. "Hei..."

"Apa?"

Aku menatapnya, tapi tak juga berani mengatakannya. Bagaimana bisa aku menghancurkan zona nyaman yang baru kutemui ini? Tapi ini tak boleh berlanjut kan?

Tiba-tiba ia menarik tanganku ke dalam gerbong. Bahkan saking gugupnya aku tidak mendengar kalau kereta tujuanku sudah datang. Lelaki ini benar-benar memberikan rasa nyaman yang berbeda, tapi aku tahu ini tidak boleh diteruskan.

"Tadi mau ngomong apa?" Ia bertanya lagi.

Aku harus bisa memberitahunya.

"Aku resign hari ini...." suaraku menggantung di tenggorokan.

"Kenapa?" sambarnya. Aku menunduk, tak berani menatap matanya.

"Minggu depan aku menikah. Jadi... mungkin ini pertemuan terakhir kita." Akhirnya aku mengatakannya.

"Wow! Selamat, ya." Ia mengulurkan tangannya ke arahku. Aku mendongak dan menatapnya tidak percaya.

"Terima kasih." Aku menyambut uluran tangannya. Ini persis seperti awal saat kami berkenalan waktu itu.

"Tunggu, aku juga punya kabar untukmu. Mungkin seharusnya tak kuberitahu sekarang sih. Tapi ya sudahlah. Em... aku juga akan menikah." Tangannya masih menggenggam tanganku. Saat aku membuka bibirku, ia sudah menjawab seakan tahu isi pikiranku. "Bulan depan."

"Oh. Iya. Selamat juga ya. Semoga kamu bahagia."

Mungkin ini memang yang terakhir. Hari terakhir kami bertemu dengan membawa kabar masing-masing. Kami mengakhirinya meski tanpa pernah berniat untuk memulainya.

"Hei, mau dengar lagu bersama? Untuk yang terakhir," tawarnya. Aku mengangguk setuju.

Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari★

Beberapa hal memang ditakdirkan hanya untuk menumpang lewat. Rasa nyaman yang kami punya ibarat sebuah persimpangan. Hidup harus tetap berjalan, kan, meski setiap hari kita melalui persimpangan itu? Pada akhirnya cerita ini hanya jadi seperti stasiun, dimana kami adalah keretanya. Singgah sementara, tetapi tetap melanjutkan perjalanan. Hari itu adalah yang terakhir dan kami memang tidak pernah bertemu lagi setelahnya.[]

★ Lagu berjudul Hujan di Mimpi oleh Banda Neira


Kamar,
6 November 2018. 00:39

You Might Also Like

0 comments