Entrok dan Pemikiran Maju Perempuan


Judul: Entrok | Pengarang: Okky Madasari | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Tahun Terbit: April 2010  | ISBN: 9789792255898 | Harga: Rp 50.400,- (Saya beli obralan 15.000 kalo nggak salah).

Membeli buku ini adalah keputusan yang tepat setelah beberapa kali menundanya. Melihat sampulnya yang aduhai membuat saya mengurungkan niat untuk membeli, selain harganya yang masih kurang ramah di kantong pada saat itu meskipun sudah masuk meja obral. Sampai akhirnya ada seorang teman yang menawarkan buku ini dengan setengah harga, tapi bukunya berada jauh di Medan sana. Hm, baiklah, saya merelakan membayar ongkir yang agak lebih mahal dari bukunya. Terima kasih jasa pengiriman online, saya sungguh merasa teraniaya. Ups!

Entrok? En-trok? Apa, sih, ini? Melihat sampulnya harusnya kamu tahu apa yang dimaksud dengan entrok. Yup, entrok itu nama lain dari bra, BH (Breast Holder atau Buste Hounder--bahasa Belanda), atau pakaian dalam wanita, dalam bahasa Jawa. Sejujurnya saya sendiri baru mendengar kata ini setelah membaca bukunya. Apa sebab gerangan? Mungkin entrok adalah bahasa Jawa lama yang sudah jarang digunakan. Saya bahkan ragu apakah ibu saya akan paham bahwa kata entrok ini merujuk pada sebuah bra. Entah memang kata ini sudah tidak digunakan lagi atau memang jaman sekarang lebih asyik menggunakan kata bra atau BH yang lebih populer. Mungkin saja.

Buku ini bercerita tentang dua orang yang berbeda menggunakan sudut pandang orang pertama. Membacanya sama sekali tidak membuat saya bingung. Hanya di prolog yang mampu membuat saya berpikir tentang apa yang terjadi antara ibu dan anak ini.

Tokoh utama dalam buku ini bernama Sumarni dan Rahayu (anaknya). Mereka secara bergantian bercerita dalam tiap bab melalui sudut pandang yang berbeda. Pada bab 1, Sumarni akan bercerita, kemudian bab 2, Rahayulah yang akan bercerita. Jujur saja, saya masih bisa menikmati alur dan gaya penceritaan semacam ini. Pun dengan keseluruhan isi cerita yang mengambil setting waktu zaman pasca merdeka. Rasanya, saya jadi paham dengan sangat mudah apa yang terjadi kala itu, meskipun deskripsinya hanya dari salah satu pihak.


PEMIKIRAN MAJU SEORANG PEREMPUAN

Judul buku inilah yang kemudian menjadi titik poin sebagaimana saya sebut sebagai pemikiran maju seorang perempuan. Entrok, pada tahun 1950-an adalah barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh kelas menengah ke atas. Sumarni yang kala itu berumur 13 tahun sudah mulai merasakan perbedaan yang dialami oleh tubuhnya. Ya, payudaranya sudah mulai tumbuh. Ia merasa risih karena dadanya tidak disangga oleh apapun, hanya kain kemben saja. Kegelisahan itu ia katakan pada ibunya, namun ibunya hanya tertawa dan menyuruhkan tidak perlu memikirkannya lagi. Sebab, mereka tidak punya cukup uang untuk membeli entrok.

Sumarni dan ibunya hanya kuli kupas singkong di pasar. Upah dari pekerjaan mereka juga bukan berupa uang, namun hanya singkong. Berbeda dengan kuli laki-laki yang diupahi dengan uang. Mengetahui hal itu, Marni yang punya keinginan untuk membeli entrok berusaha menjadi kuli panggul untuk mendapatkan uang. Meskipun dianggap 'keluar' dari kebiasaan setempat, ia tetap melakukannya demi bisa membeli entrok.

Keinginannya tersebut ternyata menghasilkan tindakan yang mendobrak sekat-sekat budaya yang hodup di masyarakat. Terlepas dari pemikirannya yang sederhana, Marni hanya ingin bagaimana kerja kerasnya bisa menghasilkan uang, bukan hanya sebatang singkong sebagai upahnya.

Kebiasaan di pasar, buruh-buruh perempuan diupahi dengan bahan makanan. Beda dengan kuli laki-laki yang diupahi dengan uang. (hlm. 22)

Setelah keinginannya tercapai, ia sempat kebingungan. Uang yang ia miliki sekarang cukup banyak, hingga akhirnya ia memutuskan intuk berdagang sayuran keliling. Suatu hari, ia dilamar oleh seorang kuli panggul pasar, Teja, yang sudah dikenalnya. Marni saat itu berpikir untuk menolak lamaran Teja karena ia ingin menjalankan usahanya dulu. Namun, budaya tetaplah budaya, ia harus menurut ketika akan dinikahkan meskipun ia menolak. Setelah menikah, Marni tetap berdagang sayur keliling, sedangkan Teja berhenti jadi kuli panggul dan hanya membantu Marni berkeliling menjajakan dagangan.

