Ignorance is a Bliss

May 19, 2020


Siapa di antara kita semua yang memilih untuk membatasi akses untuk hal-hal toxic demi ketentraman hati dan pikiran? Apakah tindakan membatasi akses ini merupakan hal yang salah atau memalukan? Saya rasa tidak.

Pada akhirnya saya mengakui bahwa saya sudah terlampau egois pada diri sendiri. Terlihat ingin menaruh niat baik, tapi nyatanya malah menyakiti. Saya sudah harus membentuk sikap setelah "ditampar" berkali-kali oleh beberapa teman. Sekali, bebal. Kedua, mental. Ketiga dan seterusnya baru mulai sadar bahwa saya dengan sukarela menyakiti diri sendiri.

Sama seperti yang pernah saya bahas di instastories waktu itu, membatasi akses atau berhenti mengikuti akun seseorang yang tidak kita sukai atau mungkin memberi dampak kurang baik bagi mental, itu sangat tidak apa-apa. Bukan berarti kita membenci, tetapi kita hanya berusaha melindungi diri dari hal-hal yang membuat kita tidak nyaman.

Orang lain berhak marah. Orang lain berhak tidak suka atas tindakan kita, tapi apa boleh buat. Ketika kita menganggap seseorang telah "mengganggu" hidup kita, kenapa kita tidak boleh menutup pintu rapat-rapat dari apa yang ia perbuat? Toh kita punya hak untuk itu.

Apakah menekan tombol block seperti sebuah permusuhan?
Tidak dapat dipungkiri, ketika ada seseorang yang menekan tombol block pada akun sosial media milik saya, tentu saya akan berpikir dan bertanya-tanya, "Apakah saya melakukan kesalahan fatal sampai saya diblock dari akunnya?" Saya terus bertanya pada diri sendiri apa alasan dibalik tindakannya itu. Semakin lama, semakin membuat pikiran saya berpikir macam-macam. Padahal, kejadian seperti ini harusnya menjadi biasa saja. Mungkin saya memang telah "mengganggu" hidupnya. Dan kalau ia memilih untuk memblock saya dari akunnya, itu haknya. Saya tidak memiliki kuasa apa-apa selain membiarkannya.

Sama halnya dengan membatasi akses ke semua akun seseorang. Saya akhirnya berani mengambil keputusan—yang cukup besar ini—untuk memblock semua akun seseorang di media sosial. Saya tentu punya alasan tersendiri. Pertama, saya nggak ingin melihat dia di manapun, bahkan secuil kabarnya pun berusaha saya hindari Sebab, kabar-kabar semacam itu hanya akan membentuk daftar kebencian saya padanya semakin banyak, sedangkan saya ingin berusaha ikhlas dan memaafkan segala yang terjadi di masa lalu.

Kedua, saya tidak ingin ia mengetahui kabar saya juga. Mengingat kondisi saya yang masih tidak baik-baik saja, saya nggak ingin jika ia lantas merasa jumawa setelah kejadian yang sudah lewat itu. Saya pikir ini sama-sama menguntungkan untuk kami agar bisa bergerak maju secara masing-masing.

Menekan tombol block tentu bukan dengan maksud membangun permusuhan antar sesama. Saya punya tujuan jelas, yaitu menyembuhkan diri sendiri. Menekan tombol block hanya untuk menutup pintu sementara, tapi bukan berarti pintu itu tidak akan dibuka selamanya. Akan ada waktunya untuk membukanya, mungkin nanti setelah saya berdamai dengan diri sendiri.

Ignorance is a bliss. Sebuah ketidaktahuan adalah kebahagiaan.

Memilih membatasi akses tak akan mengurangi esensi apa-apa. Kita tetap berteman, hanya sedang terjeda. Memilih tidak mengetahui kabar seseorang yang secara sadar kita batasi tentu tidak merugikan apa-apa. Karena kita memang sengaja membatasi. Kadang-kadang lebih baik tidak tahu kabar apapun daripada tahu tapi malah menyakiti diri sendiri.

Toh kabar-kabar itu tidak terlalu memberi energi positif apapun. Biasanya malah membuat saya selalu ingin marah ketika sudah tahu. Alih-alih membenahi diri dan fokus pada penyembuhan, yang ada saya cuma misuh dan membandingkan betapa hidup kami berjalan sangat kontras. Saya percaya, ketidaktahuan yang dipelihara untuk melindungi diri sendiri akan lebih menyenangkan ketimbang keingintahuan yang membunuh pelan-pelan.

Ketidaktahuan membuat saya lebih bisa cepat mengikhlaskan karena tidak lagi harus bersinggungan dengan si empunya masalah. Ketidaktahuan membuat saya lebih bisa tenang dan tidak urung-uringan. Membatasi diri semacam ini pada akhirnya akan menurunkan emosi negatif di kepala secara perlahan. Ibaratnya, kita sudah sadar untuk meredamkan api itu hanya bisa dengan air bukan dengan menambah bensin.

Tutup pintu sementara sampai segalanya damai. Karena jika masih bebal tanpa memutus akses, yang ada kita akan makin dicederai oleh ekspektasi-ekspektasi yang kelewat jahat.

Saya tahu ini sangat sulit dilakukan. Saya pun pada akhirnya memutuskan untuk melakukan ini setelah berbulan-bulan halu dengan pikiran optimis seperti, "Ah, nggak perlu lah main block akun sosmed. Nanti dikira kayak anak kecil." Tapi toh pada akhirnya saya membutuhkan ketenangan itu. Persetan dibilang nggak tahu diri atau secara tiba-tiba menutup komunikasi tanpa menjelaskan apapun. Saya tetap punya hak melakukan itu, dan kamu pun punya hak yang sama.

"Tidak semua orang harus menyukai kita."

Kini saya berpegang pada kalimat itu. Kamu boleh tidak menyukai saya, tidak apa-apa. Bahkan kamu tidak wajib menjelaskan apapun alasanmu pada saya. Begitupun sebaliknya.

Jadi, kalau memang ada yang unfollow atau block akunmu, biar saja. Mungkin orang itu cuma butuh menenangkan diri darimu. Suatu hari, kalau segalanya sudah aman, sudah tenang dan damai, keadaan bisa jadi akan lebih baik dari ini. Semoga kita tidak terburu-buru menjustifikasi orang-orang semacam ini dengan tanda peperangan.

Sehat selalu, ya!

You Might Also Like

2 comments

  1. Semoga lekas berdamai, Tiwi. Belakangan ini setiap selesai membaca tulisanmu, saya jadi selalu ingin mengutip ayat-ayat di kitab. Tapi tentu tidak saya lakukan karena saya sendiri jarang membaca kitab. Hahaha.

    Ada film animasi bagus, judulnya A Silent Voice. Saya udah nonton Her dan sepakat: punya mesin yang bisa diajak jadi partner itu mungkin ide yang bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terima kasih doanya, Gip. Saya ingin segera terbebas dari perasaan semacam ini tanpa harus membebani siapapun lagi. Bosan jugga rasanya setiap kali muncul harus bercerita hal yang belum bisa saya ikhlaskan.

      Kenapa harus mengutip ayat sih, Gip? Hahaha.

      Ah, saya ingat film itu. Saya nonton sendirian di bioskop dengan jumlah penonton kurang dari 10 orang waktu itu. Betapa film itu mengajarkan untuk ikhlas ya, Gip? Sumpah, mesin yang bisa jadi partner memang ide bagus! Hahaha.

      Delete