Tuesday, July 14, 2015

This Is Limited Holiday: Bandung - Garut

Dear my good readers.

Kali ini saya mau berbagi pengalaman tentang perjalanan saya yang lain. Menceritakan pengalaman memang selalu menyenangkan, terlebih waktu yang digunakan sangat singkat. Dan inilah kisah itu.

Kamis, 30 April 2015.
Selepas ujian tengah semester, saya memang sudah berniat untuk berkunjung ke Bandung. Selain karena ada acara di Bandung, saya sudah terlanjur berjanji untuk main ke tempat Teteh saya. Perlengkapan sudah saya persiapkan, hanya saja saya belum menentukan kemana tujuan wisata saya di Bandung saat itu. Mengalir saja saya pikir. Toh nanti akan ada waktunya untuk jalan-jalan.

Pukul 19.00, saya sudah berada di terminal Purwokerto. Sehari sebelumnya saya sudah melakukan survei kendaraan mana yang akan saya naiki. Maklum saja, ini kedua kalinya saya ke Bandung serta perjalanan pertama ke Bandung yang saya lakukan sendiri. Maka dari itu saya tidak ingin menghabiskan waktu apabila sampai tersasar karena salah menaiki mobil. Saya menunggu bus Budiman jurusan Wonosobo-Bandung yang akan membawa saya ke kota tujuan. Bersama dengan penumpang lain, saya merasa agak aman karena tidak sendirian. Ternyata malam itu banyak yang akan pergi ke kota yang sama dengan saya.

Bus biasanya sampai pukul 20.00, namun ternyata pukul 9 malam bus baru datang dan berangkat pukul setengah 10. Tak apalah, saya pikir, itu artinya saya sampai di Bandung sekitar menjelang subuh. Sehingga saya tidak perlu takut apabila tersasar. Ada baiknya juga bus datang terlambat. Saya menaiki bus yang sudah hampir penuh, saya mencoba tidur sejenak. Berkali-kali Teh Upi mengingatkan saya supaya saya tidak kebablasan karena ini pertama kali saya mengunjunginya.

Jumat, 1 Mei 2015.
Perjalanan malam itu sungguh berbeda. Saya belum pernah melewati jalur itu ketika pulang ke Bogor ataupun perjalanan lainnya. Pengalaman baru untuk saya yamg pertama kali berkunjung ke Bandung sendirian. Tenyata perhitungan kami (saya dan Teh Upi) tidak meleset. Bus saya sampai di Rancaekek sekitar pukul 4 subuh. Dan ya, Teh Upi sudah menjemput saya di pinggir jalan.

Sampai di kost Teh Upi, saya tertidur hingga pukul 9 pagi. Hari itu saya tidak diajak berjalan-jalan di Bandung, melainkan langsung menuju ke Garut. Peringatan Hari Buruh membuat jalanan di Bandung macet total. Sehingga, kami hijrah dahulu ke rumah Teh Upi di Garut.

Perjalanan menuju Garut pun menyenangkan, karena lagi-lagi ini pertama kali saya mengunjungi kota Garut. Walaupun jalanan macet seperti yang diberitakan, tetap menyenangkan bagi saya. Perjalanan adalah perjalanan, dimana saya bisa menikmati setiap incinya sebagai pengalaman yang berkesan. Sekitar 2 jam terjebak di kemacetan, kami sampai di terminal Guntur, Garut untuk berganti mobil angkutan kota yang akan mengantarkan kami ke rumah.

Pemandangan pertama yang saya dapatkan di Garut adalah banyak pendaki yang akan mengunjungi Gunung Papandayan. Ah, kapan saya bisa ke sana? Tatapan saya tak lepas pada carrier yang bertumpuk di atas mobil bak lengkap dengan para pendaki yang khas. Saya rindu naik gunung rupanya. Menuju rumah Teh Upi di Bayongbong, cukup dengan naik angkot berwarna kuning dari terminal Guntur.

