Agustus dan Video Call Pertama Kita di Tahun Lalu

August 10, 2020

Demi meredakan efek kegamangan bulan ini dan untuk mengisi blog ini yang seolah mati suri, aku akan menulis beberapa hal yang ternyata menganggu pikiranku. Waktu-waktu di sepuluh hari bulan Agustus sedikit banyak dihantui oleh perasaan takut, sedih, rindu, dan marah. Aku bisa dibilang sudah akan mengubur dendam yang menaungi pikiranku kurang lebih hampir satu tahun ini.

Kubilang pada diri sendiri bahwa "Biarkan karma bekerja". Karena aku malas membuang-buang waktu untuk bertemu, menampar atau mendorong dia ke tengah jalan raya sampai tertabrak kontainer lalu bilang kalau aku tidak sengaja mendorongnya karena dia terlalu jahat. Tetapi meski demikian, mendengar kabar terbaru miliknya pun cukup membuatku berapi-api. Kau tahu kan, seperti dendam lama yang muncul kembali.

Begitu aku melihat tanggal hari ini, aku sedang mengingat-ingat apakah pertengkaran waktu itu terjadi di hari ini atau bukan. Sebab aku ingin menuliskan kemarahan, tetapi yang kutemukan adalah riwayat video call kita untuk pertama kalinya.

"Lu nggak malem mingguan? Eh kita ada appointment buat telponan ya entar malem."

10 Agustus 2019 jatuh pada hari Sabtu dan kami berjanji untuk melakukan panggilan video. Sebelum panggilan dimulai, ia sempat khawatir karena belum cukur kumis. Kubilang tidak apa-apa, aku tetap menyukainya bagaimanapun rupanya. Setelah kuyakinkan kalau itu bukan sebuah masalah, ia lalu mulai meneleponku. Dan ia hanya berkumis tipis, bukan kumis seperti bapak-bapak di kantor camat Galesong yang mungkin tidak pernah aku lihat juga.

Selama 1 jam 25 menit 16 detik yang menyedot kuota sebanyak 430,2 MB, kami membicarakan banyak hal yang jujur saja aku lupa isinya. Kau tahu kan rasanya bertatap muka dengan seseorang yang kau suka setelah hanya mendengar suaranya dan bertukar kabar via teks? Menyenangkan sekali. Beberapa kali kami hanya diam saling tatap lalu tertawa.

Sial, aku ingin marah mengingatnya.

Di tanggal yang sama, kami punya dua obrolan serius. Pertama, menyoal statusnya yang tak bisa aku jelaskan disini. Intinya ia berjanji untuk menuruti syaratku kalau-kalau kami berjodoh.

Kedua, dia bertanya, "Kenapa lu nggak mencari orang lain? Kenapa mau sama gue padahal kalo lu hidup sama gue akan ribet."

Sampai saat ini aku nggak akan mengelak betapa aku berusaha untuk mengimbangi dia dan pikirannya. Membuatnya nyaman berada bersamaku, juga mencoba untuk tidak terlalu mempermasalahkan kehidupannya yang rumit. Meski aku sadar sekarang, hidupnya super rumit. Kalau bisa aku buat pengakuan, siapapun orang yang bersamanya hanya akan terseret ke dalam kerumitan itu karena dia tidak benar-benar mau membenahi hidupnya. (Ini opini, bisa disanggah dengan kalimat, "Sotoy lu!").

Dia bilang kepadaku kalau dia sangat menghargai waktu, tetapi yang aku lihat dia menyia-nyiakan banyak waktu untuk tidak bergerak kemana pun selain mencari orang lain yang dia harap bisa menyembuhkan lukanya. Sebuah kontradiksi yang unik dan menyebalkan.

Ke mana pun kamu pergi, dengan siapa pun, kamu akan selalu menyakitkan karena secara tidak sadar kamu menyebar luka di banyak tempat tetapi tetap tidak berusaha menyembuhkan diri.

Tanggal 10 Agustus tahun lalu sedang manis-manisnya. Waktu pagi sampai malam terasa singkat dan bisa diisi dengan banyak sekali pembicaraan, termasuk persiapan idul adha, 17-an, kegiatan joggingnya yang baru dimulai lagi, menghitung hari untuk bertemu, sampai obrolan serius yang kini serupa janji manis tak tertepati.

Sampah!

Boleh jadi benar, ingatan lekat ini akan selalu ada sampai aku mati. Di dalam pikiranku, aku tetap memberikan sumpah serapah paling kejam atau doa-doa baik dan buruk yang bisa jadi suatu saat membuat hidupnya tidak tenang.

Terakhir, nggak perlu khawatir aku akan membongkar apapun, karena kebodohanmu akan terbongkar dengan sendirinya, Mas. Mau kamu nggak peduli gimana pun, karma buruk akan tetap mengikutimu kalau kamu tidak segera berbenah. Baik-baik, ya. Lekas kembali ke jalan yang benar.

Cileungsi, Agustus 2020.

01:11

You Might Also Like

2 comments

  1. Otak manusia enggak punya fitur “shift + del” untuk menghapus memori secara permanen, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, andaikan ada, mungkin ketidaksalingkenalan ini akan semakin mudah dijalani.

      Delete