Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi by M. Aan Mansyur

June 13, 2020


Judul: Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi | Pengarang: M. Aan Mansyur | Penerbit: Gagas Media | Tahun Terbit: Cetakan Kedua, 2016 | Tebal Buku: 264 hlm. | ISBN: 979-780-816-5

Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi menjadi salah satu buku incaran saya saat hadir di MIWF 2016. Entah kenapa pada saat itu saya tidak langsung membelinya. Mungkin karena uang yang saya bawa untuk ke Makassar selama satu minggu tidak mencukupi hanya untuk sekadar membeli satu buah buku. Tetapi tidak mengapa, pada akhirnya saya mendapatkan juga buku ini di sebuah bazar buku sekitar 1 atau 2 tahun lalu.

Melihat nama penulisnya sudah pasti menjadi pertimbangan utama saya dalam membeli sebuah buku. Pun dengan buku M. Aan Mansyur yang ini. Saya sudah membaca beberapa karya beliau dan tidak ragu-ragu ketika mengambil buku ini dari sebuah tumpukan. Buku bersampul ungu sewarna lavender yang memiliki kesan sendu ini pada akhirnya memang membawa saya untuk mengakhiri kisah ini dengan sendu.

Aku tidak pernah ingin mengucapkan selamat tinggal.
Aku tidak pernah mau beranjak dari masa lalu.

Sangat sulit bagi saya mengulas buku ini tanpa membawa banyak perasaan di dalamnya. Sebab, betapa buku ini pada bagian bab-bab terakhir membuat hati saya mencelos tidak karuan. Saya mungkin akan membahas secara berurutan mulai dari desain sampulnya.

Desain sampul buku ini terbilang cukup… magis. Sebuah daya tarik tersendiri untuk saya yang menyukai desain sampul bergambar sendu. Seorang lelaki yang mengepulkan asap rokok dan asapnya membentuk gambar seorang perempuan justru telah menjelaskan keseluruhan isi buku. Tentang Jiwa Matajang (nama yang bagi saya bagus sekali) yang begitu mencintai seorang perempuan bernama Nanti, bahkan tak bisa melupakannya setelah mereka berpisah.

Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi menceritakan soal kisah Jiwa, kehidupan percintaannya, asal mula hidupnya, sampai dengan berbagai hal idealis dan filosofis yang menjadi pedoman hidup. Jiwa menjadi sosok yang amat membenci laki-laki, meskipun ia sendiri seorang laki-laki. Hal ini lantas dijelaskan dalam kalimat semacam ini:

Laki-laki tidak bisa dipercaya. Laki-laki tidak bisa apa-apa. Laki-laki tidak bisa bertanggung jawab. Aku hanya bisa makan-minum, sekolah, tidur, menulis, dan tidak bisa membantu Ibu, Ayah pergi dan tidak pernah punya rasa rindu kepada istri dan anaknya. Kakek suka menikahi perempuan-perempuan lalu meninggalkannya seperti sampah. Apa yang bisa dilakukan laki-laki? Tidak ada kecuali hal-hal bajingan. Malangnya, aku juga seorang laki-laki.

Judul buku ini menjadi sebuah konsistensi pada tokoh Jiwa yang memang tidak pernah menangis bahkan ketika Ibu dan Neneknya meninggal. Berkali-kali ia menjelaskan bahwa jika ia menangis, air mata akan menghapus kesedihan itu dan ia tidak ingin kehilangan momen sedih. Saya bisa paham dengan pikiran semacam ini karena ketika menangis, kesedihan akan hilang, lambat laun perasaan sedih atas kehilangan juga akan memudar. Mungkin ini yang Jiwa tidak ingin karena ia begitu menyayangi neneknya.

Buku ini cukup membingungkan untuk saya di bagian awal karena ada banyak alur dan plot yang tidak jelas kapan waktunya. Persoalan ini pun dikemukakan Nanti melalui catatan kaki. Jiwa bercerita sesuai dengan apa yang ada di pikirannya, mungkin. Ia akan menulis cerita masa kecil, lalu berpindah tentang kejanggalannya yang tidak bisa terluka karena benda tajam, lalu berpindah ke masa kini atau menceritakan hal lain.

