Thursday, February 5, 2015

[BOOK REVIEW] Bekisar Merah by Ahmad Tohari


Judul: Bekisar Merah
Pengarang: Ahmad Tohari
ISBN: 978-979-22-6632
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2013 (Cetakan kedua)
Jumlah halaman: 360 hlm.

BLURB

Bekisar adalah unggas elok hasil kawin silang antara ayam hutan dan ayam biasa yang sering menjadi hiasan rumah orang-orang kaya. Dan, adalah Lasi, anak desa yang berayah bekas serdadu Jepang yang memiliki kecantikan khas---kulit putih, mata eksotis---membawa dirinya menjadi bekisar di kehidupan megah sorang lelaki kaya di Jakarta, melalui bisnis berahi kalangan atas yang tak disadarinya.

Lasi mencoba menikmati kemewahan itu, dan rela membayarnya dengan kesetiaan penuh pada Pak Han, suami tua yang sudah lemah. Namun, Lasi gagap ketika perkawinannya dengan Pak Han hanya sebuah kesenangan main-main.

Hanya main-main, longgar, dan bagi Lasi sangat ganjil. Karena tanpa persetujuannya, Pak Han menceraikannya dengan menyerahkannya kepada Bambung, seorang belantik kekuasaan di negeri ini, yang memang sudah menyukai Lasi sejak pertama melihat wanita itu bersama Handarbeni. Lasi kembali hidup di tengah kemewahan yang datang serbamudah, namun sama sekali tak dipahaminha. Apalagi kemudian ia terseret beraama kehidupan sang belantik kekuasaan dalam berurusan dengan penguasa-penguasa negeri.

Di tengah kebingungannya itulah Lasi bertemu lagi dengan cinta lamanya di desa, Kanjat, yang kini sudah berprofesi dosen. Mereka kabur bersama, bahkan Lasi lalu menikah siri dengannya. Namun kaki-tangan Bambung berhasil menemukan mereka dan menyeret Lasi kembali ke Jakarta. Berhasilkan Kanjat membela cintanya, dan kembali merebut Lasi yang sedang mengandung buah kasih mereka?

---

Saya memutuskan membeli novel ini karena tertarik dengan penulisnya. Ya, ini novel Ahmad Tohari pertama yang saya baca setelah sebelumnya saya sempat menghadiri seminar dan bedah buku beliau di kampus. Kebetulan, karena saya studi di salah satu universitas yang menjadi kota asal beliau. Novel beliau yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk sudah sangat terkenal, namun saya belum sempat membacanya. Padahal di perpustakaan fakultas tersedia. Hahaha. Novel ini sendiri terbagi dua bagian, yaitu Bekisar Merah dan Belantik. Mungkin ini gabungan dua buku milik Ahmad Tohari dengan judul yang sama.

Membaca novel ini saya merasa diajak menjelajahi kehidupan para penyadap nira di Karangsoga. Saya merasa ada kedekatan emosional yang hadir. Mungkin karena saya menjadi anak rantauan di kota Purwokerto. Meskipun saya tidak tahu persis di mana desa Karangsoga itu berada, saya tetap merasa dekat. Novel ini bercerita tentang Lasi, gadis desa Karangsoga yang juga merupakan seorang istri dari Darsa---salah satu penyadap nira kelapa di desanya. Kehidupan sehari-hari Lasi dan mayoritas warga Karangsoga hanya mengandalkan hasil sadapan nira yang kemudian diolah menjadi gula kelapa. Ada kemirisan yang saya rasakan ketika membaca bahwa kehidupan seorang penyadap tak begitu baik. Hasil penjualan gula hari ini hanya untuk makan hari ini, karena naik-turunnya harga gula di pasaran masih berada di tangan para tengkulak gula. Warga Karangsoga hanya bisa pasrah.

Cerita berlanjut ketika Lasi pergi ke Jakarta dengan latar belakang masalah rumah tangga. Di Jakarta inilah Lasi bertemu dengan Bu Koneng, seorang pemilik warung nasi yang kemudian menyerahkannya kepada Bu Lanting yang notabene adalah mucikari terselubung. Mulai dari sini hidup Lasi berubah. Kehidupan di Jakarta membuat Lasi merasa berkecukupan, namun ada kekosongan. Saya melihat keluguan dari diri Lasi yang tak mampu menolak apapun yang dikatakan oleh Bu Lanting.

Ada satu kalimat yang saya suka:
"Hanya pemberian Gusti Allah yang sepenuhnya cuma-cuma karena Gusti Allah Alkiyamu binapsihi, tidak memerlukan apapun dari luar dirin-Nya, bahkan puji-pujian dan pengakuan manusia sekalipun." - Eyang Mus (p.105).

Setelah bercerai dari Darsa, yang semuanya terjadi sangat mudah dengan bantuan uang, Lasi kemudian berubah menjadi Nyonya Handarbeni yang berlimpahan kekayaan. Kanjat, teman kecil Lasi, pun sempat menjemputnya Lasi. Kanjat yang sudah lulus menjadi insinyur pun disuguhi berbagai permasalahan tentang penyadap nira di desanya. Ia sendiri sadar bahwa ayahnya yang seorang tengkulak gula adalah salah satu bagian dari penentu kehidupan para penyadap nira tersebut. Sungguh saya di sini merasakan kemirisan yang berlebih. Ketidakberdayaan Kanjat untuk menolong warga pun masih terasa. Apalah artinya orang kecil seperti Kanjat di mata para penguasa-penguasa itu, termasuk oleh Bambung yang merupakan pelobi kelas kakap di antara penguasa negeri. Novel ini secara keseluruhan menceritakan perjalanan hidup Lasi. Bahkan di bagian kedua: Belantik, pun tak begitu gamblang dituliskan tentang seorang belantik itu sendiri.

Dalam novel ini pun ada beberapa bahwa Jawa dan pupuh yang sering dilantunkan oleh Eyang Mus selaku tokoh masyarakat di Karangsoga.

Overal 4/5









Cileungsi, 5 Februari 2015. 01:47.

No comments:

Post a Comment