Kepak Kupu-Kupu Di Dalam Perut

Apakah kau pernah merasa begitu cemas menghadapi kedatangan seseorang? Apakah kau pernah mengalami rasa menggelitik di dalam perut seperti ada kupu-kupu yang terbang di sana? Apakah kau pernah sangat bersyukur akan hadirnya seseorang di hidupmu?

Aku pernah.

___

Pagi menjadi tanda meniadakan waktu tidur yang singkat. Alarm berbunyi dan aku tertinggal waktu subuh lantaran baru bisa terpejam sekitar pukul 4 dini hari. Sebuah kesalahan memilih tidur mendekati subuh dan kehilangan waktu subuh itu sendiri. Malam itu tidak ada telepon darinya, sedang aku berkutat pada berkas pekerjaan yang sengaja aku kerjakan karena tak bisa tidur. Entah karena kopi atau memang gelisah tanpa sebab seperti biasanya.

Layar ponsel menunjukkan pukul 7.30, tepat ketika bunyi alarm nyaring di sebelah bantalku. Sungguh kebiasaan yang sangat tidak dianjurkan untuk menaruh ponsel di dekat kita saat menjelang tidur. Kepalaku masih berat saat itu dan masih sangat ingin melanjutkan tidur sampai siang hari, tapi kemudian aku mengingat bahwa hari ini adalah hari Sabtu. Hari yang aku tunggu meski tidak semenggebu biasanya. Dengan alasan enggan diliputi rasa khawatir, aku membuka kolom pesan pada seseorang dan mengetik sebuah pesan pertanyaan.

Dua jam dan tidak ada balasan. Aku mengetik pesan lagi.

"Belum bangun?"

1 jam dan belum ada balasan juga.

"Kabarin ya nanti."

Jarum jam bergulir dan balasan itu nihil. Centang biru tak nampak di kolom pesan, tanda pesan belum dibaca. Lantas, aku memilih untuk menekan tombol telepon... tak diangkat juga. Untuk meredam rasa kesal dan khawatir yang sedikit muncul, aku memilih untuk pergi ke dapur dan menggoreng pisang yang Ibu niatkan untuk jadi suguhan ketika orang yang aku hubungi tadi datang.

Usai menggoreng pisang, aku kembali ke kamar dan melihat ada panggilan tak terjawab di layar ponsel. Darinya.

"Ada apa?" Ketikku pada kolom pesan.

Nada dering berbunyi dan ia bilang akan berangkat sekitar jam 1 siang. Aku menyetujuinya dan berusaha santai saja menunggu kedatangannya.

___


Mendung bergelayut di langit, gerimis jatuh satu-satu, lalu berhenti. Jatuh, lalu berhenti. Begitu sampai hujan menderas dan aku mulai kewalahan melawan rasa khawatir. Apakah ia kehujanan? Ia sudah sampai mana? Apakah ia akan nyasar?

Kolom pesan WhatsApp masih belum menunjukkan tanda apapun sejak terakhir kali ia mengirim pesan padaku bahwa ia akan berangkat menuju rumahku. Aku tidak berani bertanya dan menelepon bukanlah solusi yang tepat. Bagaimana jika ia masih di jalan dan sulit memegang ponselnya? Bagaimana kalau aku menelepon, ia malah pecah fokus? Bagaimana jika.... Baiklah aku akan menunggu saja.

Sudah hampir satu bulan yang lalu dari terakhir kali kami bertemu. Tepat di hari ulang tahunnya. Menutup hari dengan makan eskrim berdua, sesaat sebelum diusir oleh pegawai resto cepat saji karena sudah lewat jam buka akibat pandemi Covid-19. Hari itu menjadi hari paling menyenangkan yang aku punya karena pertama kalinya menjalani kencan yang normal dengan obrolan yang tak habis-habisnya.

"Mau coba eksrim matchaku?"

"Boleh." Ia meraih eskrimku dan menyendok sedikit dengan sendok miliknya. "Enak. Aku suka matcha juga kok."

Eskrim miliknya varian paling biasa, vanilla dengan bubuk oreo. Varian yang sering aku beli sebelum muncul varian baru rasa matcha. Aku memang sengaja mengajaknya makan eskrim setelah sebelumnya ia bertanya, "Mau jajan apa? Kutraktir yuk mumpung aku lagi ulang tahun."

Aku menatapnya sekilas dan kembali menekuni layar laptop karena terlalu malu untuk bertatap langsung.

