Kata Pertama dan Aku yang Menyukai Ketersesatan Ini

June 22, 2020


Pelipur Lara dan Fiksi Mini Lainnya menjadi titik pertama kalimat-kalimatnya hadir untuk memenuhi pikiranku. Sembilan fiksi mini menjadi sembilan langkah awal yang kubaca lalu merasuk dengan khidmat dan membangkitkan memori tentang aku yang kerap menulis fiksi mini tanpa plot twist. Berbeda dengan miliknya yang terlalu magis untuk kucerna, tulisannya diramu seperti sebuah mantra.

"Ayo bikin lagi." Satu kalimat tak utuh untuk sebuah ajakan basa-basi yang tak lain dan tak bukan adalah untuk membalas kekagumanku pada tulisannya.

Komik Pelipur Lara

Setiap pagi ia membaca komik di depan rumah. Tapi pagi itu ia tidak ada di situ. Aku penasaran dan mendekat, ternyata hanya ada komiknya di atas meja. Komik itu terbuka, dan kulihat ia berada di dalamnya. Ia sedang asyik mengendarai angin.*

Jatuh di kalimat pertama mungkin sebuah kebodohan. Seperti ketidakwarasan yang mengambil porsi terlalu banyak ketika otakmu terlalu keruh untuk berpikir.

Hampir di akhir bulan pertama tahun ini, aku mencoba menantang diri sendiri membuat fiksi mini dengan ide cerita yang cukup aneh. Itu kali pertama di tahun ini aku menulis fiksi mini lagi setelah sebelumnya berhenti karena tidak punya ide untuk membuat ending ceritanya yang tak tertebak.

Tidak Ada Hantu

Aku tidak percaya hantu. Ibuku juga demikian. Setiap hari ibu selalu bercerita kalau hantu itu tidak ada.⁣
"Bu, yang sabar, ya. Ikhlaskan."⁣
Seorang perawat mengelus punggung ibu yang memeluk mainanku.⁣**

Tiga puluh kata, tidak kurang, tidak lebih. Dan kemunculannya menambah semarak di dada. Kalimat keduanya menjadi titik lecut untuk memulai percakapan tak biasa di kesempatan-kesempatan lainnya.

[Gambar Miliknya yang Kucuri Tanpa Izin]
Turn up your brightness and see the picture.

Sepenggal percakapan tanpa arah menjadi titik tumpu sebelum perjumpaan.

"Tolong jemput di persimpangan ketika kesedihan sudah reda, ya?"

"Sekarang udah reda belum?"

"Sedikit lagi sampai awan kelabunya benar-benar hilang."

"Bagaimana kalau kita bergeser ke bulan Mei? Disitu langit lebih sering cerah. Ya, ya?"

"Boleh. Bagaimana caranya mempercepat waktu?"

"Bentar. Sebelum aku jawab, aku mau meminjam pertanyaan ini dulu."
___

Menyertakan namaku pada sebuah persembahan cerita mungkin bisa jadi sebuah kelancangan, tetapi aku tidak bisa menolak ketika ia menulisnya secara jelas dan membuat debar berpacu seperti sedang balapan liar. Aku membacanya seperti seorang bajak laut yang mencari harta: penasaran, tapi tidak tahu di mana letak tanda X menyilang yang harus kutemukan dari pola pikirnya yang brilian.

"Bagaimana cara mempercepat waktu?"

"Fiksi. Kau bisa melakukan itu lewat fiksi. Dengan fiksi kau bisa memindahkan Januari ke Mei hanya dengan sekali tepuk."***

Aku lantas terlalu antusias mendapati namaku terpajang di tulisannya. Sesumbar pada pikiran yang menjadi bodoh setelah dibuat senang.

"Jadi, bagaimana kalau kita memfiksikan waktu bersama?"

"Aku punya pilihan lain. Bagaimana kalau kita main layang-layang saja? Eh, tapi sebentar, apakah kita saling kenal?"

Aku nyaris terbahak membaca kalimatnya. Kebodohan keduaku jatuh karena menjadi seorang yang sok kenal tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu. Ingatan-ingatan itu berbaur dengan campuran perasaan geli dan malu karena mencoba sok akrab. Padahal, kamu siapa hei? Ternyata kebiasaanku itu justru membuatku jadi mati kutu seperti tertangkap basah memperhatikan gebetan sedang makan mi ayam di depan sekolah.
___

"Setelah ini aku mau mampir ke blogmu," kataku.

