Kalibut Desember

December 19, 2020

Kalau tidak ada insiden menyebalkan itu, mungkin kami tidak akan seakrab ini.

Perjanjian pertemuan yang telah direncanakan sempat tertunda di Agustus. Kemudian September datang sebagai titik buta yang menghancurkan harapan-harapan atas usaha yang selama ini dilakukan. Ranting-ranting kecil yang tumbuh, patah. Tidak ada harapan.

"Aku putus asa, Tiw."

Deg. Jantungku seperti berhenti sesaat. Jangan seperti ini lagi, jangan. Aku tahu rasanya berada di dalam bejana keputusasaan. Aku hapal rasanya menginginkan kematian karena tak sanggup lagi. Aku benar-benar paham perasaan semacam itu walau aku tidak tahu kejadian macam apa yang kali ini menjadi sebab.

Suara di kepalaku kian riuh. Juga keinginan-keinginan untuk segera membunuh. Sayangnya, aku tidak tahu di mana gerangan bajingan yang sempat membuat hidupku luluh lantak. Entah di rumahnya yang nyamam atau bersembunyi di balik punggung perempuan baru yang menjadi kekasihnya hari ini.

Waktu berlalu dan janji pertemuan masih kutunggu. Seorang perempuan kembali mengabariku, teman baru yang kukenal dari sebuah insiden kesalahpahaman. Korban dari kebohongan cerita fiktif dari bajingan yang pernah menjadi kekasihku belasan bulan lalu. Kunci dan potongan puzzle yang kucari ada pada perempuan ini. Semua hal yang ingin kuketahui kebenarannya ada pada perempuan ini. Bahkan semua rahasia yang tidak terkuak tentang bajingan itu ada pada perempuan ini.

Aku menemukannya dari sebuah surel artikel ilmiah di halaman pertama pencarian Google.

Sapa dan salam dengan perasaan putus asa mengawali perkenalanku dengan Mbak Mayang. Tanpa berharap balasan, aku membiarkan sapa itu menjadi pembuka pertemanan, itu kalau ia mau membalas. Kalau tidak, mungkin hari ini aku tetap menjadi orang bodoh yang ingin kembali merajut harapan bersama bajingan itu.

Kadang harapan tak sesuai kenyataan. Kadang juga kenyataan terjadi jika tak ada harapan di dalamnya. Ia membalas surelku panjang lebar dan balasan itulah yang akhirnya membawaku pada percakapan panjang tentang masa lalu yang belum selesai. Kotak pandora yang penuh kejutan.

Percik-percik kecil membuatku diam seribu bahasa. Aku tidak menyangka akan mendapat hal lain yang tak sanggup kuterima dengan nalar. Siapa yang berbohong kali ini? Cerita fiktif apa lagi ini?

Dengan emosi menggebu aku tetap mempercayainya. Mempercayai kata-kata yang dikirimkannya melalui WhatsApp. Ya, dialah orang pemegang kunci kebobrokan bajingan itu. Orang yang menjadi tujuanku untuk membongkar paksa kesadaranku. Satu-satunya saksi yang tahu banyak tentang lelaki itu.

"Aku marah, Mbak. Aku marah banget ketika tahu dia bilang ke orang lain kalau dia nggak mau ketemu aku di Jakarta. Padahal, dia ketemu aku. Dia bilang nggak ada yang spesial sama konsernya. Dia cuma bilang dia mau ketemu aku... dan teman-teman lain."

Aku tahu perasaan itu masih sama menyakitkannya seperti ketika lelaki itu tidak datang di hari perjanjian mereka untuk bertemu di bandara Jogja. Perasaan ini lantas seperti membawa penyesalan, tetapi tidak mengubah apapun yang sudah terjadi. Pura-pura lupa, pura-pura baik-baik saja, itu semua percuma...

sampai pada akhirnya kami dikira menghasut banyak orang untuk membenci bajingan itu.

___


Desember 2020 dan aku bertemu Mbak Mayang yang sempat tersasar di jembatan penyebrangan antara Benhil dan Semanggi.

"Tiw, ini aku ke mana?"

Aku yang sadar salah memberi arahan lantas semakin membuat Mbak Mayang pusing. Sampai akhirnya aku menyusulnya di halte Semanggi yang lokasinya dekat dengan kantor. Seperti bertemu teman lama, obrolan kami tidak banyak berubah. Seperti chatting yang dipindah dalam obrolan langsung. Topik utamanya masih tetap tentang bajingan itu.

Setelah mendapat banyak informasi terutama soal kabar burung yang beredar, aku dan Mbak Mayang tidak lagi ambil pusing. Tertawa dan menertawakan keadaan serta kejadian hari ini adalah tanda bahwa kami tidak lagi bersedih-sedih hanya untuk seorang lelaki yang tidak punya tanggung jawab, sok pintar, banyak omong, dan kelakuannya seperti "flashdisk". Semua hal itu lantas menjadi topik seru kala perjalanan di bus menuju rumahku.

"Ayok, Mbak, besok kita masak-masak di rumah."

"Bikin masakan Jepang aja yuk, Tiw."