"Warna angkotnya sesuai sama jurusannya," jelas Teh Upi ketika saya bertanya tentang banyaknya warna angkutan itu.

Kurang lebih 30 menit, kami sampai di rumah Teh Upi. Sepanjang perjalanan saya tak henti-hentinya terpesona dengan panorama di Garut ini. Bagaimana tidak, kota Garut memiliki tiga gunung sekaligus: Papandayan, Guntur, dan Cikuray. Rasanya sejuk dan menenangkan. Apa rasanya tinggal di sini ya? Saya hidup di Purwokerto yang dekat dengan lereng Gunung Slamet saja sudah sangat suka dengan suasananya. Jika tinggal di Garut, mungkin saya akan lebih sering memandangi pegunungan itu.

Pemandangan di depan rumah

Sampai di rumah Teh Upi, Ibu dan Mpah sedang berada di taman dekat kolam. Tiba-tiba saya merasa jatuh cinta dengan rumah ini. Rumah ini tak hanya sejuk, tetapi juga hangat. Rumah yang sederhana ini memiliki kolam ikan yang cukup luas dengan tanaman-tanaman di sekitarnya. Ada pula semacam saung yang menjadi pelengkap di sana. Tak hanya itu, yang lebih membuat saya jatuh cinta lagi adalah ruang bukunya. Biasanya saya hanya melihat dari foto saja, tapi kali ini aku melihatnya secara langsung. Buku-buku yang tertata rapi di rak membuat saya betah di sana. Rencananya, ruang buku itu akan dijadikan taman baca.

Kolam ikan belakang rumah Teh Upi

Bukankah sebuah rumah yang hangat menimbulkan kebetahan untuk orang-orang yang berada di dalamnya? Ya, aku merasakannya. Aku merasa bukan lagi seperti tamu. Aku merasa seperti saudara. Aku merasa seperti bagian dari keluarga ini, meskipun aku memang orang luar yang datang seiring dengan waktu dan takdir yang membawaku ke sana. Ya, di rumah ini ada kehangatan yang lain yang bisa kurasakan. Ibu dan Mpah seringkali bercerita tentang masa remaja mereka. Aku menikmati setiap detail kata yang mereka ucapkan. Seperti dongeng yang diceritakan orangtua kepada anaknya.

Pada akhirnya, hari pertama saya di Garut hanya dihabiskan dengan menonton film dan tidur. Garut sore itu hujan deras. Sisanya, malam itu hanya dinikmati dengan meringkuk di dalam selimut.
---

Sabtu, 2 Mei 2015.

Subuh di hari kedua di Garut masih dirundung hujan. Saya dan Teh Upi pada akhirnya bergelung kembali di dalam selimut. Dingin yang membuat kami sungguh menikmati tidur kami saat itu. Entahlah, padahal kami berniat untuk jalan-jalan di Garut seharian itu, ternyata waktu berkata lain. Mpah dan ibu bilang, nanti juga terang, sehingga kami bisa jalan-jalan. Ternyata benar, hujan reda sebelum jam 8 pagi. Kami bersiap-siap untuk tujuan kami hari ini: berenang di Pemandian Air Panas di Garut. Ini pertama kalinya saya  berjalan-jalan di Garut. Kalau bukan karena punya kenalan di Garut, saya tidak mungkin bisa mengunjungi kota ini.

Dear, ini kotamu. Ternyata aku juga jatuh cinta pada kotamu.

Pemandian Air Panas yang kami sambangi adalah pemandian air panas di dalam penginapan. Tetapi merupakan fasilitas umum yang bisa digunakan oleh siapapun. Kami harus membayar cukup mahal (bagi saya), sebesar Rp 40.000,-. Kolam renangnya tidak begitu besar, hanya saja airnya merupakan air panas yang berasal dari gunung Guntur. Menyenangkan juga berenang di air panas. Selain melancarkan peredaran darah, sekaligus menyegarkan pikiran.

Kolam Renang Air Panas "Sumber Alam" di Tarogong, Garut.


To be continued.

No comments:

Post a Comment