Mengakhiri Kisah Setelah Satu Tahun Berpisah

September 25, 2020

Note: Tulisan ini akan berisi keluh kesah, pertanyaan, dan amarah yang tidak tersampaikan karena objek dalam tulisan ini sudah sangat bebal untuk  menanggapi konten semacam ini. Jadi, yaudah. This is the last.


Hai, lagi.

Aku tahu perpisahan takkan pernah mudah. Begitupun aku dan kamu. Aku tahu perpisahan kita diakhiri dengan baik, meski tidak seperti yang aku harapkan. Aku tahu seharusnya apa yang sudah berakhir, entah rasamu padaku atau hubungan kita, harusnya memang disudahi. Tetapi ternyata bulan-bulan pertama "lepas" dari rutinitas bercakap setiap hari terasa berat bagiku.

Aku tidak punya kawan lain yang kolom pesannya selalu aku tumpahi kalimat sapaan setiap pagi atau kalimat penutup sebelum tidur. Mungkin aku tidak sepertimu yang beberapa hari setelah kita berakhir langsung  menemukan tempat lain untuk berkeluh kesah, membicarakan aku yang tak pandai bercakap serta lebih bisa mengertimu. Tidak apa, itu hakmu, tetapi aku tetap merasa itu salah. Apalagi ketika aku tahu di tanggal kepulanganmu dari Jakarta kamu sudah mulai menentukan arah yang lain dengan menorehkan kalimat, "I love you too, Mbak X. Dibalas dong biar saya senang." di blog seseorang yang aku kenal. ;)

Mengakhiri kisah tidak pernah menjadi mudah buatku. Termasuk soal urusan kenapa aku masih mempertahankanmu walaupun sejujurnya aku juga sempat berpikir untuk putus sehari setelah kamu membandingkan aku dengan mantan pacarmu sebelumnya. Bukankah membandingkan dua orang yang berbeda itu sebuah hal yang buruk? Bukankah kamu juga amat tidak senang kalau dibandingkan dengan orang lain? Tapi kenapa kamu malah melakukannya? Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu.


Kenapa harus marah?

"Yang udah berakhir nggak usah dibahas lagi dimanapun." Begitu katamu suatu hari ketika aku berusaha mempublikasikan kenangan.

Memangnya kenapa? Memangnya tidak boleh? Hanya karena ada kamu di dalamnya lantas aku tidak boleh menulis dan mempublikasikan apapun? Kamu takut hubungan kita yang sebentar itu diketahui orang banyak? Kamu takut perilakumu yang sebagian buruk diketahui mereka?

Kamu tidak pernah menjawabnya selain hanya berlindung dibalik kalimat, "Itu privasi gue."

Aku tahu, Mas. Privasimu masih aku jaga sampai hari ini. Kalau tidak, mungkin aku akan langsung bikin thread dengan menampilkan gambarmu secara gamblang. Aku menulis apapun selalu tanpa nama dan tidak banyak orang yang tahu dengan siapa aku berpacaran kecuali hanya beberapa orang.

Dalam sebuah tangkapan layar yang aku posting di sosial media, kamu juga marah. Apa kekasih barumu itu merasa terusik dengan keberadaan tulisan-tulisan itu? Mohon maaf kalau begitu, tapi menurutku aku juga punya hak untuk menuliskan apapun termasuk soal kamu. Dan aku tidak pernah punya urusan dengan kekasih barumu. Kalau dia marah, itu haknya, tapi aku juga punya hak untuk mengabaikannya. 


LDR?

Waktu seperti menjebakku untuk menyelesaikan puzzle hidupmu. Mula-mula aku diberi potongan cerita sedih di hari-hari pertama kedekatan. Lalu cerita itu bertumpuk jadi banyak pertanyaan yang tidak pernah aku temukan korelasinya. Sama seperti berita di manapun, kisah romansa dua orang haruslah punya dua sudut pandang yang membentuk cerita jadi satu kesatuan. Tapi saat itu aku hanya memegang satu: milikmu.

Aku tidak tahu apakah cerita versimu benar atau tidak. Aku lebih tidak paham mengapa kisah cintamu selalu diakhiri dengan ujung yang sama: ditinggalkan. Lalu kamu beranjak mencari perlindungan baru. Mengisi kekosongan statusmu dengan berpacaran lagi dengan alasan yang masih belum bisa aku terima; kamu butuh skinship.

Kamu bilang kamu kapok LDR. Tetapi aku melihatmu selalu berpacaran dengan orang luar pulau. Apa dengan LDR keinginan "skinship"-mu bisa terpenuhi? Bukankah malah merepotkan karena kamu tidak bisa bertemu setiap hari? Hm, aku semakin tidak mengerti jalan pikiranmu.


Menuntut, tapi tidak pernah berbenah.

Begini, beberapa waktu dalam kedekatan kita di awal, aku sangat takjub ketika kamu bilang,  "Gue sejujurnya berusaha menahan perasaan gue untuk bilang kalau gue pengen serius sama lo." (16 Juli 2019).

Aku yang tidak berpengalaman ini lantas menerimamu dengan segala kompromi. Menutup mata untuk segala kemungkinan buruk meskipun bendera merah sudah terlihat sejak awal ketika kamu menyebutkan, "Hidup lu akan rumit kalo sama gue." Ternyata memang benar kejadian. Aku terjebak pada superhero syndrome. Mendengar kisah sedihmu, aku lantas ingin menjadi seseorang yang dengan sigap membantumu "sembuh", membantumu keluar dari permasalahan.

