Tidak Ada Ponsel Pekan Ini

July 24, 2020


Pagi seperti sekumpulan memori buruk yang masuk melalui celah kecil di lamunan. Orang-orang berangkat kerja seperti biasa. Pukul 7 dan bus berangkat tepat waktu menuju tujuan akhir Terminal Blok M. Aku selalu memilih duduk di kursi depan, di belakang supir, dengan tujuan melihat jalanan lebih luas dari jendela depan yang lebarnya seperti menonton orang balapan di jalan tol. Atau mungkin menonton kendaraan tersendat dan berhenti dalam waktu yang lama.

Ponsel dalam genggaman seperti kewajiban yang tak bisa ditinggalkan. Panasnya melebihi genggaman tanganmu yang longgar ketika kita berjalan di trotoar sebelah Grand Indonesia selepas kau menukar tiket menonton pertandingan bola. Tidak apa, aku sudah terbiasa. Ponsel lebih sering kugenggam dibandingkan tanganmu yang cuma sepersekian detik.

Dengan sengaja aku membuka fitur catatan di ponsel dan teringat kalau hari itu adalah hari kedelapan bulan tujuh yang tahun lalu masih kunikmati denganmu. Segala percakapan tentang perasaan dan serba-serbi perkenalan yang menyenangkan. Aku ingat, ada keraguan muncul di kotak kecil di kepalaku. Aku tidak pernah tahu hidupmu, tidak juga mengenalmu. Tetapi, percakapan kita di masa lalu masih tersimpan utuh di memori ponselku, hanya saja aku enggan membukanya lagi. Terlalu menyakitkan.


Tahun lalu, beberapa hari dari tanggal 8, aku menulis sebuah puisi: Setelah Sembilan Hari Tanpa Jeda. Pun dengan pagi yang panasnya sudah mulai terik ini, aku menulis puisi lagi, untukmu. Untuk segala gundah yang terlalu mencemarkan pikiranku. Sederhananya, aku mengingatmu lagi.

Menyelesaikan satu puisi dalam beberapa saat mungkin keahlianku, tetapi entah itu bagus atau tidak, aku tidak tahu. Yang jelas, pesanku tersampaikan walau aku tahu kau tidak akan pernah membacanya. Hari itu, aku juga berusaha mengikhlaskan banyak hal. Pesan-pesanmu yang tak pernah kubaca lagi sudah akan kubiarkan meski belum sanggup untuk menghapusnya.

Sampai ketika pekerjaan sedang membabi buta, ponselku membeku di layar dan… mati total.

Detik itu juga aku tidak memikirkan apapun selain pekerjaan dan perasaan lega yang entah darimana. Aku lega bisa lepas sejenak dari perasaan terpenjara karena pesanmu masih ada di sana. Aku lega bisa lepas dari pikiran buruk yang selalu kudapatkan ketika membuka media sosial. Aku lega, entah karena apa lagi.

Satu pekan tanpa ponsel dan aku hanya menghubungi beberapa teman dekat yang biasanya sering menghubungiku melalui ponsel. Satu pekan yang damai tanpa distraksi apapun. Aku menyelesaikan buku yang terlambat selesai, aku menyelesaikan dua anime dalam dua hari, aku menyelesaikan pekerjaan dengan tenang tanpa distraksi media sosial, aku kembali menulis di buku catatan, dan aku sejenak melepaskanmu dari pusat memori.

Satu pekan berlalu dan aku mendapatkan ponsel baru. Sudah siap memulai yang baru. Sudah siap dengan segala perasaan baru. Namun, ketika memulihkan memori Whatsapp…

Pesanmu utuh. Sejak 8 Desember 2018. Lengkap dengan semua foto yang pernah kau kirimkan.

Satu pekan ketenanganku seperti hilang tersambar petir. Kaget, tapi terbiasa. Perasaanku hari ini biasa saja. Aku sudah tidak sedendam itu padamu. Aku sudah mulai memikirkan hal lain alih-alih mengingatmu terlalu lama. Ya, memang tidak perlu lagi, kan? Tetapi biar saja pesan itu masih di sana. Biar saja gambar-gambar itu masih di sana bersama segala memori yang utuh.

Aku tidak sempat membacanya lagi, dan aku juga malas. Tetapi, hiduplah dengan baik, walau kita masing-masing masih sering merasa tercabik.

Cileungsi, Juli 2020.

You Might Also Like

5 comments

  1. Kalo kata pepatah,"karena nila setitik rusak susu sebelanga".

    Tapi memang sih, galeri di hape adalah arsip masa lalu paling nyata. Kalau lagi gabut, harus menghindari dari rasa ingin ngoprek galeri foto lama. Bisa-bisa jadi masuk kapsul waktu dan berakhir di tempat yang sama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Peribahasa itu kaaak! Wkwk. Tapi benar, gara-gara memori seuprit, rusak kesenangan hidupku.

      Galeri foto lama seperti memoar. Di dalamnya ada rasa sakit sampai pelajaran berharga. Tapi ya sudah disyukuri saja. Toh galeri itu juga punya kita ya. Sesuatu yang membuat kita ada di masa sekarang.

      Delete
    2. Ha ha ha. Namanya berubah yah? Kok tidak ada amandemennya?

      Delete
  2. Sekarang sepekan tanpa HP aja terasa sulit. Karena butuh buat baca buku digital di iPusnas maupun Moon Reader Pro, menulis apa pun yang mungkin kelak terbit di blog, dan pastinya tethering ke laptop karena enggak ada mifi maupun wifi. Seumur-umur paling lama enggak pegang HP sekitar dua bulan pada masa-masa suram. Ponsel gue biarkan terjatuh di selipan kasur tanpa ada niat mengambilnya. Itu pun setelah mulai megang lagi dan buka WhatsApp yang mencari bisa dihitung jari tangan. Haha. Sedikit itu yang masih benar-benar peduli. Tapi bodo amat.

    Gue belum pernah sih HP rusak sampai kayak begitu, cuma ada kejadian konyol harus mengikhlaskan semua data di ponsel karena pas mau transfer lagu dari laptop teman, sama dia disinkronisasi. Udahlah, semua data di ponsel ketukar sama data dia. Tai banget. Wqwq. Hal baiknya, kontak dan foto seorang perempuan yang pengin gue lupakan sudah lenyap, lalu gue benar-benar berhasil beranjak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau bukan karena hape rusak dan mati total kayaknya gue juga gabisa lepas dari hape. Karena kerjaan gue musti stand by di hape. Soal yang nyariin di WhatsApp gue juga bisa dihitung jari sih Yog. Bener-bener yang emang deket sama gue.

      Bisabisanya data sampe ketuker gitu dah wkwk. Gue masih sisa nih foto laki laki yang pengen gue lupakan. Tapi ya gue juga masih susah buat ngehapusnya walau mau juga beranjak pelan-pelan.

      Delete