Pertama Kalinya Kemping di Rancaupas Bandung

November 20, 2019


Demi melancarkan konsep work-life balance sekaligus menyembuhkan patah hati, saya selalu berusaha menyibukkan diri saat weekend tiba. Senin-Jumat bekerja, Sabtu-Minggu liburan. Jadi, ketika salah seorang senior mengajak saya untuk turut serta kemping di Rancaupas, Bandung, saya langsung jawab, "Hayuk!"

Lalu, jadilah kami berenam berangkat ke Bandung pada Sabtu siang. Saya sempat kesal juga mengingat perjanjian awal kami yang akan berangkat pukul 10 pagi. Dari Pamulang, saya berangkat jam 7, mengenyahkan rasa kantuk setelah malamnya nggak bisa tidur karena teringat hal buruk itu lagi.

Stasiun Sudimara ternyata cukup ramai untuk Sabtu pagi, dimana orang-orang libur bekerja. Ini ketiga kalinya saya naik Commuter Line dan pertama kalinya sendirian. Dua kesempatan lainnya saya selalu bersama teman, jadi nggak takut nyasar. Hari itu, saya cuma berpatokan pada aplikasi Trafi di ponsel saya. Ditambah doa supaya saya nggak nyasar beneran.

Transit di Stasiun Tanah Abang, saya harus naik kereta menuju stasiun Bekasi. Walau tidak sepadat hari kerja, stasiun Tanah Abang tetap terasa ramai bagi saya walaupun di dalam kereta tidak begitu berdesak-desakan.

Stasiun Bekasi 09.13 WIB
Saya langsung mengabari Kak Reza, senior saya di kampus yang mengajak saya ikut serta dalam acara perkempingan ini. Saya bilang ke dia kalau saya sudah di stasiun. Alih-alih lekas menjemput saya, dia malah baru bangun tidur.

Kesal? Tentu saja.

"Katanya janjian jam 10, gimane sih, Kaaak?!" sembur saya melalui pesan WhatsApp.

"Iya, ngambil mobil dulu."

Saya sudah akan bersungut-sungut kalau ia tidak lekas mengambil mobil. Belum lagi jarak dari Cikarang ke Bekasi dan perhitungan macetnya cukup untuk saya bisa tawaf dan umroh dulu. Mana Bekasi panas banget. Neraka emang udah pindah ke Bekasi kayaknya.

Saya emang nggak pernah bisa move on dari stasiun. Sembari menunggu Kak Reza mengabari, saya duduk manis di peron stasiun demi mengingat masa-masa ketika naik kereta ke Purwokerto jadi hal yang menyenangkan. Rasanya istimewa sekali bisa pergi jauh dengan kereta.

Bosan menunggu selama hampir satu jam, saya mencoba video call dengan teman seangkatan di kampus. Kebetulan salah satu senior saya sedang berada di Purwokerto. Biasanya saya akan merasa malu kalau video call di tempat umum. Teleponan saja saya malas, tapi akhir-akhir ini malah ketagihan dan mulai terbiasa menelepon orang.

"Wi, lu abis putus, ya?" kata teman saya di seberang sana.

"Ha?" Sambungan telepon saya tutup. Kenapa jadi tiba-tiba bahas hubungan saya yang kandas sih?

Jam 11 siang, Kak Reza baru mengabari kalau dia sudah hampir sampai di Stasiun Bekasi. Saya akhirnya keluar stasiun dan menerjang teriknya matahari yang rasanya ada di empat penjuru mata angin. Gila, panas banget!

Menunggu di pos polisi dekat stasiun, akhirnya mobilnya datang juga. Setelah masuk dan mengademkan diri di bawah AC, langsung saja saya semprot.

"Katanya jam 10 berangkat, Kak? Jam berapa ini tuh, ya?"

Kak Reza cuma nyengir. Temannya cuma diam. Dan kami masih harus menunggu satu pasangan pengantin baru yang ngebet mau kemping. Oke, saya kuat dan tabah menunggu lagi.


Bekasi ke Cikarang: Menuju Tempat Matahari Ada Empat

"Kalo Bekasi mataharinya satu, berarti Cikarang mataharinya empat, Wi. Panase pol," kata Kak Reza memberitahu saya. Saya cuma diam saja sambil menikmati AC yang kadang nggak kerasa dinginnya.

