Apa yang Kau Cari Dari Sebuah Pengalaman Masa Lalu yang Tak Kunjung Pergi?

Menyadari bahwa hidup berjalan maju tanpa sedikit pun mau menunggu bukanlah perkara baru. Sebab, kita tahu, waktu yang kita gunakan hari ini dari sejak perhitungan soal waktu ditemukan di masa lampau, terus berjalan maju, bukan sebaliknya. Kita mengerti bahwa memutar waktu adalah kemustahilan. Bergerak ke depan dan bukan mundur ke belakang adalah otomatisasi dari kehidupan yang sekarang. Kita terus dan terus bergerak menuju masa depan, melewati waktu yang sekarang dan berharap tidak kembali ke masa lalu, walaupun sebagian orang berharap demikian untuk bisa memperbaiki apa yang telah terjadi.

Mengingat waktu yang sudah berlalu, tentu saya tidak ingin mengulanginya. Kebanyakan dari waktu-waktu yang saya lewati adalah kejadian penuh rasa sakit, terutama hari-hari belakangan. Saya tidak mengira bahwa kejadian yang saya lewati, khususnya 2 tahun lalu, menjadi titik terparah di sepanjang hidup saya.

Mula-mula, kesehatan mental saya terganggu, lalu merembet ke pola pikir yang saya yakin ada pengaruhnya dari kejadian itu. Saya tidak paham mengapa. Tetapi ketika ditelisik lebih dalam, walau saya belum merenungi sepenuhnya, ini karena saya belum juga melepaskan apa yang selama ini bercokol di pikiran saya. Dendam yang begitu amat sangat menyakitkan, tetapi mulai memudar.

Saya tidak lagi menggebu-gebu untuk mengotori tangan saya sendiri. Tidak lagi ingin marah dan membalas apa-apa yang menyakiti hati, pikiran, dan mental saya. Bukan tanpa sebab. Jika dibilang tidak peduli, saya tentu akan berbohong. Kenyataannya, saya masih peduli dan mau tahu sampai di batas mana saya bisa memantau perjalanan karma yang akan terjadi pada orang yang menyakiti saya.

Boleh dibilang hidup saya stagnan saja di 2021 ini. Ada yang pergi ya silakan, mau datang pun ya sudah saya terima. Menyoroti hal-hal di masa lalu yang tidak akan muncul di masa depan pun membuat saya jadi berpikir, apakah saya terlalu terikat dengan masa lalu atau bagaimana. Tetapi, mau bagaimana pun itu bagian dari hidup saya, pembelajaraan yang nggak bisa saya lepaskan begitu saja. Alih-alih marah, sekarang saya lebih waspada menjalani hidup, jangan sampai kejadian semacam itu kembali jadi jalur hidup saya yang sudah sebegini rumitnya.

Kadang saya masih sering berpikir dan bertanya-tanya, apakah hidup saya akan lebih baik jika tidak bertemu orang itu di masa lalu? Apakah mental saya akan lebih sehat jika saya tidak dimanipulasi oleh orang tersebut? Apakah saya akan baik-baik saja jika dulu mengabaikan kalimat-kalimat manisnya? Dan apakah-apakah lainnya yang tentu saja tidak akan terjadi.

Saya nggak bisa bilang apakah hari ini saya sudah ikhlas atau belum. Mungkin sudah, mungkin juga belum. Di tulisan terakhir saya mengenai masa lalu, saya mungkin masih terus bicara soal karma. Memberi makan ego saya, memberi bahan bakar masa lalu saya untuk tetap mengetahui bahwa saya masih peduli.. Tetapi, saya juga tahu bahwa kami masih saling memperhatikan kehidupan masing-masing dari jauh tanpa saling berinteraksi.

Betapa hidup itu sulit, ya? Saya menjalani hidup saya dengan terseok-seok sekaligus jumawa karena perlahan-lahan, apa yang pernah saya katakan sebagai karma untuk masa lalu saya sudah mulai kelihatan hilalnya. Tinggal tunggu waktu untuk saya tahu semuanya dan menertawakan apa yang sudah terjadi di belakang.

Saya nggak akan pura-pura tidak tahu, walaupun saya tahu semuanya.

Segalanya berjalan sesuai keinginan setelah memisahkan diri. Saya berhenti menangisi dan berhenti mencari cara untuk kembali. Yang saya tahu bahwa, saat ini adalah saat-saat terbaik untuk saya memperkuat diri dan menajamkan intuisi untuk tidak lagi terjebak pada lubang yang sama.

Waktu tidak pernah bisa diulang, tetapi mengulangi kesalahan yang sama adalah kebodohan. Dan itu terjadi padamu, kan?

Entahlah... apa kali ini adalah sebuah kekhilafan lagi? Atau memang kau yang tidak pernah benar-benar belajar utuk mengerti?

Saya menunggu kabar lain untuk bisa benar-benar menertawakan apa yang sudah terjadi. 

Post a Comment

0 Comments