Dering

May 15, 2020


Telepon berdering dan menghidupkan segala gegap gempita yang berawal dari hening. Aku melirik sedikit ke arah layar dan kutemukan namamu ada di sana. Debar berpacu, gigil merayu untuk segera mengangkatnya. Satu-satunya hal yang sangat ingin aku lakukan, tapi enggan untuk mendengar suara.

Aku rindu suaramu. Lagi-lagi semacam nostalgia berlebihan di sore yang semakin tua. Suara nyaringmu yang terdengar seperti anak usia sekolah yang belum puber. Aku ingin mendengar suara itu, terus, terus, sampai besok dan selamanya. Aku ingin, tapi juga tidak sanggup mendengar lagi.

Pengabaian adalah hal paling menyakitkan, bukan? Kau dipaksa ada sekaligus tidak ada dalam satu tempat dan waktu yang sama. Kau pernah membuatku merasa seperti dipenjara oleh pikiranku sendiri. Bertanya-tanya, dimana letak kesalahanku dan mengapa sampai kau begitu marah hanya karena ruang hidupmu terasa dibongkar paksa?

Apa yang lantas membuat kita berjarak padahal mulanya kita pernah sedekat nadi? Apa yang membuatmu murka pada kemurkaanku yang lain? Apa yang membuat gelak tawa berubah jadi makian tak berkesudahan?

Aku menyerah, tapi menyimpan dendam di belakang kepala.

Dering telepon darimu masih membahana di ruang kamar. Geming memaku diriku tetap di atas kasur tanpa mau menyentuh gawai di atas meja. Dan berhentilah segala luka sekarang juga, gumamku. Atau ini tanda perang dimulai? Aku tak tahu pasti apa yang kupikirkan saat dering itu kembali semarak.

Satu-satunya hal yang kuingin saat ini adalah melemparkan berkas kenangan ketika kita bercumbu di bawah lampu kamar yang temaram. