My Second Rock Climbing Experience

Hello gaes. Sudah hampir seminggu menjalani hari di 2016 ya. Semoga tetap baik hingga akhir nanti. Kali ini aku mau menuntaskan ceritaku soal pengalaman rock climbing Desember lalu di Tebing Putih, Kebumen, setelah memutuskan untuk melewatkan satu kesempatan baik dalam hidupku.

Baca juga: Kesempatan yang Terlewatkan

Ini merupakan pengalaman kedua kalinya aku mencoba panjat tebing di tebing asli. Kalau biasanya cuma latihan di papan boulder atau wall climbing, sekarang aku mencobanya lagi. Pengalaman pertama aku lakukan di sebuah tebing di Pantai Siung. Ah, tempat itu bener-bener bagus, gaes. Selain bisa mencoba tebingnya, kalian bisa banget menikmati suasana laut yang eksotis. Aku juga pengen lagi ke sana. Cuma lumayan juga jauhnya. Hahaha.

Di Tebing Siung

Kenapa harus panjat tebing? Ya, karena memang ini rangkaian kegiatan pendidikan lanjutan dari mapala. Hehehe. Sesungguhnya, olahraga alam bebas yang paling sulit aku lakukan adalah panjat tebing ini. Soalnya, semua bertumpu pada kekuatan kaki dan tangan. Mainan strategi juga, karena nggak bisa asal manjat. Kita harus tahu celah mana yang bisa buat pegangan dan bisa dipijak. Kalau salah pijak ya bisa saja terpleset. Contohnya nih, temen aku, si Lusi sempet jatuh pas lagi manjat. Nggak tahu ya, mungkin dia lelah. Tapi biasanya setelah itu malah pengen nyoba lagi. Hahaha

Nah, sebelum aku manjat tebing, semua peralatan harus dipasang, mulai dari harnest, chalkbag, helm, sepatu panjat, carabinner, dan semuanya. Pokoknya itu harus terpasang dengan baik supaya pas di atas nggak ribet. Nah, waktu aku naik tebing, pastinya ada yang megangin tali di bawahnya. Orang ini disebut belayer, gaes. Dia bertugas sebagai pengaman kalau-kalau aku kesulitan. Satu hal yang harus dilakukan ketika jadi belayer, harus fokus!

Ini lagi sok jadi komentator nunjukin arah ke si climber

Teknik yang waktu itu digunakan sih kelihatannya simpel. Aku sendiri mencoba pada urutan kelima. Setelah sebelumnya melihat-lihat teknik dari teman-teman lainnya. Nah, tekniknya itu runner to runner. Bisa search di google ya gaes. Intinya kita mencoba memasangkan tali pada runner yang sudah terpasang di tebing. Jadi setiap naik, kita harus memasang ke pengaitnya. Ini ternyata susah :(

Sudah terpasang runner pertama

Ada tiga runner yang sudah terpasang, Tugasku sebenarnya juga sangat sederhana, memasang tali ke tiga runner tersebut. Tapi eh tapi aku cuma bisa satu. Hiks sedih banget kayak ditinggal kamu. Alasan pertama, aku sudah lelah memanjat. Tanganku ternyata nggak ebgitu kuat mencengkram celah tebing dan parahnya kakiku cepet banget gemetaran. Hasilnya, baru sampe runner satu, aku sudah tidak kuat memanjat sampai runner kedua.

Dan aku menyerah...

Sumpah, sudah enggak kuat buat manjat lagi

Padahal aku pengen banget bisa manjat sampai tinggi. Iri banget sama temen-temen yang bisa manjat sampai runner ketiga dan keempat. Tapi memang harus banyak latihan sih supaya bisa. Ah, baiklah mungkin lain kali bakalan aku coba.

Seperti itu pengalaman rock climbing keduaku. Mungkin tidak seberapa, namun aku mendapat banyak pengalaman soal teknik memanjat. Selanjutnya aku bakalan rajin latihan climbing deh biar makin bisa. Semangat!

Purwokerto, 6 Januari 2016. 21:13.
Di sela-sela mengerjakan tugas KPM.

Comments

  1. "Mungkin tidak seberapa.." padahal orang kayak saya ngeliatnya sampe ngiler2 *eh,jorok amat sih*

    ReplyDelete
  2. Keren, tiw.. Aku mah nyobain yang di papan RC sampai dibantuin mbak-mbak senior tetep aja cuma berapa kali ngangkat badannya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)