Saya hampir-hampir ingin memaki ketika membaca bagian ini. Bagaimana bisa seorang lelaki yang menikahi perempuan kemudian hanya ikut membantu istrinya mencari nafkah? Bukankah seharusnya suami tetap mencari nafkah meskipun istrinya juga membuka usaha? Halo, ini kok bodoh banget, ya? Seolah-olah si Teja ini malah "numpang nafkah" sama si Marni tanpa melakukan apapun. Hih!
---

Buku ini juga bercerita bagaimana para petinggi negara yang memiliki kekuasaan berlaku semena-mena terhadap rakyat kecil, mulai dari memeras, sampai mengancam mereka untuk memilih salah satu partai. Iya, zaman itu kan semuanya serba otoriter. Siapa yang melawan, dia akan ditawan. Maka semua orang sebisa mungkin mengikuti apa maunya negara dan pemerintahannya.

"Pernahkan kalian bicara sesuatu kepada seseorang tapi diabaikan begitu saja, didengar pun tidak? Seperti itulah rasanya saat ini. Manusia membuat koran untuk memberitahu orang apa yang terjadi. Untuk membantu orang-orang yang tidak bisa bersuara. Koran bisa membuatnya berteriak, bisa didengarkan. Tapi apa ini? Didengar pun tidak. Semua sia-sia. Tak ada gunanya lagi aku bekerja di sana." (Hlm. 156).

Sebenarnya tema begini cukup membantu saya untuk peka terhadap apa yang terjadi zaman dahulu dan mungkin juga sekarang. Belum lagi budaya patriarki yang muncul didalamnya masih kental sekali, seperti pembagian harta antara anak dari istri pertama dan anak dari istri kedua. Melalui tutur cerita yang ringan saya lebih mudah memahaminya.

"Semua yang terkumpul selama jadi suami istri ya berarti punya berdua, to. Dan namanya laki-laki kan biasanya yang mencari semuanya." (Hlm. 195) Asli ini kalimat paling sotoy dari Pak Lurahnya, padahal kan si Teja nggak ngapa-ngapain, yang kerja si Marni :(
Ternyata adat, aturan, keadilan, bisa diatur dengan gampang kalau kita punya uang, punya kenalan yang berseragam dan memegang senjata." (Hlm. 198)

Dan... saya suka buku-buku semacam ini.

RATE: 5/5


Kamar kos, akhirnya posting juga review ini.
21:55

Comments

  1. Ini pesan yang disampaikan oleh buku berjudul 'Entrok' keren banget deh. Kalo nyari ke Gramed masih ada nggak ya.. Huhuhu.. Pengen baca buku ini.. Makasih share-nya ya Mbak.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terakhir saya lihat beberapa bulan lalu sih masih ada kak. Cuma tinggal beberapa buku. Tapi mungkin kalo online masih ada deh :D

      Delete
  2. Dari buku 'Entrok' ini bisa terlihat bahwa sebenarnya kaum perempuan itu sudah mempunyai pemikiran yang maju hanya saja kembali lagi bahwa kebebasan dan kemajuan perempuan memang kadang dibatasi oleh adat, aturan dan keadilan. untung Zaman sekarang udah ga gitu lagi ya,mbak? btw salam kenal mba, saya suka ulasan buku Entrok yang mbak sampaikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak. Terlihat dari hal-hal sederhana yang digambarkan dalam buku ini, ya? Hehe.
      Bagusnya sekarang perempuan sudah lebih bisa menyuarakan keinginannya. Salam kenal kembali dan terima kasih ya :)

      Delete
  3. Buku yang menarik.
    Untuk yang tercantum di hal 198 sepertinya masih berlaku hingga saat ini, ya mbak? 😀

    ReplyDelete
  4. saya belum pernah baca bukunya tapi pernah ketemu penulisnya.
    hahaha.
    mungkin harus menyempatkan membaca bukunya mba okky ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga baru pertama baca bukunya mbak okky dan malah belum pernah ketemu :D

      Delete
  5. sudah lama banget aku pgn beli buku ini tapi belum kesampean juga jd makin penasaran pgn punya makasi reviewnya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beli mbak. Bagus kok isinya. Hehehe. Sama-sama. Makasih sudah mampir yaa :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)