Sejujurnya saya mengerti, Aan Mansyur menuliskannya demikian mungkin saja dengan tujuan bahwa manusia kadang mengingat banyak hal dalam satu wadah lalu teringat hal lain yang berkaitan sehingga malah fokus menceritakan hal lain, lalu lupa bahwa seharusnya ia menceritakan hal yang utama.

Well, omong-omong soal catatan kaki Nanti menurut saya catatan kaki tersebut bisa menjadi sebuah kelebihan sekaligus kekurangan. Kelebihan karena catatan kaki memberi penjelas dari opini yang ia ketahui tentang Jiwa, tetapi menjadi kekurangan karena keberadaannya jadi sedikit mengganggu bagi saya. Alih-alih memberi penjelasan yang membantu pembaca untuk lebih memahami, Nanti justru menciptakan sudut pandang lain yang menurut saya tidak perlu. Singkatnya, catatan kaki Nanti bisa menjadi satu cerita lain kalau ia mau menulisnya secara terpisah tanpa harus "membebani" cerita Jiwa dalam buku ini.

Kalau kalian suka membaca buku dengan diksi yang beragam dan puitis, sepertinya buku ini akan cocok. Saya seperti menemukan banyak kalimat khas Aan Mansyur dalam puisi-puisinya, meski sejauh ini buku beliau yang menjadi favorit masihlah Kumpulan Cerpen Kukila dan Kumpulan Puisi Melihat Api Bekerja.

Secara alur sebenarnya buku ini masih bisa diikuti dengan mudah. Hanya saja secara bahasa, untuk yang tidak terbiasa dengan kalimat puitis, mungkin akan sedikit kesulitan mengikutinya. Bagian yang saya suka dari buku ini adalah ketika Jiwa menyebut hujan sebagai gadis kecil yang suka menangis. Selain itu tentu saja ketika Jiwa dan Nanti bergabung dengan dua temannya membangun Perpustakaan Terakhir. Betapa saya ingin punya tempat semacam itu bersama pasangan saya nantinya.

Keterkejutan saya sampai pada kalimat penutup oleh Aan Mansyur.

"Kisah yang baru Anda baca adalah kisah Aan Mansyur sekaligus bukan kisahnys, sekaligus bisa Anda baca sebagai keduanya. Sekali lagi, persis kehidupan kita, dunia nyata dan dunia fiksi kadang terasa begitu kaya dan begitu misjin pada saat yang bersamaan."

Saya jadi ingat ada seorang teman yang bertanya setelah membaca tulisan saya, “Apakah ini nyata? Atau fiksi?” Saya cuma tertawa dan bertanya balik, “Menurutmu?” Ia kebingungan menganggap itu fiksi, tapi terlalu nyata untuk jadi fiksi. Ya, begitulah sebuah cerita diciptakan.

Rate: 3/5

You Might Also Like

4 comments

  1. Novelnya banjir sama diksi indah di setiap baris. Bagus? Kalau yg suka mungkin oke2 aja. Tetapi bagi saya, terasa membosankan, ceritanya agak klise. Meski alur yang dibikin maju mundur tapi akhir ceritanya mudah ketebak, bahkan pas masih baca di paruh awal.

    Novel ini bukan cangkir teh saya kayaknya, mungkin ini juga alasan kenapa penerbitnya Gagas Media. Kalau kumcer Kukila saya juga suka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah iya! Saya baru menyadari kenapa buku ini akhirnya diterbitkan sama Gagas Media. Buku-buku Gagas Media terkenal sama ceritanya yang puitis sih menurut saya. Ada beberapa buku yang saya baca dan semuanya seperti itu. Jadi penerbit juga menentukan jenis buku apa yang mereka terbitkan ya? Hehe

      Kukila paling the best sih menurut saya sejauh ini soal cerita plot twist di beberapa cerpennya. Hehe

      Delete
  2. Saya sepertinya pernah membaca buku ini seklias, bebarengan sama melihat api bekerja wgwgw :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekilas ini artinya selesai atau tidak selesai membacanya, Feb? Hahaha

      Delete