Wasangka

Dalam keadaan kamar yang temaram, kamu tak bisa tidur. Waktu di ponselmu menunjukkan pukul dua pagi dan kamu tetap berselancar pada laman dunia maya. Berusaha mencari hal-hal menyenangkan sebelum akhirnya terlelap. Akhir-akhir ini kamu sering mendapat mimpi buruk. Oleh karena itu, kamu mencari sejumput hal menyenangkan demi menghalau mimpi buruk yang bisa saja mampir saat dirimu terlelap. Tetapi, siapa yang bisa memprediksi mimpi?

Malam kemarin kamu bermimpi bertemu seorang laki-laki. Kamu kenal betul siapa lelaki itu. Di dalam mimpimu, kamu berjalan-jalan di sebuah mall bersama lelaki itu dan makan siang di restoran fast food. Kalian—kamu dan lelaki itu di dalam mimpi—mengobrol banyak hal, padahal kamu tahu di kehidupan nyata, lelaki itu tak gemar mengobrol. Biasanya, alih-alih mengobrol lelaki itu lebih suka menghabiskan waktunya di depan ponsel dan mengabaikanmu yang juga akhirnya memilih sibuk dengan ponselmu sendiri.

Kejadian aneh di dalam mimpi membuatmu kembali berpikir, apakah kini lelaki itu berubah tabiatnya? Apakah doa-doamu saat itu sudah dikabulkan Tuhan?

"Ah, masa bodoh lah. Toh dia pun pasti tidak peduli denganku."

Sambil memejamkan mata, kamu mengingat kembali saat-saat terakhir lelaki itu memarahimu. Kali itu terjadi di dunia nyata, bukan lagi di dalam mimpi. Lelaki itu menyebutmu tidak pandai mencipta obrolan, juga tidak pandai memahami keadaan. Kalau saja kamu memiliki rasa ingin tahu yang besar atau minimal selalu ingin tahu tentang hidupnya, mungkin hubungan kalian tidak akan semembosankan ini.

Kamu lantas menyanggah. Kamu bilang kamu sudah berusaha, tetapi ia tidak setuju. Ia tetap menganggapmu tidak berprogres. Menganggapmu mengalami kemunduran bahkan ketika kamu sudah mencoba.

Kamu membuka mata dan mulai mengalami sesak di dada. Menyakitkan sekali rasanya ketika orang yang kamu sayangi justru tidak mengapresiasi usahamu seperti itu. Lantas kamu diam-diam berdoa, untuk kesembuhanmu akan ingatan menyakitkan, unuk dirinya yang tak kunjung meminta maaf. Diam-diam pula, kamu menyesali keberadaanmu di sisinya waktu itu. Kamu menyesali banyak hal termasuk memberikan perhatianmu tanpa memperhatikan tanda-tanda di sekitar.

Doa-doa baik sudah siap terbang lagi malam itu, tetapi kamu menemukan tulisan seorang teman yang langsung menyedot fokusmu.

"Tidak perlu memberi doa baik untuk orang yang menyakitimu kalau kamu belum ikhlas. Lebih baik mendoakan dirimu sendiri dan orang yang menyayangimu."

Apakah selama ini kamu tidak ikhlas? Apakah selama ini kamu mendoakannya hanya untuk memenuhi egomu sendiri? Apakah kamu berusaha bertindak bak malaikat?

Lalu kamu menyadari, kamu adalah manusia yang boleh kapan saja marah. Yang boleh tidak mendoakan siapa-siapa. Yang boleh hanya mencintai dirimu sendiri. Kamu tidak perlu meminjam sedikit saja kebaikan malaikat untuk mendoakan orang-orang seperti lelaki itu, yang telah menyakitimu dan tidak memedulikanmu. Berlakulah seperti manusia pada umumnya. Tidak perlu memaksa diri untuk mendoakan hal yang baik kalau kamu tidak mau.

Kamu memang tidak perlu memberi doa baik, tapi tidak perlu juga memberi doa buruk. Kalau iya, apa bedanya kamu dengannya? Dengan mereka yang menyakitimu? Kalau kamu melakukan hal yang sama dengan mereka, kamu sama saja. Jangan sampai rasa sakitmu membuatmu ingin menyakiti balik orang tersebut. Cukup berdoa untuk dirimu sendiri agar dijauhkan dari keinginan membalas. Cukup meminta pada Tuhanmu agar diberikan bahagia sebanyak-banyaknya.

Merenungi tulisan seorang teman ternyata manjur sekali untuk meredakan amarahmu. Mengembalikanmu ke jalur yang seharusnya kamu lewati. Sama halnya dengan pagi ini, seorang teman kembali mengingatkanmu untuk satu hal:

"Aku nggak mendoakan mereka yang menyakitiku bukan karena aku nggak ikhlas, tapi karena mereka memang nggak pantas untuk mendapatkannya, setidaknya dariku. They'll get what they deserve as well."

Kamu menyetujui ucapannya. Tindakan yang selama ini kamu pikir terbaik, ternyata nggak baik-baik amat. Kamu merasa apa yang kamu lakukan—mendoakan mereka—terasa sia-sia. Itu karena kamu mengharapkan doamu terkabul cepat, tetapi benar, Tuhan tidak bodoh. Semua manusia akan mendapat apa yang pantas didapatkannya. Tuhan tahu persis itu. Jadi kamu tidak perlu repot memikirkan apa yang tidak perlu kamu pikirkan.

Mendoakan dirimu dan orang-orang yang menyayangimu sudah lebih baik dari pada apapun.[]

Post a Comment

0 Comments