Pagi menuju siang dan kami memasak Japanese Curry Chicken Katsu sambil bergunjing betapa menyebalkannya mantan kekasih yang tidak tahu diri. Sudah dikasih cinta dan segalanya, ternyata seenaknya pergi meninggalkan. Aku jadi ingat sesuatu yang dimintanya ketika masih saling bercengkrama.

Lelaki itu bilang, "Aku suka dimasakin." Secara tidak langsung dia menginginkan pasangan yang bisa masak. Lantas aku bertanya bagaimana jika aku tak bisa masak? Dan jawaban mengejutkan kudapatkan, "Ya terus aku makan apa?"

Perkara masak memasak sesungguhnya cuma hal sederhana. Aku tentu bisa memasak, tapi tidak sejago itu sampai harus memasak semua resep di buku resep masakan. Namun, bukankah rumah tangga adalah perkara saling melengkapi juga?

Mengingat hal itu lantas aku ingin marah. Pun dengan Mbak Mayang.

"Dia cuma bisa menuntut, Tiw. Tapi nggak mau kalau dituntut."

Aku lagi-lagi mengingat bagian di mana aku iseng menyuruh mantan menyetir mobil. Jawabannya pun mengejutkan, dia tidak mau karena dia seringkali mabuk kendaraan. Ketika bertemu di Jakarta aku berharap bisa dating di angkutan umum, tetapi yang terjadi cuma naik gocar, itupun dengan situasi dia mabuk kendaraan. Hal yang masih bisa kutoleransi waktu itu, tapi setelah dipikir-pikir tidak asik sekali. Nanti jadi nggak bisa travelling jauh pake campervan kalau mau ke New Zealand~

Ya kan dia nggak mau nyetir, mabokan lagi. Masa saya yang harus nyetir juga, masak juga~

___


Titik Balik

Melepaskan itu nggak pernah mudah. Kalau dulu aku masih meraung-raung ingin kembali, sekarang di pikiranku bukan cuma soal kecewa, tetapi marah. Aku sudah menyatakan ini berbulan-bulan lalu. Aku tidak lagi sedih, yang ada cuma ingin menertawakan dan marah.

"Sama, Tiw. Aku juga kayak gitu. Aku nggak suka sikapnya yang merendahkan orang lain dan sok pinter."

Aku tahu kini Mbak Mayang sudah lebih baik dan menemukan titik balik hidupnya, aku pun menuju fase yang sama. Setelah sempat ingin membunuh bajingan itu dan mengacak-acak gedung pernikahannya, emosiku sudah teredam karena menghancurkan pernikahannya tidak memberiku keuntungan apapun.

Ya, ketika tulisan ini dibuat, dia sudah menikah. Lagi. Sesuatu bergolak di perut dan kepalaku. Sakit kepala sekali melihat tingkahnya yang memuakkan itu. Kok bisa? Cuma itu yang akhirnya yang aku ucapkan. Alih-alih mendoakan, aku malah menertawakan nasib mereka.

"He's your problem now. Congrats."

Membaca status Mbak Mayang, aku lantas tertawa. Selamat kepada perempuanmu, hai mas mantan. Dia dengan sukarela menerima orang bermasalah sepertimu, padahal tahu seperti apa sikapmu dulu dan mungkin sekarang. Apa dia kena superhero syndrome seperti aku dan Mbak Mayang? Apa dia kau manipulasi sampai tidak mau dengar omongan orang?

Ah, tentu dia akan menyangkal sekarang. Setelah sempat berbaik-baik padaku saat aku putus denganmu—tapi ternyata menikung juga—sekarang dia mendapatkan apa yang dia mau: kamu dan segala permasalahan hidupmu yang rumit. Satu-satunya yang menarik adalah kapan waktu bersenang-senangmu habis. Itu yang aku tunggu.

Selamat dikerangkeng, Mas. Jangan asal celup lagi ya, sekarang udah punya yang halal. Ehe~

Tidak ada yang benar-benar berakhir bahkan setelah memilih untuk tidak peduli. Segalanya berjalan, termasuk karma.

___


Ps.

Hari di mana aku mencuitkan sesuatu di akun personal, itu murni pikiranku. Aku tidak ingin mengotorinya dengan cuitan saling sindir di sana. Tapi karena kadung emosi, aku akan menuliskannya di sini. Sebuah akun yang bukan personal tapi isinya personal sekali seperti membalas cuitanku secara no mention. Aku cukup tahu, ternyata akun sekelas itu malah dipergunakan untuk membuat cuitan tidak penting. Hehehehe.

Dan lagi, ajakan untuk diskusi, apa itu tidak keterlaluan? Bagaimana mau diskusi kalau akses untuk menghubungi saja sudah ditembok beton alias diblokir? Maka, kuanggap ajakan diskusi itu cuma lelucon. Untuk selanjutnya, nikmatilah hidup. Jangan risau sama masa lalu pasangan yang sebenarnya memang perlu dirisaukan.

Nikmatilah hidup bersama orang bermasalah. Aku, Mbak Mayang, dan beberapa orang lain sudah berhasil lepas dan tidak menginginkannya lagi. Terima kasih sudah mengambilnya dengan sukarela, Teh~

Cheers!

You Might Also Like

2 comments

  1. Replies
    1. Hahaha I don't drink Vodka, just an orange juice for boost my vitamin C. But, poetry sounds great. Cheers!

      Delete