Ia menjadi satu-satunya orang yang terlibat lebih jauh dalam waktu singkat denganku. Bukan tanpa sebab, menemukan sosoknya seperti sebuah kejutan yang aku sendiri tidak pernah bisa menebak ke mana ujungnya. Harapan kugantungkan dengan standar biasa-biasa saja. Sebab, aku tak pernah ingin jatuh terlalu dalam seperti sebelumnya. Maka, menjalani hari-hari dengan sudut pandang baru kulakukan tanpa menaruh ekspektasi yang muluk.

___


Aku hampir terlelap ketika hujan semakin deras dan pesan terakhirku belum dibalasnya. Ia tak mengirim live location padaku, sehingga aku tak bisa memantau apakah arah yang diambilnya sudah benar atau malah membuatnya tersasar.

Ketika mataku sudah terpejam entah berapa lama, bunyi pesan masuk sontak membuatku terjaga kembali.

"Aku kelewatan jauh," lengkap dengan emoji tertawa dan keringat di kening. Aku hanya menghela napas, agak khawatir karena hujan tak kunjung mereda.

Dalam 30 menit kemudian, akhirnya ia sampai di pelataran rumahku. Rambutnya yang sudah cukup panjang tampak agak berantakan. Celana chino berwarna khaki juga tampak basah di bagian bawahnya. Untung saja ia memakai sendal, bukan sepatu yang biasa ia kenakan saat pergi ke kantor.

Dadaku tak berdebar kencang, hanya ada perasaan hangat yang mampir kala ia sampai dengan selamat di rumahku. Mengamini segala bentuk rencana Tuhan untuk membuatnya sampai di sini, bertemu aku dan keluargaku. Aku tahu, ini pertama kali untuknya, juga untukku. Tetapi, kalau tidak begini, aku—kami, tidak akan tahu apa yang akan terjadi ke depannya.

Ia banyak mengobrol dengan Bapak, karena memang itulah tujuannya datang ke rumahku. Bukan tanpa sebab, aku membiarkannya begitu karena ada begitu banyak hal yang seharusnya menjadi pembicaraan antara ia dan orangtuaku sebelum akhirnya kami sepakat untuk melangkah lebih lanjut. Doa-doa yang setiap waktu kami minta pada Tuhan, juga percakapan-percakapan hampir setiap malam, tentu punya tujuan. Tetapi, kehendak Tuhan juga kehendak orangtua harus menjadi yang utama kami dapatkan.

Aku menemaninya makan masakan ibuku di ruang tengah dan tak ada obrolan yang berarti.

"Mbak, namanya siapa, Mbak?" Ia bertanya untuk memecah hening di antara kami. Walaupun suara tv mengiringi geming di antara aku dan dia.

"Bukannya udah tau, Mas?" Ia hanya terkekeh sambil menyendokkan nasi ke mulutnya.

"Mbak, rumahnya di Cileungsi, ya?" Ia masih melanjutkan akting pura-puranya. Aku yang tak bisa bercanda semacam itu hanya cengengesan tidak jelas, juga tidak menanggapi gurauannya.

Usai makan, ia lantas berkata, "Yaudah ke depan lagi, yuk. Ngobrolnya sama Bapak aja. Nggak enak berduaan di sini." Dadaku terenyuh terharu, betapa ia berusaha menghargai waktu yang aku buat agar ia bisa bertemu dengan Bapak dan menggenapkan segala hal yang ganjal selama mereka belum bertemu.

Sepanjang hari itu, aku sama sekali tak punya banyak waktu untuk mengobrol dengannya secara langsung karena aku tahu tujuannya datang kali ini adalah bertemu Bapak dan Ibu. Mengobrol denganku tentu sudah cukup walau memang masih banyak hal yang perlu dibicarakan, tetapi dengan orangtuaku hanya sedikit sekali kesempatan untuk mengobrol bukan?

Kadang aku berpikir, ia seperti sekumpulan doa yang menjelma jadi kenyataan. Entah doa yang mana, kapan, dan oleh siapa. Tetapi aku yakin, kehadirannya adalah bagian dari doa-doa yang dipanjatkan, juga kepingan takdir yang datang bersamaan dengan siapnya aku membuka hati.

Semoga kali ini bukan lagi orang yang salah. Semoga kali ini juga bukan lagi cerita-cerita sedih. Semoga kali ini adalah takdir yang dibuat untuk menjadikan ceritaku bahagia.

Kepak kupu-kupu di dalam perut semakin terasa, semoga cerita ini bukanlah angan-angan belaka.


12 Agustus 2021. 00:10

Post a Comment

2 Comments

  1. Duh saya bisa merasakan apa yang dirasain mbanya di tulisan. Karena saya juga baru mengalami apa yang dirasakan masnya di tulisan. Tahapan awal dari semua hal yang akan dilakukan bersama

    ReplyDelete

Apa tanggapan kamu setelah membaca tulisan ini?