Kamar 3518

May 29, 2020


Aku menatap matanya, nyalang. Berusaha mencerna apa yang ia katakan barusan. Sedetik yang lalu tanpa aba-aba. Tanpa memikirkan bagaimana perasaanku. Tanpa mengerti situasi yang sedang kami hadapi. Ia membisu. Aku bergeming. Kami berdua sama-sama dijatuhkan oleh ekspektasi dalam pikiran masing-masing.

Entah mengapa aku tidak bisa mengungkapkan amarahku saat itu. Aku hanya memandangnya tidak mengerti. Berharap ia mau menjelaskan dan terlebih minta maaf atas apa yang baru saja ia ucapkan. Kenapa ia bisa sampai berpikiran semacam itu padahal ia sedang bersamaku?

"Apa... apa aku tidak salah dengar?" Aku akhirnya bertanya, meski bibirku gemetaran.

"Ya, aku mengatakannya secara jujur. Aku tidak berbohong."

Aku menjambaki rambutku dengan gemas. Mengapa enteng sekali ia memberitahuku hal semacam ini?

"Bukan itu maksudku!" Aku tak pernah mengerti jalan pikirannya. Apa dengan berkata jujur bisa meluruskan segalanya? Apa ia pikir hanya dengan jujur bisa membuat kami tetap baik-baik saja?

"Kenapa kau marah sih? Aku kan sudah bilang secara jujur padamu. Tidak berbohong. Kenapa kau masih tidak terima?" Ia memandangku dengan wajah tidak bersalah dan mempertanyakan hal yang jelas-jelas salahnya padaku?

Kupikir ia sudah kehilangan kewarasan atau mungkin aku yang terlalu naif untuk percaya padanya sepenuhnya.
___

Jakarta hari itu begitu terik dan seperti punya dua matahari sekaligus. Terik yang benar-benar terik hingga kau bisa mengeringkan semua cucianmu hanya dalam dua sampai tiga jam. Es di dalam gelas bisa lebih cepat mencair daripada hari-hari sebelumnya. Entah mengapa aku merasa Jakarta hari ini berbeda dari biasanya.

"I'm on my way. See you in a couple of hours."

Sebuah pesan masuk ke dalam ponselku dan menarik sudut-sudut bibirku membentuk senyuman.

Tidak ada yang berubah dari wajahnya. Tidak pula dengan bibirnya yang memesona itu. Apa yang kupikirkan selama ini selalu kuyakini bahwa sebuah pertemuan akan hadir di antara kami. Mengisi ruang-ruang yang sebelumnya kosong dan dikosongkan hanya untuk pertemuan ini. Aku mengaguminya. Garis wajahnya, alisnya, bibirnya, tangannya yang merengkuhku ke dalam pelukannya. Aku mencintainya dengan sangat.

"Jakarta benar-benar seperti neraka." Ia baru bersuara setelah aku mendinginkan tubuhku di bawah AC.

Aku menoleh ke arahnya yang sedang berbaring di kasur. "Kau pernah ke neraka sebelumnya?"

"Tidak juga. Tapi sepertinya kalau aku mati nanti, aku akan masuk neraka."

"Kenapa?"

"Karena aku banyak melakukan kesalahan selama ini."

"Contohnya?"

"Membuatmu datang kemari sendirian."

Ia lantas mendekatiku, memandangku lekat, mengangkat daguku dan mengecup bibirku dengan lembut. Aku tak sempat menolak, juga tak tahu bagaimana cara menikmatinya. Aku hanya mengikuti caranya memagut bibirku dan memainkan lidahnya di mulutku. Tepat saat itu, ia sudah mencuri ciuman pertamaku. Ya, mencuri... tanpa meminta izin.
___

"Bisa kau bilang sekali lagi apa maksudmu tadi?" tanyaku setengah terisak.

"Kemarin aku tidur dengan wanita lain."

"Bajingan..." ucapku lirih. "Kau sudah janjian sejak kapan dengannya, hah?!"

"Sebelum ke Jakarta."

"Aku salah apa padamu?" Aku menyandarkan tubuhku ke dinding dan merasakan air mataku turun begitu deras.

Kamar itu kini begitu dingin dengan keheningan. Masing-masing dari kami tenggelam dalam pikiran. Hanya terdengar isakanku yang sedikit meramaikan kekosongan dan suara tertawa yang begitu keras dari kamar sebelah. Ia masih duduk memandangku. Kami dibatasi oleh kasur king size yang kemarin malam ditidurinya dengan wanita lain.

Aku tak bisa membaca ekspresinya. Mataku masih buram oleh air mata dan tampaknya ia tak ingin mengatakan apa-apa. Aku geram, tapi entah mengapa tak bisa menyalurkan amarahku padanya. Kalau bisa, kalau nekat, mungkin aku akan mendorongnya melalui balkon dan membiarkan ia terjun bebas dari lantai 35.

"Kau lapar?" Ia bersuara.

Apa katanya? Ia bertanya apa aku lapar atau tidak? Di saat seperti ini? Apa ia tidak punya pertanyaan lain? 

Apa ia tak mau minta maaf?

Apa ia menganggap hal itu wajar-wajar saja?
___

Matahari hampir meluncur turun ketika ia mulai membuka kancing kemejaku dan mengecup leherku. Ada bagian yang tak terelakkan dari pikiranku. Setengah menolak, setengah lagi penasaran. Aku selalu ingin tahu, tapi juga tidak tahu bagaimana cara menghentikan aksinya sore itu.

Ia berkali-kali mengecup bibirku dan berbisik di telingaku. Kalimat-kalimat manis yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Kumisnya yang dicukur tak bersih menimbulkan efek geli ketika bibir itu mampir di dadaku. Sialan, apa ia sudah mendapat persetujuanku untuk melakukan ini?

Ia melakukannya tanpa persetujuan. Ralat. Aku hanya memberinya setengah, tetapi ia merayuku begitu halus dan lembut sampai aku pasrah mengiyakan tindakannya sore itu. Sialan. Apa aku akan baik-baik saja dengannya setelah ini?

Tiba-tiba aku dihantui perasaan tidak nyaman. Sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan. Sesuatu yang seharusnya bisa aku hindari.

Ia menindih tubuhku ketika teleponnya bergetar dan kami mengabaikannya.
___

"Kau benar-benar tidak lapar?" ulangnya.

"Tidak."

"Aku mau keluar untuk beli makan. Kau mau ikut?"

"Tidak."

"Kau mau titip apa?"

"Tidak ada. Aku mau pulang saja."

"Kenapa?" Aku lantas menatapnya kecewa. Apa ia masih belum sadar kalau itu sebuah kesalahan?

"Kau tidur dengan wanita lain dan kau masih tanya kenapa?"

"Aku kan sudah jujur."

"Apa dengan jujur lantas aku bisa melupakannya begitu saja? Sudahlah. Aku mau pulang. Kau lanjutkan saja dengan wanita itu." Aku membereskan barang-barangku dan bersiap untuk keluar dari kamar.

Ia tak mencegahku pergi dan tak juga meminta maaf. Pintu kamar kubanting dan itu terakhir kalinya aku melihat wajahnya.[]

Bogor, Mei 2020 

You Might Also Like

2 comments