Dan benar, Cikarang panas banget, bosqu!

Setelah menjemput satu pasangan lagi dan menurunkan satu teman di Cikarang, akhirnya kami berangkat menuju Bandung. Untungnya jalanan hari itu tidak begitu macet. Karenalah saya ngantuk, maka saya putuskan untuk tidur saja sejenak.


Menuju Rancaupas dan Saya Tidak Tahu Apa-Apa

Memilih tidur adalah satu-satunya hal yang tepat. Bodo amat di jalan mau ada apa, yang penting pas saya melek, saya sudah sampai di gerbang Rancaupas. Hawa-hawa dingin Bandung sudah mulai terasa. Duh, jadi ingat waktu pertama kali study tour ke Bandung pas SMP. Hahaha.

Ternyata di Rancaupas ramai banget. Ramai yang beneran ramai. Alias banyak rombongan keluarga yang menghabiskan waktu akhir pekannya di sini. Juga ada beberapa bus besar yang memilih melakukan study tour di Rancaupas.

Ini menuju penangkaran rusa sebelum ke tempat campnya.

Sekilas, keinginan saya untuk mencari tempat kemping yang tenang harus lenyap begitu saja. Ketika sampai di sana pukul 5 sore, kami langsung bergegas mencari lapak untuk mendirikan tenda. Langit sudah agak kelabu waktu itu, takut-takut hujan turun tiba-tiba. Bahaya.

"Karena kami nggak bisa masang tenda, ini kami serahkan sama Tiwi dan Reza yang pernah jadi anak mapala," ucap Mas Darwis ketika dua tenda digeletakkan di tanah.

Saya cuma tertawa. Padahal saya nggak bisa juga masang tenda. Bisa sih, cuma mager. Hahaha. Tapi karena diburu-buru waktu, ya sudah akhirnya kami memasang tenda bersama-sama agar lekas selesai. Kan sesuai peribahasa: berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Mun teu bisa masang tenda hungkul, ya ulah loba cicing.

Oke, itu arti peribahasanya ngaco. Bahasa sundanya juga teu ngeunah. Maafkan. Hahaha.

Tenda sudah berdiri, langit semakin mendung, tapi belum akan turun hujan. Kak Reza, Mbak Kiki, dan pacarnya Mbak Kiki langsung menuju musala untuk salat sekaligus membeli kayu bakar untuk acara api unggun kami nanti malam. Saya, Mas Darwis, dan Mbak Indri (istrinya Mas Darwis) bergantian menjaga tenda. Suasana sore itu sudah semakin ramai. Banyak yang nyanyi-nyanyi, banyak yang ngobrol. Pokoknya ramai pisan kayak pasar.

Menjelang maghrib, gerimis turun. Udara terasa semakin dingin mengigit. Kami bertiga memutuskan untuk masuk tenda. Tiga yang lain belum juga kembali, sepertinya sengaja meneduh di warung. Rasa lapar mulai menghinggapi lambung saya, akhirnya cuma makan ciki sebagai pengganjal lapar.


Hujan Deras dan Saya Ditinggal Sendirian di Tenda

Betapa miris sekaligus menyedihkannya ketika hujan semakin deras, Mbak Indri kebelet pipis. Lalu dia dan suaminya meminta izin ke saya untuk meninggalkan saya sendirian di tenda.

"Gapapa ya, Tiw, kita tinggal dulu," katanya.

"Iya, Mbak. Nggak apa-apa." Sudah biasa sendirian, lanjut saya dalam hati.

Hujan semakin deras. Udara semakin dingin. Suara orang-orang menghilang. Air hujan rembes ke tenda. Sepi. Sepi sekali, sampai-sampai saya kayak kehilangan seluruh kehidupan dan kembali ke pikiran buruk yang beberapa waktu belakangan menghantui saya.

Lalu, saya berusaha menyadarkan diri saya. Menariknya dari pusaran dengan menonton video di Youtube.

Hujan agak reda. Telepon saya berdering. Kak Reza.

"Wi, dimana?"

"Di tenda nih. Sendirian. Hahaha."

"Wah, Darwis sama istrinya ke mana?"

"Ke toilet."

"Parah banget kamu ditinggal sendirian di tenda."

"Nggak papa, Kak. Untung aku dah biasa ditinggal sendirian."