"Jangan, nanti tersesat."

Seperti tumpukan kartu kesempatan dalam monopoli, kisah ini tidak berhenti sampai di sana. Masih ada kesempatan-kesempatan lain yang turut mendukung dua anak manusia menjalin percakapan sampai bulan Mei berlalu dan terlewati tanpa dipercepat oleh fiksi. Kenyataannya, semua yang terjadi murni keinginan Tuhan yang memberi takdir. Percakapan yang semula hanya tentang bertukar kata-kata dalam tulisan, kini menjadi pertukaran suara yang selalu didampingi suara motor dari tempatnya menghabiskan waktu hampir setiap malam.

Aku tidak tahu, adakah batas antara kewarasan dan ketersesatan yang kini sedang aku jalani atau tidak. Bertanya pada Tuhan atau percaya kalau ini takdir pun rasanya amat sangat kurang bisa dimengerti. Tetapi yang jelas, ketika menulis ini, aku sedang menikmati ketersesatan yang ia buat melalui pola pikirnya yang menarik. Meski tidak ada yang boleh sesumbar tentang betapa banyaknya percakapan sejauh ini, aku tidak ingin berharap apa-apa selain pertemuan yang nyata. Juga mungkin keinginan untuk menyelami isi pikirannya.

Seperti ucapannya waktu itu, aku berharap bosan datang lebih lama atau jangan datang saja deh. Hehe.

Kamar, di tanggal ulang tahun ibu kota ke-493.
03.10.

* Fiksi Mini miliknya yang aku kutip tanpa izin.
** Fiksi mini buatanku.
*** Tulisan miliknya yang juga aku kutip tanpa izin.

You Might Also Like

12 comments

  1. sepertinya memang menyenangkan mengutip tanpa izin, semoga itu bukan dosa yang harus diakui kebenarannya~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuuuul! Untungnya seseorang yang tulisannya aku curi untuk diletakkan disini sudah membaca ini hahaha. Jadi sepertinya tidak apa-apa karena sudah ketahuan mencuri.

      Delete
  2. Selama bukan kepentingan komersial, gue sering mengutip tanpa izin. Yang penting tertulis jelas sumbernya.

    Gokil juga cuma 30 kata. Fiksi mini yang di bawah seratus kata udah lama banget enggak bikin. Kayaknya terakhir menciptakannya tuh 2017. Zaman gue masih senang coba-coba. Contohnya begini:

    Kelaparan


    Saking laparnya, perempuan itu sampai harus memakan omongannya sendiri.

    (Januari 2017)


    Mati Perlahan


    Sepuluh kali tusukan kecewa tepat di dadanya. Lalu, kepalanya ditembak oleh kesepian. Pria itu pun ditemukan mati terbunuh oleh harapannya sendiri.

    (Februari 2017)

    Sekarang kurang sreg nulis sependek itu lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar, kutipan begini sih sebenarnya buat pelengkap cerita aja. Supaya jadi runut. Tapi disini sumber sengaja nggak ditulis namanya, tapi orangnya udah tau dan semoga mengizinkan. Haha.

      Iya,waktu itu bikin 30 kata karena tantangan event 30haribercerita itu, Yog. Fiksi mini bagi gue susah banget sih. Gabisa nulis banyak dalam sekali tulis.

      Tapi fiksi mini selalu menarik untuk diikuti, ditelaah, dan dibuat wkwk. Gue kalo bukan karena tantangan juga kurang sreg nulis sependek itu. Susah soalnya haha.

      Delete
  3. Part tidak ada hantu kok singkat tapi uuuhhh :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setelah kubaca berulang kali, aku kok malah tidak menemukan korelasi dari tulisanku sendiri ya wkwkwk. Seperti ada yang kurang. 😂

      Delete
  4. Saking bagusnya tulisan ini, barusan saya share ke RuangKata 👍

    ReplyDelete
  5. "Tidak ada hantu", auto merinding!

    Itu yg gambar item, kirain horor, eh es krimnya mau dong, hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syukurlah kalau pesannya nyampe di fiksi mini yang itu hehehe.

      Enggak dong. Justru gemes banget kan gambarnya? Huehehe

      Delete
  6. Kadang aku benci dengan fiksi, begitu mudahnya menyulap kata-kata menjadi seperti fakta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fiksi serupa fakta atau fakta yang difiksikan. Keduanya suka mengaburkan kenyataan. Hahaha.

      Delete