Dear, My Bestfriend's Girlfriend

February 12, 2017

Sumber: www.hipwee.com (dengan editan pribadi)
Untukmu, kekasih sahabatku.

Hai, apa kabar? Semoga baik-baik saja dan selalu bahagia dengan sahabatku, ya. Percayalah, dia orang yang baik, teramat baik sejak aku kenal 9 tahun lalu.

Aku sungguh tidak tahu mengapa kau tiba-tiba meneleponku malam itu dengan tangisan. Bercerita kalau hubunganmu dengan sahabatku ada dalam masalah. Kekagetanku tidak hanya itu, kamu datang dan bercerita seolah-olah aku teman lama yang biasa kaucurhati soal apapun. Menceritakan bagaimana sahabatku berlaku keras terhadapmu, bagaimana buruknya dia. Apa kamu lupa sedang bercerita pada siapa? Orang yang sedang kauceritakan itu adalah sahabat dari kekasihmu, lho.

Aku tahu sebagai sesama perempuan, aku mengerti kenapa kamu mau bercerita kepadaku. Mungkin menurut pemikiranmu, aku adalah perempuan yang dekat dengan kekasihmu selain ibunya, kan? Ya, aku kenal dia 9 tahun, tapi memang tidak semua hal aku tahu soal dia. Jelas, aku bukan ibunya. Aku tidak tahu bagaimana meredam amarahnya, aku tidak tahu bagaimana sikapnya ketika marah, aku bahkan tidak tahu apa yang bisa membuatnya marah seperti yang kau alami. Bagiku, dia sudah cukup jadi sahabatku yang menyenangkan. Sebab, kami berdua tidak pernah sekalipun bertengkar. Kecuali soal yang satu itu...

Mungkin kamu lupa kalau yang kamu ajak bicara hari itu adalah sahabat dari kekasihmu. Aku, dengan subjektifku, tentu tidak akan begitu saja percaya padamu. Satu sisi sebagai sesama perempuan, aku menghargaimu sebagai kekasih sahabatku, tetapi di sisi lain, aku kenal sahabatku jauh lebih lama daripadamu. Hingga, permasalahan yang ada di antara kalian harusnya bukan urusanku, tetapi kau dengan sengaja menyeretku ke dalamnya. Maaf, apa kamu sudah mempertimbangkan itu?

Sebelumnya aku minta maaf, bukan maksudku mengintimidasi kamu atas semua perbuatanmu. Aku paham, keberadaanku di antara kalian adalah suatu ancaman bagi hubunganmu dan sahabatku. Meskipun aku sama sekali tidak punya maksud terselubung apapun untuk merebut perhatian sahabatku darimu. Ya, aku dan dia sudah sama-sama tahu sejak kecil. Komunikasi yang kami bangun tidak sebentar. Aku memang harus tahu diri dan tahu posisiku untuk saat ini.

Kamu tidak tahu bukan bahwa kekasihmu itu sempat marah padaku untuk membela kamu? Kau ingat ketika aku meminta maaf karena tidak melibatkanmu dalam pertemuanku dengan kekasihmu? Ya, kekasihmu marah padaku karena aku menghubungimu dan bicara seperti itu. Dia bahkan sempat berkata padaku, "Nggak perlu menghubungi dia. Dia nggak ada hubungannya sama gue dan elu." Lihat? Dia membelamu, cantik.

Sejak hari itu aku tidak lagi menghubunginya. Aku merasa posisiku saat itu serba salah. Aku tidak ingin dianggap mengganggu hubungan kalian, padahal jelas-jelas sahabatku tetap bersikap seperti biasa setelahnya. Entah, aku mungkin yang terlalu egois.

Aku minta maaf kalau keberadaanku menjadi ancaman di hidupmu dan hubungan kalian. Sulit memang mengubah kebiasaan setelah 9 tahun lamanya kami berteman. Sebab, sejak dulu kami tidak pernah sekalipun bermasalah, apalagi soal dia dan pacar-pacarnya yang dulu. Tapi percayalah, dia amat sangat menyayangimu. Sangat. Aku tahu itu.

Aku cukup senang bisa berkenalan denganmu dan menghargai aku sebagai sahabat dari kekasihmu. Well, itu pertanda baik kalau kamu bisa menerima aku sebagai orang yang dekat dengan dia. Tetapi, aku tidak selalu paham bagaimana dia berlaku, seperti yang mungkin kaupikirkan. Aku tidak tahu dia kemana setelah mengantarmu pulang, aku tidak tahu apa yang dia lakukan bersama teman lelakinya. Aku cuma sahabatnya, ingat? Dan dia tetap manusia bebas. Tidak semua hal yang dia lakukan juga dia beritahu kepadaku.

Jangan pernah takut terjadi sesuatu padanya. Ketika dia tidak menghubungimu atau telat membalas pesan, tunggu saja. Mungkin dia sedang main game atau malah ketiduran. Laki-laki itu harus dibiarkan bebas, sebab mereka tidak suka terlalu 'diikat'. Ketika dia ingin, maka dia akan datang dengan kemauannya sendiri. Tidak perku kita paksa, tidak perlu kita yang merengek. Percaya saja, kalau memang dia sayang, dia akan ada. Dan ini dia sahabatku, yang juga kekasihmu.

Dear, semoga kamu bisa menjadi lebih dewasa lagi setelah ini. Maafku karena pernah berada di antara kalian. Bahagia selalu, ya! Aku minta maaf. Jangan takut, aku tidak akan merebutnya darimu. Tetapi, dia tetaplah sahabatku sampai kapanpun.


Sincerely,

Sahabat dari kekasihmu.

Purwokerto, 12 Februari 2017.

You Might Also Like

0 comments