One Fine Day

Kita tidak pernah ingin ini semua berakhir, tetapi Tuhanlah pemilik segala rencana.

___

Suatu sore di satu bulan yang lalu aku menghubunginya, lebih tepatnya memintanya untuk turut serta ke dalam acara yang akan kuhadiri. Kutelepon untuk menyampaikan maksud tersebut, ku invite Google Calendarnya, sampai kuteruskan undangan digital yang dikirimkan oleh temanku. Aku berharap ia setuju menemaniku ke acara tersebut dan sejujurnya aku tidak menerima penolakan untuk hal itu. Sebab, aku sudah memintanya jauh-jauh hari, aku akan sangat kecewa jika ia menolak ajakanku.

Malam-malam berlalu dan kami melewati serangkaian salah paham yang terlalu. Saat itu aku sedang bekerja demi bisa resign dengan tenang ketika pesan teks muncul di layar laptopku. Deg. Ada sebagian pikiranku yang entah kemana, sebagian lagi merasa tertohok begitu dalam. Merasa takut dan seketika merasa tidak diinginkan, juga perasaan-perasaan tak enak lainnya muncul.

Apakah ini akan berakhir setelah sejauh ini? Apakah akhirnya aku harus sendirian lagi? Terseret-seret oleh rasa sakit lagi? Apakah segalanya memang sudah takdir dan aku harus menerimanya saja?

Aku menghela napas. Bingung. Marah. Takut. Semua campur aduk di kepala. Semua jadi satu dan berputar di pikiran. Aku tidak sanggup, tetapi aku paham konsekuensinya sejak awal. Kehidupan manusia layaknya lapisan bawang. Selapis demi selapis kau kupas seiring waktu untuk saling mengenal. Aku bukan lagi orang yang akan terburu-buru menyimpulkan. Aku tidak lagi ingin jatuh pada lubang percaya yang ternyata tipu muslihat. Aku tidak ingin mengulang apa-apa yang salah di masa lalu.

Dan kali ini aku memilih untuk pelan-pelan menyelaminya. Membuka diriku selapis demi selapis hanya agar aku dan ia tidak sama-sama kaget untuk beberapa hal yang berbeda. Tetapi malam itu rasanya aneh. Menyakitkan juga membaca isi kalimatnya walaupun aku memaklumi pikirannya yang terlampau jauh karena melihat lingkaran pertemananku sebelumnya. Aku tidak berhenti, tidak ingin, tetapi ketika nanti ia tidak lagi memilih untuk bersamaku, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyesali apa yang sudah terjadi.

Aku tetap pada jalurku. Tidak menangis meski aku takut untuk kehilangan lagi, terlebih kehilangan diriku sendiri. Namun, malam itu adalah aku berusaha tenang untuk tidak memasuki bagian diriku yang rapuh dan penuh emosi.

___

Kami sampai pada sebuah kesimpulan pertama. Itu pertama kalinya aku melihatnya menangis karena takut kehilanganku. Aku tidak bisa bicara apa-apa, aku hanya melihatnya dari layar ponsel dengan pikiran yang entah apa.

"Mengapa lelaki ini begitu takut kehilanganku? Mengapa ia bisa sesayang ini padaku?"

Malam itu aku tidak menangis, tetapi hari-hari sebelumnya ketika ingatanku ada pada asumsi jika suatu hari ia meninggalkanku, tangisku pecah. Aku juga sudah sampai pada kesimpulan pertama bahwa aku sudah menyayangi lelaki ini sejak ia memberanikan diri datang ke rumah dan bicara dengan bapak dan ibu.

Tidak seperti sebelumnya, aku—kami menyelesaikannya malam itu juga. Jam 2 pagi, kami sama-sama tidak bisa tidur dan memilih untuk bicara dari hati ke hati. Meluruskan apa yang menjadi salah paham dan membangun kembali kepercayaan yang masih ada. Ia berusaha percaya dan membuang pikiran negatifnya. Aku berusaha memaklumi dan menetapkan titik percayaku jika orang ini tidak akan meninggalkanku. Kami sama-sama instropeksi, ini baru sedikit dan nanti mungkin akan lebih banyak lagi masalah-masalah yang akan menghantam kami di depan.

"Aku minta maaf ya udah ngomong gitu ke kamu." Aku hampir menangis. Sebuah permintaan maaf yang tak pernah kudapat dari hubunganku sebelumnya, tetapi pasanganku yang sekarang mengakui kesalahannya tanpa menyalahkanku.

Aku sungguh dibuat percaya bahwa akan ada orang yang menyayangiku dengan tulus dan mau memperjuangkanku bagaimanapun caranya. Dan seharusnya aku melakukan hal yang sama, bukan malah membiarkan keragu-raguan mendominasi pikiranku.

___

Pagi dan langit mendung menyelimuti area rumahku. Sampai di Jakarta, awan gelap menutupi sebagian area, terasa menakutkan. Dan aku tahu hari itu pasti akan hujan.

Sembari menunggu, aku masuk ke minimarket dan membeli sebotol minuman greentea latte karena kehausan. Saat sedang minum di depan minimarket, seseorang seolah bicara padaku.

"Yuk berangkat!" Lalu ia melewatiku begitu saja. Aku sedikit kaget dan memukul lengannya ketika sudah berada di sampingnya. Sejak kapan ia datang? Kok aku tidak melihatnya masuk ke minimarket?

Dan hujan deras pun turun.

