Senin Sore dan Puisi Kiriman

June 12, 2020


Tuk.

Sebuah pop up DM instagram muncul di layar ponsel ketika saya sedang mendengarkan lagu-lagu kesukaan dari platform musik langganan. Tiga buah gambar dari screenshoot-an ponsel muncul di sana, diikuti pesan lanjutan, "If you don't mind."
___

Beberapa bulan lalu saya sempat rutin menuliskan #onedayonepoetry melalui status Whatsapp yang juga saya bagikan di laman Twitter pribadi saya dengar tagar #ngabubuwrite. Rasanya menyenangkan bisa selalu menulis sajak walau kalau dilihat-lihat tulisan itu serupa prosa liris (ini saya baru tahu dari Kak Titis, salah seorang teman yang selalu keren kalau bikin puisi). Saya bahkan enggak begitu paham apa perbedaannya, saya hanya menikmati dan berusaha menulis sesuai keinginan.

Ngawur memang, tapi saya tetap menyukai kegiatan semacam itu. Tiga puluh hari selama Ramadhan dan menuliskannya setiap hari bukan hanya memeras otak. Yang biasanya menulis ketika menunggu subuh, di hari ke-10 ke atas saya menuliskannya di jam-jam rawan lapar alias udah menjelang sore. Nggak jarang, tulisan saya itu jadi makin ngawur, entah diksi atau kalimatnya yang rancu. Tapi yaudah biarin aja, yang penting saya senang.

Orang-orang bilang saya terlalu rajin karena bukan hanya membuat #onedayonepoetry, melainkan juga mengikuti #31HariMenulis di blog ini. Saya bisa bilang dengan jujur kalau saya merasa kewalahan, tapi karena saya anaknya suka tantangan dan sangat komitmen, ya saya harus melakukannya. Kebetulan karena selama ramadhan saya tidak ada kerjaan alias gabut aja gitu, jadilah saya iseng mencari kesibukan untuk mengisi waktu yang super luang.

Nah, suatu hari seorang teman tiba-tiba menodong saya dengan kalimat, "Cepat nulis buku". Entah kenapa di hari itu, beberapa orang mengatakan hal yang sama kepada saya perihal menulis buku, tapi saya cuma haha hihi sambil minta doakan saja. Saya merasa belum bisa menulis buku, padahal keinginan untuk menulisnya sudah ada. Emang dasar pemalas~

Setelah menerima todongan itu, saya lantas mengirimkan sajak yang sudah saya buat kepadanya. Saya bilang, "Nih, saya kasih puisi dulu aja." Dan dia bilang akan membalasnya.

Sampai saya lupa, kira-kira sebulan kemudian dia mengirimkan puisinya pada saya. Tidak tanggung-tanggung, langsung dalam bahasa inggris. Saya kaget, tapi akhirnya terharu juga. Hahaha. Ini mungkin kedua kalinya saya dapat puisi dari teman. Pertama kali punya Kak Titis, yang puisinya syahdu banget. Kedua, ya dari teman instagram ini.

Saya amat sangat menghargai apapun pemberian orang lain, termasuk kalimat-kalimat sederhana penyemangat diri. Bagi saya, diberi puisi yang begini saja saya sudah merasa "dianggap" oleh mereka. Terima kasih, terima kasih banyak!

Ini puisi dari Kak Titis yang diksinya saya suka sekali.


Ini puisi dari salah satu teman instagram, namanya Ripki.



Terakhir, saya nggak tau kenapa dua puisi itu ada unsur pohonnya. Hahaha. Apakah pohon selalu punya makna dan bagian dari rimba kata di kepala saya?

Atau... karena saya suka sama lagu Trees-nya Twenty One Pilots? Hehe.

You Might Also Like

6 comments

  1. Saya baca puisi buat ngoleksi kosakata, sering nemu frasa nyentrik. Kalau nulis puisi ga bisa euy, mending disuruh bikin esai 300 kata aja. Semoga mimpi bikin bukunya jadi kenyataan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama sih, di puisi banyak banget kosa kata baru yang bisa saya ambil. Kadang familiar sama kosa katanya tapi nggak tau artinya. Hehe. Duh, saya malah mikir keras kalo suruh bikin esai. Aamiin, makasih doanya, kak! :D

      Delete
  2. saya kayaknya pernah denger nama titis... .. umm... .. aa, pas event puisi ziliun kemarin kalo gasalah.

    sampai skrg saya maish kesulitan untuk menulis puisi, sebab pola puisi di kepala saya itu mesti berima. padahal itu sudha terbilang kuno saat ini. namun, saya sulit meninggalkannya. terakhir mencoba, malah keliatan kayak cerpen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yak, betuuul! Dia masuk 10 besar di event puisi ziliun kemarin hehehe.

      Saya sejujurnya juga lebih suka pola puisi yang berima, tapi juga lagi belajar untuk nggak terpatok sama itu sih. Haha. Nggak apa-apa, Bang Haw. Yang penting tetap menulis dan belajar terus :D

      Delete
  3. Saya doakan semoga kelak bisa bikin buku (mungkin novel atau puisi) yang di sampulnya tertera nama kamu.

    Dan ya, punya teman yang suka bikin puisi dan sesekali membuatkan puisi untuk kita itu uwuwu sekali!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiiin, makasih, Gip!

      Nah, kan. Makanya saya jadi terharu kalo dibikinin puisi begini kan wkwk

      Delete