Menuju Juli dan Kenangan Melebar Seperti Telur Dadar

June 29, 2020


Setahuku kenangan yang sudah lama disimpan akan tetap bisa muncul ke permukaan dan membuat si pemilik pikiran meronta-ronta di dalamnya. Kenangan manis kadang membuat sedih, sebab kini yang manis bisa jadi tak lagi semanis dulu. Kenangan sedih bisa jadi malah membuat bulir air mata tak turun lagi, sebab kesedihan menguap bersamaan dengan waktu yang terlewat dan momen yang lenyap.

Kenapa pada akhirnya aku memasukkan kata "Telur Dadar" di dalam judul? Tentu bukan tanpa sebab. Tetapi ini juga bukan teori ilmiah yang bisa dibuktikan. Ini cuma analogi ngawur tanpa eksperimen sebenarnya. Anggap saja ini akal-akalan dan cocokologi untuk sebuah penyampaian kenangan yang terlalu masif memenuhi pikiran sepanjang Juni yang menipis.

"Aku lapar." Dengan sopan aku menyuruhnya makan apapun yang ada di rumahnya. "Tapi ibuku tidak masak."

Aku bergeming sejenak. "Kapan terakhir kali kau makan mi instan?"

"Dua hari lalu."

"Oke, jangan mi instan lagi kalau begitu. Bagaimana kalau telur dadar?"

"Tidak ada telur di rumah. Dan aku sungguh malas memasak."

Perihal telur dadar kini makin melebarkan kenangan sampai di batas malas untuk meninggalkan bulan Juni dengan sempurna. Setiap kali mengakhirinya, kalimat-kalimat kecil semacam itu serupa pohon-pohon yang meranggas. Daunnya berguguran, tetapi malah menyuburkan alih-alih mati. Bedanya, kalimat-kalimat itu sekarang adalah bagian dari memori, bukan lagi sesuatu yang akan terjadi di kemudian hari.
___

Aku kini sedang duduk manis di dalam sebuah perjalanan menuju Juli dan berharap Juni mau melepaskanku dengan damai. Atau Juli mau menerima segala luka dan merawatnya hingga sembuh total. Orang-orang tampak sibuk dengan pikirannya masing-masing, aku juga turut di dalam pikiranku sendiri. Memompa ingatan, membuat balon kenangan, dan ingin memecahkannya saat ini juga. Aku tidak ingin melawan pikiranku sendiri dan malah membuatku tak bisa mengikhlaskan banyak hal. Aku ingin membiarkannya ada, meski perasaanku hari ini sudah biasa saja. Paling-paling ingin tertawa.

Juli tahun ini seperti sekumpulan kotak kaca yang pecah dan berserakan di mana-mana. Aku harus melewatinya dengan hati-hati kalau tidak mau terluka lagi. Sebab, perasaan yang sebelumnya utuh jadi tidak terkendali ketika mengingat kenangan yang terlalu banyak dari hari ke hari.

Pikiranku hari ini seperti media penampung rasa. Pagi tadi, aku terbangun seperti biasa, tetapi merasa ada di putaran waktu setahun yang lalu ketika ada kalimat mengesankan yang kudapat dari seseorang.

"Aku orangnya setia, mungkin karena itu aku selalu dikhianati."

Aku tidak tahu siapa orang itu dan mengapa ia mengklaim dirinya menjadi pribadi yang setia. Aku tidak tahu ukuran apa yang ia pakai sebagai bentuk menilai diri agar bisa disebut setia. Aku sungguh tidak tahu mengapa, pada akhirnya, ia mengatakan hal tersebut kepadaku. Dengan catatan, kami tak saling mengenal sebelumnya. Aku bahkan hanya menanggapi dengan sopan, menerima segala pikirannya dan tak berasumsi apa-apa. Sebab aku tak tahu. Bukankah aku tak boleh sok tahu dengan kehidupan seseorang?

Bagian pikiranku yang lain kini jadi seperti album foto atau tepatnya album tangkapan layar. Ada banyak hal, pembicaraan, gambar, dan kalimat-kalimat menyenangkan yang membuatku mau tak mau membenahi pola pikirku dahulu. Sebagai album foto, kini memoriku memunculkan wajah seseorang yang sedang berada di kamarnya usai bangun tidur dan belum tersentuh air alias belum mandi. Atau potret lautan di depan rumah yang tak pernah aku kunjungi, tapi hampir selalu masuk dalam daftar tempat yang ingin aku datangi sepanjang ia berada bersamaku.

Sebagai album tangkapan layar, kini aku membuka arsip kenangan masa lalu dan mencocokkan banyak hal. Kalimat-kalimat kecil yang menyenangkan ternyata bisa jadi bumerang. Atau ideologi-ideologi yang muncul di tahun sebelumnya, ternyata cuma omong kosong penarik simpati. Aku tidak menyalahkan apa-apa dan siapa-siapa. Orang bisa saja salah atau lupa atau mungkin begitulah adanya. Orang selalu ingin terlihat baik di mata orang lain. Dan benar kan? Kita selalu jadi tokoh brengsek dalam cerita orang lain. Dan kini album tangkapan layar di kepalaku jadi sebuah bukti konkret untuk hal-hal yang sudah terjadi yang tak aku sadari waktu itu.

Seperti telur dadar, kenangan ini sudah terlalu melebar. Kalau terlalu lebar, nanti tidak enak dibaca. Menuju Juli ternyata tidak mudah. Waktu berlalu begitu cepat, tetapi kenangan tetap melekat dan dekat. Besok masih Juni, satu hari lagi sebelum memasuki Juli yang rasanya seperti memiliki mimpi buruk sepanjang hari. Tapi, semoga tetap baik-baik saja.

Perjalanan masih panjang. Hari ini makan apa? Nasi padang? Oh, kayaknya menu baru di mekdi enak juga.

Di dalam bus Cileungsi - Blok M.
29 Juni 2020. 08:07.

You Might Also Like

0 comments