___

Perjalanan seperti sebuah arena bicara yang unik. Suara yang dikeraskan, angin yang tak segan menelan suara kami, sampai helm beradu dan elusan-elusan di lutut saat lampu merah. Dulu sekali, aku pernah membayangkan rasanya jalan-jalan berdua dengan motor dan menjelajah tempat-tempat baru. Namun, seiring usia bertambah, aku tidak ingin muluk-muluk berharap bisa melakukan ini itu dengan pasangan. Ini skeptis saja sih karena aku belum menemukan orang yang bisa kuajak berpetualangan saat itu.

Seperti yang pernah kubilang, menemukannya di hidupku seperti sebuah jawaban dari banyak doa yang entah oleh siapa dan kapan. Sepanjang perjalanan, aku menikmati setiap waktu yang kupunya dengannya. Menyimpan baik-baik apa yang aku lihat, aku rasa, dan aku dengar. Sejak hari pertama akhirnya aku memilih untuk bersamanya, aku punya banyak hari-hari menyenangkan. 

Ia terbiasa memujiku, entah, itu yang kudengar hampir setiap hari. Dan karena love language-ku adalah words of affirmation, kata-kata semacam itu justru membuatku senang. Hari itu pula menjadi kali kedua ia menggengam tanganku setelah sejauh ini. Dari sana aku sadar, jari-jariku lebih panjang dari jari-jarinya, tetapi yang kuingat tentu genggaman tangannya yang erat. Jujur saja, aku tidak ingin ia melepasnya, tapi ya malu juga dilihat orang.

"Orang nggak kenal kita, biarin aja. Paling dikira suami istri," katanya saat aku akhirnya juga memberanikan diri memeluknya di atas motor.

Sentuhan fisik berbalut afeksi seperti pegangan tangan, merangkul pundak, mengusap kepala, dan mengelus lutut adalah beberapa yang memang aku butuhkan. Dulu sewaktu SMA pula, aku berpikir akan sangat bahagia jika pasanganmu melakukan hal tersebut dan membanjirimu dengan kasih sayang. Dan batasanku sampai di sana. I need affection, not just about lust. Dulu pun aku berpikir, orang-orang yang berpasangan akan selalu menahan diri dan hanya saling bertukar afeksi, tidak lebih dari itu. Makanya, ketika aku punya pasangan, aku mau afeksi lebih dominan ketimbang nafsu itu sendiri.

Bersyukurnya, ia mengerti bagaimana menghargaiku sebagai perempuan tanpa menerobos batas aman, dan aku sungguh menghargai sikapnya. Sebab, aku juga banyak menahan diri untuk hal-hal yang demikian.

Dari banyak pengalaman hari itu, dari beberapa salah paham yang telah kami lewati, aku berharap tidak perlu ada emosi marah yang terlalu, dan segalanya bisa dibicarakan dengan baik-baik. Sampai saat ini, aku sudah cukup mengetahui beberapa sifatnya sampai caranya menghadapi masalah, tapi tentu masih banyak yang harus kupahami, juga memperbaiki apa-apa yang kurang dariku untuk hubungan ini. Aku ingin kami bertumbuh dan berkembang bersama, bukan sekadar menjalani hari-hari sebagai pasangan dengan tidak menghargai maknanya.

___

Hai, Mas, kita sudah sampai di sini, semoga tidak bosan denganku yang sering ketakutan, semoga tidak bosan untuk terus mengingatkanku, aku bersyukur punya kamu yang dengan sabar menghadapi aku yang kadang kekanakan, dan memilih untuk bicara baik-baik tanpa marah-marah. Aku tahu sifatmu keras dan tegas seperti Bapak, tetapi yang aku tahu kamu menyayangi aku dan keluargaku. Dan aku akan berusaha melakukan hal yang sama.

Kita punya banyak rencana, punya banyak hal-hal yang kalau dipikir-pikir sangat aneh, termasuk soal kesamaan. Apakah jodoh adalah cerminan? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tapi aku tetap bersyukur karena sudah dipertemukan denganmu yang mau menampung banyak pikiran random dan absurd dari kepalaku. Terima kasih sudah mau memahami apa-apa yang menjadi ketakutanku.

Kita akan sampai di tempat yang kita tuju dan melakukan rencana-rencana yang telah kita susun, bersama.

Aku padamu, Mas!

Nggak mau sama yang lain. Kamu aja udah cukup. Karena orang yang kayak kamu cuma satu-satunya, langka pula. Semoga doa-doa kita dikabulkan Allah. Aamiin.


With love,

Tiwi.


Rumah,

Februari 2022.

Post a Comment

3 Comments

  1. SIAPA YANG MENARUH SEPIRING BAWANG DI DEKAT WAJAH SAYA?!

    duh, saya mau cetak dan laminating 9/10 tulisan ini!

    ReplyDelete
  2. If you’re going to hit the tables, persist with blackjack, aka twenty-one. The precise origins of this recreation are as mysterious because the hand you get dealt at a desk. Counting cards isn’t illegal per se , but casinos are actually sore losers and might ask you to stop playing in} when you 1xbet get too good. If counting cards isn't your thing, blackjack still provides you an edge over different casino video games outcome of|as a outcome of} have the ability to|you possibly can} strategize to win. According to Fox News, Sal Piacente, who trains casino staff, warns about video games by which you can’t double down, like Double Exposure Blackjack. “The supplier should be wearing a [robber’s] masks when he deals that game!

    ReplyDelete

Apa tanggapan kamu setelah membaca tulisan ini?