Sunday, February 12, 2017

Sebab Memaafkan Bukan Sekadar Ucapan

Sumber: google.com (dengan editan pribadi)
Apa yang membuat kita rela memaafkan orang lain ketika mereka pernah menyakiti kita di masa lalu? Bukankah setelah memaafkan mereka, luka itu masih berbekas?


Saya tipe orang yang keras, tidak mudah melupakan kenangan buruk, dan sulit meminta maaf atau bahkan memaafkan orang lain. Karena saya pikir, orang lain yang telah berbuat tidak baik kepada saya melakukan hal itu dengan alasan ketidaksukaan mereka kepada saya. Dan sampai kapanpun, mereka akan tetap menjadi tokoh jahat di mata saya. Sampai kapanpun.

Dulu saya sangat-sangat egois karena ketidakinginan untuk meminta maaf dalam diri saya begitu besar. Saya ingat ketika saya melakukan kesalahan di rumah karena berkata-kata dengan keras, saya akan langsung lari ke kamar dan menangis. Sama halnya seperti saya yang sulit memaafkan orang lain, saya berpikir kalau orang lain juga tidak akan memaafkan saya.

Bagi saya, meminta maaf bukan cuma soal "Aku minta maaf ya," kemudian selesai. Ada bagian tersendiri yang akan lekat dalam memori. Seperti analogi barang pecah belah, "Sekali kita memecahkannya, kita tidak akan bisa memperbaikinya seperti semula." Mungkin itu sebabnya kita disuruh membayar benda yang kita pecahkan di toko alih-alih hanya meminta maaf. Pertanggungjawaban moral atas kerugian orang lain. Nggak ngerti, ya? Sama. Mungkin kata 'maaf' bisa jadi alat tukar yang lebih baik untuk memperbaiki hubungan manusia, meskipun ya, tidak akan sama seperti awal sebelum kata 'maaf' itu terucap.

Memaafkan orang lain sungguh hal berat, terutama bagi saya. Ingatan-ingatan buruk soal perlakuan mereka terhadap saya juga nggak akan pernah hilang, kan? Selama saya masih hidup, memori itu selalu timbul-tenggelam. Sehingga apapun kebaikan yang mereka lakukan tidak sedikitpun  menyentuh hati saya dan menghapus kenangan buruk begitu saja. Saya tidak ada perasaan dendam dan tidak pula ingin membalas. Hanya saja mengapa rasanya begitu sulit memaafkan perbuatan mereka pada saya?

Ada banyak alasan mengapa orang tidak bisa memaafkan orang lain. Mungkin saja perbuatan buruk yang orang lain lakukan pada kita tepat melukai hati yang paling dalam atau mungkin menghancurkan segala hal yang kita anggap baik bagi kita. Setiap orang punya alasan masing-masing yang mungkin tidak diketahui orang lain. Mereka bisa langsung menjadikan pelaku tersebut tokoh utama yang paling dibenci dalam hidupnya.

Namun, ada juga orang yang sungguh baik hatinya, mau memaafkan dengan mudahnya sekalipun dia dilukai berkali-kali. Saya harus bertepuk tangan pada orang semacam ini. Mungkin hatinya benar-benar seperti malaikat.

Lalu, apa hakikat memaafkan sesungguhnya? Tentu bukan hanya soal ucapan, tetapi soal pikiran dan hati yang ikhlas. Tunggu, apa guna kita ketika sudah memaafkan seseorang, tetapi hati kita masih merasa 'luka' ketika kenangan buruk itu teringat kembali? Bukankah percuma saja? Bukankah malah jadi naif kalau kita berlaku seperti itu?

Mengapa sih kita harus pura-pura tersenyum memaafkan kalau ternyata gumpalan emosi di pikiran kita maaih menumpuk?

Mengapa sih kita harus berpura-pura tidak terjadi apa-apa kalau ternyata kita malah jadi membenci orang tersebut?

Wajar saja.

Memori ada untuk menyimpan kenangan, yang baik maupun yang buruk. Memaafkan cuma suatu jalan agar kita tidak terpenjara dalam memori yang satu itu. Saya percaya, semua manusia mengalami perubahan serta pendewasaan dalam diri mereka. Mari kita anggap meminta maaf dan memaafkan orang lain adalah sebuah cara untuk kita berdamai dengan kondisi. Menjadikannya sebuah pelajaran, pengalaman, dan bekal untuk masa yang akan datang.

Memaafkan bukan soal ucapan, tetapi bagaimana hati dan pikiran bisa selaras dengan perbuatan. Melepaskan kenangan buruk juga tidak semudah itu, tetapi setidaknya kita tahu bahwa orang yang berbuat demikian telah menyadari kalau hal itu menyakitkan. Memaafkan mungkin tidak mengembalikannya seperti semula, tetapi bisa mengklarifikasi alasan dibalik perbuatannya di masa lalu.

Tulisan ini belum selesai dan tidak akan pernah selesai. Sebab, selama manusia belum ikhlas memaafkan maka permintaan maaf sebaik apapun hanya akan jadi sampah tak berguna.

Intinya, kembali pada individu masing-masing.

Purwokerto, menjelang deadline (lagi).
12 Februari 2017.

6 comments:

  1. Memaafkan bisa, melupakan susah banget. :))
    Kayaknya malah nggak akan pernah melupakan kesalahan orang itu deh, kecuali amnesia. :')

    Terus gue juga suka mikir, orang yang gampang banget minta maaf habis melakukan kesalahan itu kudu dibikin ngerti dulu deh. Kalau kita maafin gitu aja, dia kayak merasa nanti diulangin lagi juga gak apa-apa. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, iya tuh kak. Kan jadi males kalo udah maafin eh diulangi lagi wkwk

      Delete
  2. Gue tipe orang yg yaa bukan berhati malaikat sih wkww tapi emang bodo amat sama orang mau gimana ke gue. Ada satu cerita dimana dulu gue deket banget sama orang dan gue berkali-kali dibikin bete sama dia, dari masalah ditikung, memutatbalikkan fakta, dll yg sampai akhirnya gue memutuskan nggak berhubungan sama dia lagi. Disitu gue kadang ngerasa kasian sama dia, dia nggak ada temen di kelas gitu, ada sih cuma sama-sama kayak yg terasingkan di kelas. Malahan, setelah gue baikan, dia jelek-jelekin temennya yg nemenin dia, gue juga nggak tau kenapa dia bisa kayak gitu. Sedih sih gue, dan gue merasa gagal (waktu) jadi temen deket dia (dulu) hh:')

    Tapi di akhir masa SMA (waktu itu kelas 3 SMA dan kita satu kelas), gue tetep minta maaf ke dia, daaan yaa nggak ngerti sama dia deh haha sampe sekarang, gue temenan lagi sama dia tapi nggak sama kayak dulu, sama sekali beda wkwk.

    Tapi dibalik itu semua, gue bersyukur sih kenal dia, dari dia gue banyak belajar, banyakin ikhlas hahahaha, karena kayaknya cuma dia deh, satu-satunya orang yg bisa bikin gue gedeg banget sepanjang masa wkwk. Udah, ah jadi curhat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena semua masalah bisa diambil hikmahnya yaaa :D

      Delete