Saturday, October 14, 2017

#TemanTapiMenikah 2 by Ayudia Bing Slamet & Ditto Percussion


Judul: #TemantapiMenikah 2 | Pengarang: Ayudia Bing Slamet & Ditto Percussion | Penerbit: Elex Media Komputindo | Tahun Terbit: 2017 | Jumlah Halaman: 216 hlm. | ISBN: 978602444505| Harga: Rp 72.800,-

Lagi. Membaca buku ini serasa membaca kehidupan mereka—Ayudia dan Ditto—di dunia nyata. Buku ini memang autobiography yang mereka tulis bersama. ‘Buku Hijau’ yang merupakan buku lanjutan dari ‘Buku Kuning’ ini ternyata lebih menyenangkan. Saat promosi preorder mulai dilakukan, saya nggak mikir dua kali buat langsung pesan. Kenapa? Ya, karena saya terlanjur jatuh cinta sama Sekala, anak mereka. 

Banyak ulasan di Goodreads yang bilang kalau buku ini lebih asik dibanding buku pertamanya dan saya menyetujui hal tersebut. Di buku kedua ini, hubungan Ayu dan Ditto memang sudah masuk ke tahap pernikahan dan berumah tangga. Nggak heran kalau akhirnya buku ini jadi lebih emosional. Ditambah lagi cerita-cerita khas pasangan muda yang baru menikah, masih ingin senang-senang, tapi kemudian malah harus mengurusi kehamilan. Sungguh problematika yang tidak mudah.

Saya pikir, sebelum membaca buku ini, kelahiran Sekala adalah sebuah hal yang sudah direncanakan. Ternyata, sama seperti pasangan muda kebanyakan, menikah adalah untuk mendapatkan kegiatan pacaran yang halal. Well, nggak salah juga sih, tapi ya masa udah menikah nggak mau punya anak? Ya, kan?

Apa yang membuat saya bahagia membaca buku ini adalah… Ditto itu punya karakter suami idaman. Kocak, perhatian, sabar, meski kadang nyebelin dan nggak peka juga. Hampir di sepanjang buku ini menceritakan kehidupan mereka setelah menikah, terutama menghadapi kehamilan Ayu yang tidak terencana itu. Saya yang baca aja sampe berkali-kali bilang, “Yaampun Ditto sabar banget ngadepin Ayu yang manja gara-gara hormon kehamilan. Apa kabar suami gue nanti?” Hahaha.

Di luar itu semua, sampul buku ini juga cukup sederhana. Nggak pake gambar kayak buku pertamanya. Cuma tulisan judul dan nama penulisnya saja, serta tempelan ‘autobiography’ gitu doang. Bagi saya sih ini udah cukup kece. Kerennya lagi, di dalamnya nggak Cuma tulisan, tapi diselipkan quotes dan foto-foto mereka. Dan… tentu saja foto Sekala sejak bayi sampai sekarang ada di halaman terakhir. :3

Buku ini kan memang ditulis oleh dua orang, sehingga gaya berceritanya juga disesuaikan. Setiap bab kita akan disuguhkan cerita dari sudut pandang Ditto dan Ayu secara bergantian. Sayangnya, di buku ini hampir seringkali mengulang kata-kata atau kalimat yang sama, misal “Ya, karena kami udah temenan lama, jadi pasti komunikasinya enak, bla bla bla.” Hey, I know you both are bestfriend, tapi pengulangan itu dirasa sangat-sangat tidak perlu. Gitu aja sih.

Masalah bisa dihadapi jika setiap pasangan bisa menjalin komunikasi yang baik. Saling mendengarkan dan terus mencoba saling memahami dan saling menerima. (Hlm. 14).

Quotes itu saya pilih secara pribadi karena saya sangat setuju. Komunikasi itu penting. Makanya saya jadi Sarjana Ilmu Komunikasi, eh nggak ding, maksudnya setiap masalah yang dibicarakan aja kadang belum tentu bisa selesai, apalagi yang nggak dibicarakan, kan? Bubar aja udah. Jadi, saya ingin sekali bisa membicarakan segala macam permasalahan yang saya miliki dengan orang lain, siapapun itu. Semoga saja bisa.

Yak, sekian review singkat dan curhatnya dari saya. Jangan lupa menikah, ups! Hahaha.
RATE: 3,5/5

Cileungsi, lelah tapi rindu.
15 Oktober 2017. 20:04.

2 comments:

  1. Sarjana Ilmu Komunikasi itu njamin komunikasinya bagus gak sih? Katanya kan komunikasi itu kunci suatu hubungan. Jadi gak bakal putus sambung, gak sih?
    Teman tapi menikah...pengen beli bukunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung individunya kak. Meski pada dasarnya mahasiswa ilmu komunikasi itu memang belajar soal komunikasi, tapo kalo gak dipraktikkan ya sama aja gak bisa jadi komunikatif. Hehe

      Nah kalo soal putus sambung ini juga balik lagi ke kedua orang yang menjalani hubungan itu.

      Silakan dibeli, masih fresh banget ini buku :)

      Delete