Marriage?

May 27, 2020


"Siapa pacarnya sekarang?"
"Kapan mau menikah?"
"Nunggu dilamar aja, ya?"

Saya lantas cuma tertawa menghadapi pertanyaan yang itu-itu saja hampir setiap hari. Intensitasnya kini meningkat melebihi anjuran minum obat dari dokter.

Sama seperti pagi ini, ibu saya mengirim fotonya dengan seorang bayi milik tetangga dan bilang, "Mama mau cucu." Saya cuma menghembuskan napas, antara kesal, tertekan, dan pasrah. Kenapa hal ini selalu jadi hal yang mengganggu pikiran orangtua ya? Bukankah kami para anak juga berhak hidup bebas sesuai keinginan? Kapan kami menikah, itu urusan kami kan?

Saya nggak ingin mengindahkan segala pesan dari orangtua. Tentu saya ingin menikah. Tentu. Tapi bukan sekarang. Bukan dalam keadaan tidak siap dari segi apapun kecuali aspek biologis. Saya merasa mulai muak dicekoki hal yang itu-itu saja setiap harinya.

"Nanti kalau punya suami blablabla..."

Hal mengenai pernikahan, rumah tangga, dan anak rasanya sangat membebani. Bukan berarti saya tidak memikirkannya, tapi ada banyak hal lain di luar ketiga hal itu yang menjadi prioritas saya saat ini. Pekerjaan dan karir. Saya mungkin enggak bilang ke mereka apa yang saya rasakan, karena tidak terbiasa bercerita. Saya hanya sempat menyuarakan kalau saya tertekan dengan kalimat-kalimat semacam itu, tetapi pada akhirnya mereka bilang kalau hanya ingin yang terbaik untuk saya.

Saya menangis dan memilih cuek. Bahkan ketika mereka mulai menyinggung saya tentang pernikahan (lagi), saya cuma diam saja, tak berkomentar. Saya sudah diambang pasrah.

Mengingat obrolan dengan beberapa teman yang mendapat tekanan serupa dari keluarganya, ia sampai bilang begini:

"Aku takut kalau nanti akhirnya menikah cuma karena memenuhi tuntutan, bukan karena aku benar-benar ingin dan sudah siap."

Saya lantas menertawakan diri sendiri karena merasa relate dengan apa yang diucapkan teman saya. Gila, sebegitu obsesinya kah keluarga akan pernikahan? Jujur saya justru takut akan banyak hal dalam pernikahan. Saya menganggap diri saya belum mampu. Saya merasa diri saya belum siap dan masih ada banyak hal yang ingin saya lakukan sebelum menikah.

Apakah ukuran kesiapan seseorang hanya dinilai dari usia?
Tahun ini saya 25. Usia yang dianggap sudah cukup untuk melangsungkan pernikahan. Tapi dengan siapa? Dengan apa saya harus menghidupi pernikahan ketika saya sendiri belum mampu memberi hidup pada diri saya sendiri? Dengan apa saya mau membangun "rumah" baru sedangkan rumah di diri saya belum selesai dibangun?

Apa saya terlalu naif dan rumit memandang pernikahan? Tapi bagi saya, pernikahan memang serumit itu. Kita akan hidup lebih lama bersama pasangan, memilih tinggal dan membagi segalanya dengan pasangan, tidak bisa egois, tidak boleh berkehendak sendiri. Meski masing-masing individu adalah manusia bebas, kita akan berkomitmen membagi dunia dan menjalaninya bersama bukan?

Saya bersyukur karena tetangga saya bukan orang-orang yang julid. Hanya beberapa kali mereka melempar pertanyaan pada orangtua saya, "Sudah hajatan belum sih?". Mungkin pertanyaan itu yang membuat orangtua saya juga tertekan, juga saya yang semakin tersudut karena teman sebaya di lingkungan rumah sudah banyak yang menikah.

Kenapa topik seperti ini lebih memusingkan, ya? Padahal menikah harusnya membahagiakan, bukan malah menambah beban. Tapi benar juga sih kalau ada yang bilang menikah itu membuka pintu masalah baru. Klisenya, kita harus siap berbagi pemikiran dengan pasangan untuk segala hal demi mencapai tujuan bersama. Menikah itu kerjasama, bukan? Harus sama-sama menguntungkan. Kalau tidak, ya buat apa?

Jadi, besok hari kalau ada yang tanya kapan saya menikah, tolong nggak usah ditanyakan, cukup doakan saja, ya. Bukankah doa lebih baik daripada pertanyaan menyebalkan yang justru saya nggak tahu apa jawabannya? Terima kasih.

You Might Also Like

2 comments

  1. Kalau saya malah ingin segera menikah dan keluar dari rumah. Masalahnya belum cukup duit. HAHAHA.

    Saya doakan semoga rezeki dan kesiapannya dilancarkan, ya, Tiwi. 🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau soal keluar dari rumah, saya lebih pilih merantau aja sih, Gip. Hahaha. Tapi semoga apapun yang kamu harapkan bisa dimudahkan dan dilancarkan, ya.

      Aamiin. Terima kasih doanya.

      Delete