"Yaudah ini bentar lagi ke tenda. Lagi beli kayu bakar."

"Oke. Eh, Kak. Nitip pop mie dong. Ehehehehe." Rasa lapar tidak bisa lagi saya tahan. Rasanya makan mi cup lebih enak di saat dingin begini.

"Ya, nanti dibeliin, Wi."


Hujan Reda, Api Unggun, dan Karaokean Pelepas Gundah

Api unggun yang bisa nyala tanpa minyak tanah atau spiritus.

Kempingan itu enaknya gitaran di depan api unggun. Setelah hujan reda—akhirnya reda juga, padahal perkiraan cuaca bilang hujannya akan berlanjut sampai tengah malam—kami melanjutkan kegiatan malam dengan bernyanyi karena nggak ada yang bawa gitar dan nggak ada yang bisa juga. Setel lagu dari Youtube, pasang ke speaker, dan mulai bernyanyi.

Penghuni tenda lain pun kebanyakan melakukan hal yang sama. Rata-rata mereka membawa gitar. Kami asik-asik saja menyetel musik keras-keras dan saling bersahutan dengan tetangga.

Yang menarik dari acara kemping ini, ada rombongan—entah anak pramuka atau bukan—yang sedang melakukan diklat. Malam hingga pagi buta mereka sudah sibuk berteriak-teriak seperti halnya perploncoan yang pernah ada di kampus-kampus atau sekolahan.

Saya sempat berpikir, kenapa mereka melakukan diklat di tempat kemah yang ramai seperti ini? Kan suasana "khidmat"-nya jadi kurang karena terlalu banyak orang di sana. If you know what I mean.

Tidak mengapa sih. Sebenarnya, kemping kali ini cukup membuat saya bisa melepaskan rindu setelah sekian lama tidak kemping. Hanya saja, tujuan utama untuk meredakan patah hati malah kacau balau. Hahaha. Maafkan saya, ya, sudah menganggumu malam-malam dengan pesan tidak penting.


Matahari Pagi dan Penangkaran Rusa

Pagi-pagi sekali saya sudah bangun karena tidak bisa tidur nyenyak. Alias salah pake kostum dan nggak bawa sleeping bag, cuma pake sarung. Dingin banget, bosqu. Sampe nggak kuat. Tapi tumben pagi itu saya merasa semangat menanti matahari pagi. Padahal biasanya kalau lagi di gunung selalu memilih bangun siang. Hahaha.

Alasan utamanya tentu saja saya mau foto-foto untuk memberi makan instagram saya. Well, kesampaian lah punya foto yang proper di Rancaupas walaupun nggak banyak.

Ini saya di penangkaran rusa pas rusanya pada gamau ikutan foto. Pundung meureun.

Penangkaran rusa jadi spot paling bagus selama di sana. Saya suka! Sayangnya, saya nggak berani foto sama rusa. Takut diseruduk. Padahal kan rusa nggak nyeruduk, ya. :(

Satu kata buat pertamanya kalinya kemping di Rancaupas: happy!

Kalo diajak kemping lagi saya juga mau. Cuma nggak mau pas musim ujan ah. Repot. Hahaha.

Ayok, kemping lagi!

Pacarnya Mbak Kiki - Mbak Kiki - Aku - Mbak Indri - Mas Darwis - Kak Reza (bawah)

Cileungsi, November 2019.

You Might Also Like

2 comments

  1. Gilaaa siang amat berangkatnya juara memang. Gue aja jam 3 pagi jalan. Malem-malem malah berkelana gak jelas terus ngetem di warung sampe subuh lanjut ke penangkaran rusa. Tidurnya pas pulang. Lalu die.

    Dan iya, kami juga nggak bawa gitar. Tapi hokinya nggak hujaaaan. Itu lo kalo hujan rusuh banget sih pasti dinginnya ya tiw.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gila lo pagi buta berangkatnya? Mantap! Hahaha. Kasian yang nyetir ya kalo gitu. Gabisa tidur pas pulangnya wkwk.

      Yoihhh. Hujan deras beberapa jam bang. Dan ya gitu. Untung tenda nggak banjir mengingat lahan kempingnya kayak bekas rawa wkwk. Dingin banget pas jam 1-3 sih bang. Malemnya B aja hahahaha *sombong*

      Delete