Tren Menulis di Situs Agregator Berita



Tik tok...
Tik tok...
Tik tok...

Deadline hari ini dan saya masih bingung menulis apa. Sejak hari pertama tema dilempar pada peserta, saya sama sekali nggak paham soal temanya. Padahal sudah dikasih konten rujukan untuk menarik ingatan dan ide-ide, tapi nyatanya pengetahuan saya tetap kosong soal tema yang satu ini. Agregator berita? Hm, saya baru dengar istilah itu. Mengunduh aplikasi agregator berita pun saya malas. Apalah saya mah, apa-apa malas, yang nggak malas cuma ketemu kamu.

Serius, Tiw!

Sekilas dari yang teman-teman buat, saya tau beberapa penyedia layanan agregator berita, misalnya blogdetik, kompasiana, Babe, UC News, dan lainnya. Dari beberapa yang saya sebut tadi, saya punya akun di Kompasiana. Sebenarnya alasan saya membuat aku tersebut adalah untuk menyebarluaskan tulisan saya yang berupa cerpen dan puisi. Namun, hingga saat ini sudah tidak aktif karena saya malas. Sungguh. Anyway, agregator berita itu sepengetahuan saya adalah platform yang isinya kumpulan berita, siapapun bisa menulis di sana, tetapi harus menyesuaikan 'peraturan' yang ada di sana. Ya, tujuannya supaya tulisan yang diterbitkan di sana bisa dibaca banyak orang, syukur-syukur jadi viral.

Mengapa platform agregator berita terlihat lebih menarik?

Sebab, rupiah bisa berjatuhan di platform itu.

Sebagai bloger, siapa sih yang enggak mau kalau tulisannya dibayar? Saya mah mau banget. Nah, di platform agregator berita semacam itu, setiap tulisan yang dipublish di website, tentunya akan mendapatkan upah. Namun, untuk bisa sampai tahap terbit tentunya kita harus mengikuti keinginan dari si platform. Misalnya, kita harus menulis berita yang valid, atau artikel yang benar-benar menarik di mata pengunjung.

Mungkin ada sebagian orang yang memang money oriented dalam hal ini. Saya nggak bisa menyalahkan juga karena hidup hari ini semakin mahal, orang butuh uang. Jadi, memang nggak ada salahnya ketika seorang bloger memilih untuk menulis dalam agregator berita. Selain untuk mendulang rupiah, namanya juga akan dikenal dalam pprtal tersebut bila tulisannya ternyata menjadi viral. Ruginya cuma satu kayaknya, blog pribadinya terbengkalai. Padahal kalau mau, seorang bloger bisa lho mendulang rupiah dengan menulis konten yang konsisten dan menarik untuk dibaca. Modelnya bisa seperti sponsored post, meskipun ini nggak setiap hari ada.

Well, menulis di agregator berita ini kayanya jadi tren 2017, ya? Mungkin karena orang-orang sekarang sedang senang-senangnya membaca berita lewat media online. Sehingga platform berita membuka peluang bagi para bloger yang dianggap sering menulis untuk turut berkontribusi. Tidak masalah, sih, selama bloger tersebut bisa konsisten.

Kalau saya ditawari untuk menulis di platform agregator berita, mungkin saya harus mikir seribu kali. Kenapa? Saya masih belajar jadi bloger dan saya cuma orang yang sukanya curhat, kayaknya nggak cocok kalo suruh nulis berita. Apalah saya mah, punya akun Kompasiana aja dianggurin. Anyway, saya masih mau memperjuangkan blog pribadi saya aja dulu sih, biar lebih rame dan nggak begitu-begitu aja isinya.

Boleh lho sarannya, gaes.

Nah, kalau kamu mau nggak jadi penulis di agregator berita?

Purwokerto, menjelang maghrib.
7 Maret 2017.

Comments

  1. Hihi, sama atuh suka curhat :D aku mau sih Tiw, tapi belajar dulu nulis beritanya hehe

    ReplyDelete
  2. Semoga ke depan ada platform agregator yang tidak terlalu serius (bukan berita) melainkan cerita (curhat). Curhat paling ngenes dibayar tinggi, misalkan.
    Apapun platformnya tetap semangat :-)
    @ge1212y

    ReplyDelete
  3. coba-coba dulu aja. siapa tahu statistiknya bagus, lumayan buat visitor ke blog pribadi :D

    ReplyDelete
  4. Semoga nanti ada agregatot beritA yg menampung tema curhat ya mbak, nti sama2 ngeramain disana. Hehehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)