Mantra

May 06, 2020


Sebuah catatan panjang perihal perjalanan yang malang. Tentang suatu hari saat aku merasa diriku amat bersalah pada seseorang hingga nyaris hilang akal. Aku sekarang cuma ingin tertawa, bukan karena aku mulai gila. Tapi karena segala hal mulai terbuka tanpa perlu susah payah mencari. Tanpa perlu susah payah membuat pembelaan diri.

Kadang kita menambah dosa dan rasa bersalah atas penghakiman kepada diri sendiri. Hal-hal yang terjadi bisa jadi memang begitu adanya. Walaupun kita selalu punya kuasa untuk menahan dan mengendalikan diri sendiri untuk tidak jatuh pada kesalahan yang kita anggap akan memberatkan.

Jangan denial. Jangan denial. Jangan denial.

Mantra yang sengaja disebut tiga kali agar pikiran bisa lebih menerima apa-apa yang sudah terjadi dan tidak lagi bergumul dengan pertanyaan, "salah aku apa?" Beberapa waktu memang terlihat tidak masalah untuk menyalahkan diri sendiri. Toh keadaan yang seperti ini juga andil dari keputusan yang dibuat dari sebelum-sebelumnya. Tapi menjadi sangat riskan ketika menyalahkan diri sendiri secara berkelanjutan.

Memangnya enak hidup dalam rasa bersalah terus? Kan tidak.

Beberapa dari kita juga merasa seseorang menjadi penyebab hancurnya kehidupan orang lain dan melakukan blaming terhadap orang tersebut. Lalu, bagaimana permasalahan ini akan selesai kalau hanya bisa saling menyalahkan?

Belakangan ini aku sudah mulai menyadari. Kita punya bagian masing-masing dalam menyumbang kesalahan di masa lalu. Aku dengan kepercayaan yang terlalu tinggi dan dia dengan tumpukan masalah yang membuatnya hilang rasa peecaya. Segala sesuatunya bisa jadi penyebab dan pemicu untuk kita menjadikan masing-masing pribadi yang bermasalah.

Bukan cuma soal urusan hubungan kandas, proses penyelesaian masalah juga nggak bisa selesai hanya dengan saling meninggalkan dan mencari pelarian yang baru. Orang-orang seringkali bilang, patah hati akan sembuh ketika menemukan yang baru. Bagiku, sembuh itu bagaimana cara kita merawat diri. Kalau kita sudah sembuh, segala sesuatu di luar itu akan tetap terasa menyenangkan. Kalau belum, cuma ada satu hal pasti: menyeret si orang baru untuk ikut ke lembah pesakitan kita.

Mantra yang aku sebut di atas sebenarnya adalah kalimat dari teman yang baru-baru ini aku temui. Sederhana, tapi sulit dilakukan. Karena beberapa faktor membuat kita tetap pada apa yang kita percaya walaupun kenyataannya berkata lain. Pada akhirnya, kita merasa terjebak, hendak bergerak, tapi ternyata tidak ada jarak sama sekali dati tempat lama ke tempat yang ingin kita tuju.

Secara otomatis, kita jadi denial alias menyangkal apapun yang ada di depan mata dan tetap mempercayai perasaan. Setidaknya kali ini aku sadar bahwa yang sudah terjadi memang kesalahan berdua. Sama halnya dengan hubungan-hubungan sebelumnya. Tapi, ketika sudah sadar, lalu apa?

Bergerak. Jangan diam. Keadaan memaksa kita untuk diam, tapi tidak dengan batin yang terluka. Kita mau sembuh, jadi harus ada upaya untuk menyembuhkan. Lagi-lagi, jangan denial. Fakta dan polanya sudah jelas. Kali ini, mungkin aku sudah bisa memetakan, akan seperti apa kejadian ke depannya jika terlanjur tidak bergerak. Toxic dan memprihatinkan.

Aku tahu tulisan ini nggak akan ada juntrungannya. Aku sedang berpikir untuk bisa menyuarakan hal-hal di pikiran selepas berdiskusi dengan temanku itu mengenai orang di masa lalu yang bermasalah. Soal rencana apa selanjutnya, mungkin masih akan dipikirkan mengingat kami sedang mencoba sembuh dan tidak ingin terlibat dengan orang itu lagi. Tapi apa mau dikata, sakit hati tetaplah sakit hati. Jangan kira kami mau diam saja.

Kok ini lagi-lagi kayak surat ancaman?

Jangan denial. Jangan denial. Jangan denial.
"He has an issue. Not us "

Catatan paling penting sekaligus tidak penting yang ditulis secara berantakan di Rabu pagi yang cerah ceria.

You Might Also Like

6 comments

  1. Baca kata denial, yang muncul di otak gue langsung lagu Nirvana - Smells Like Teen Spirit.

    Mantra gue ada banyak sih, biasanya dari lirik lagu. Seringnya dari lagu kartun, salah satunya Digimon: "Hal yang bukan urusanmu, lebih baik lupakan saja. Tidak ada waktu untuk bermain-main."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, terima kasih. Gue mau coba dengarkan sebelum tidur nanti.

      Lagu Digimon kayaknya gue nggak pernah dengar karena nggak pernah nonton juga. Hehe.

      Delete
  2. Saya merekomendasikan lagu “Medicine” dari Bring Me The Horizon. Kalau kurang sreg, bisa coba ketik “Drown - BMTH (Sonsout Cover)” di YouTube.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks. Nanti saya coba dengarkan juga sebelum tidur. Hehe

      Delete
  3. saya ikut merekomendasikan lagu "Cik-Cik Periuk".

    oh tidak, saya tidak sedang bercanda. makna lagu tersebut mengingatkan bahwa hal baru sering sekali menjadi perusak.

    di lagu itu memang membicarakan budaya, tapi kalo ditadabburi dalam dunia mikro pribadi, org lain berkemungkinan merusak diri kita, makanya disuruh selalu menjaga dan mengingat terus siapa sebenernya diri kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oke, baik. Terima kasih rekomendasinya. Akan saya cari di Spotify atau YouTube dan saya dengarkan esok menjelang maghrib.

      Delete