Bukankah aku sempat bilang padamu bahwa aku akan mundur kapan saja kalau kau masih belum bisa memulai hubungan? Tapi kau dengan yakin bilang ingin mencobanya denganku. Lalu, apa aku salah menilai soal hubungan kita waktu itu?

Kamu selalu bilang, "Gue orangnya begini blablabla" dan kamu tidak pernah peduli omongan orang. Kupikir itu hal baik karena ada banyak hal di dunia ini yang lebih penting untuk dipikirkan dibanding mendengarkan omongan orang yang tidak ada habisnya. Tapi ternyata kamu menuntutku untuk banyak berubah sesuai maumu. Alih-alih mengiyakan, kamu selalu berucap, "Jangan berubah karena gue." atau "Kalo nanti lo nggak sama gue, hal itu akan berguna." Sampai "Gue udah kasih kesempatan, tapi lo nggak berubah juga, malah tambah parah." Lalu kamu bagaimana? Halo, Mas? Apa kamu juga memperbaiki dirimu?

____


Ada sangat banyak hal yang sebenarnya ingin aku tanyakan, tapi bukan itu tujuanku menulis ini. Pertama, aku sama sekali tidak pernah ada urusan dengan kekasih barumu. Tolong dipahami, urusanku cuma denganmu, bukan dengan kekasih barumu. Masa bodoh dia mau apa, aku juga tidak peduli. Yang jelas, caranya sungguh lucu untuk sekadar menarik perhatianku.

Kedua, terima kasih sudah pernah ada dan membiarkanku sadar kalau yang kamu lakukan selama ini adalah tindakan gaslighting dan manipulatif. Aku menyadarinya hampir setengah tahun pasca pisah denganmu. Gila, ya? Selama denganmu aku pikir aku yang salah karena tidak bisa membangun pembicaraan dengan baik. Aku pikir aku yang salah karena tidak mampu berubah walau kubilang aku sayang padamu.

Tapi ternyata kamu juga tidak memperbaiki apapun, kan? Kamu juga tidak berusaha apa-apa atas ucapanmu di awal yang bilang ingin serius padaku kan? Kamu bilang, "Orang tua lu mungkin nggak akan setuju sama gue" dan kamu juga mengajukan banyak syarat termasuk menginginkan pasanganmu pindah ke kotamu. Tapi kenyataannya apa? Bertemu orangtuaku saja kamu enggan, kan? Jadi, siapa di sini yang tidak berusaha? Siapa di sini yang tidak memberi kesempatan?

Aku tahu kita berdua sama-sama salah. Kita berdua sama-sama tidak melakukan apapun. Tapi banyak hal di antara kita yang selalu kamu limpahkan padaku, kamu bilang semua kesalahan ada padaku yang tidak mau berubah. Sedang kamu, berusaha memperbaiki pun tidak. Kamu pada akhirnya cuma mendekam di balik "trust issue"-mu itu. 

Rasa sedihku sungguh sudah berhenti di bulan  kedelapan. Sejak aku menyadari seharusnya aku lebih bersyukur tidak terjebak lebih lama denganmu. Kalau iya, mungkin aku akan mati duluan atau setidaknya membunuhmu dulu lalu masuk penjara. Hari ini sampai hari-hari seterusnya mungkin yang ada cuma rasa marah karena aku benar-benar tidak habis pikir.

Meski benci setengah mati, aku tidak memungkiri bahwa kadang aku masih memikirkanmu. Memikirkan betapa bodohnya aku tidak melihat maksud lain dari kehadiranmu. Sumpah, kamu benar-benar menyebalkan, ya.

Sekarang, aku sudah bisa bilang selesai denganmu. Kita memang tidak cocok. Karena kan jodoh adalah cerminan. Mungkin kamu sudah menemukan orang yang menjadi "cerminmu", yang sama-sama suka menuntut, tidak peduli omongan orang. dan... manipulatif?   Selamat, ya. Denger-denger mau nikah. Semoga kejadian dulu-dulu enggak terulang. Kasihan soalnya kalau uang WOnya batal, padahal aku ingat sekali kamu bilang ke aku nggak mau ada perayaan pernikahan karena sama aja dengan ngasih makan ego orang lain. Ternyata secepat itu pikiranmu berubah, ya? Nggak apa-apa, orang boleh berubah kok. :)

Tapi tenang, kalau kamu butuh bukti apapun soal ucapanmu kepadaku, aku masih punya. Ya bekal aja kalau kamu beneran lupa. Enjoy your life, tapi ingat ada karma mengikuti. Kabar baiknya, aku masih mendoakan yang sama: semoga kembali ke jalan yang benar, Mas.

Bye.


You Might Also Like

3 comments

  1. oalah....
    ternyata masih ada cowo yang jual kesedihan pas pedekate ya
    hahah

    ayok, wi bisa bisa

    tapi kalo ada kesempatan buat ketemu, slengkat aja orangnya, wi

    oh, skinship itu apaan lagi ya? ku tak tau huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diterjemahkan dari bahasa Inggris: Keintiman fisik adalah kedekatan atau sentuhan sensual. Ini adalah tindakan atau reaksi, seperti ekspresi perasaan, di antara orang-orang. Contoh keintiman fisik termasuk berada di dalam ruang pribadi seseorang, berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, membelai dan aktivitas seksual.

      Sumber: wikipedia.org/wiki/Physical_intimacy

      Delete
    2. Oji: Iya gue juga heran kok masih ada yangvpake trik kayak gitu buat pdkt wkwk

      Thanks, Ji. Ya gue sih mau mau aja nyelengkat ji. Tapi buat ketemu aja males wkwk.

      Nah itu udah dijelasin sama Gigip soal skinship.

      Gigip: Makasih, Gip udah bantu menjelaskan haha.

      Delete