September dan Pertemuan Pertama di Tahun Lalu

September 08, 2020

Pertemuan pertama seperti sayatan yang kembali terbuka. Kali ini menyakitkan, tetapi lebih merasa marah karena sayatan itu tidak juga sembuh. Sendu yang beberapa hari ini mampir mungkin karena perasaan itu. Memori yang muncul karena tanggal pertemuan yang sudah terlewat. Selasa siang di Kemayoran, tanggal 3 September 2019.

Tidak banyak dari pertemuan pertama yang aku ingat, karena memang malas mengingat. Aku hanya ingin cerita dan mengeluarkan isi pikiran.

___

Kau menghilang dan aku tidak berniat mencarimu lagi. Sama seperti tahun lalu ketika aku memilih menghilang, kaupun sama sekali tidak mencariku. Melainkan mencari orang lain dan mengkambinghitamkan kehilanganku untuk memulai yang baru.

Oh, betapa memori itu begitu lekat dan menyeruak. Mengobarkan api di dada untuk sebuah kemarahan yang tak juga selesai. Setahun berlalu dan aku masih tetap ingin marah mengingat pertemuan pertama kita yang seharusnya bisa terjadi lebih baik daripada yang kita lakukan saat itu.

Aku mencoba berbenah, merelakan apa yang sudah hilang, mengikhlaskan apa yang sudah kau ambil dengan setengah memaksa dan tanpa izin. Aku sudah berdamai dengan itu,  hanya saja, aku tetap menyesalinya. Andai pertemuan kita terjadi lebih baik, mungkin aku tidak sebenci ini padamu. Mungkin aku tidak semarah ini karena aku bisa saja meninggalkanmu lebih dulu dan kau bisa dengan mudah mengklaim lagi sebagai korban yang ditinggalkan pasangan.

Tetapi, sesuatu yang terjadi bahkan lebih rumit daripada itu. Aku sudah bisa menyebutmu bajingan, meski dalam hati paling dalam masih sering mengasihani perihal hidupmu yang terlalu didramatisir.

Orang-orang boleh bilang aku meromantisasi banyak hal, termasuk kejadian pelik denganmu. Tetapi itu caraku untuk mengingat sekaligus mengingatkanmu agar tidak mengelak dari apa yang sudah terjadi. Dan sejujurnya aku tidak terima ketika pasangan barumu menyudutkanku dan bilang aku hanya berasumsi. Apa kau cerita dengan benar atau tidak padanya? Apa kau lagi-lagi memanipulasi ceritamu seperti yang kau lakukan padaku?

Aku tidak pernah bisa bicara lagi denganmu karena memang aku tidak mau. Aku tahu kita tak pernah menemukan titik temu setelah perpisahan. Kau yang selalu marah dan aku yang juga punya ego tinggi tidak bisa lagi mengalah. Tetapi kuyakin, pasanganmu sekarang juga hanya berasumsi karena dia tidak tahu cerita langsung dariku atau mantan-mantanmu sebelumnya. Aku yakin dia cuma tahu cerita darimu seperti yang aku alami dulu.

Aku sedang tidak tahu bagaimana hidup akan berjalan setelah ini. Aku baik-baik saja, selain ingin marah karena aku harus bertemu denganmu di tahun lalu dengan cara yang semacam itu. Tidak ada yang ingin aku ingat selain momen menemanimu membuat tato dan menonton bioskop bersama seperti pasangan pada umumnya. Selain itu, aku selalu ingin menghapusnya. Karena hal itu yang membuatku berkali-kali ingin mati.

Aku tahu kini kau melangkah dengan hidup yang baru, semoga saja itu benar-benar menjadi titik balik untuk hidupmu. Tetapi apa kau sudah menyelesaikan banyak hal di masa lalu? Aku tidak berharap banyak bahwa kau akan datang dan meminta maaf padaku meskipun memang aku mengharapkannya.

Karena aku sama sekali tak pernah mendengarmu mengucap maaf bahkan untuk kesalahan yang kau buat. Herannya, selalu aku yang meminta maaf agar tak lagi membuatmu marah dan jengah.

Sampai hari dimana kau mengobral foto menyebrang jalan ala zebra cross bersama pasanganmu, aku tetap ingin marah. Kok bisa? Apa kau kebablasan sampai harus menikahinya? Apa kau... masih belum bertaubat? Maaf, ini asumsiku, tapi melihat kelakuanmu, aku tidak heran kalau benar demikian.

Aku bersyukur karena kau tidak kebablasan denganku dan menjebakku untuk hidup denganmu lebih lama walaupun ya, kita pernah punya rencana menuju ke sana. Entah itu basa-basi atau serius, aku tidak tahu.

Kalau niatanmu baik, kudoakan yang baik juga untukmu. Semoga kali ini berjalan mudah dan tidak berakhir buruk seperti sebelumnya. Doa baik untukmu, jangan bikin susah banyak orang ya. Sudah terlalu banyak yang tersakiti cuma gara-gara kau.

Hiduplah dengan baik, Mas. Semoga kembali ke jalan yang benar.

Bogor, September 2020.

20:41.

You Might Also Like

2 comments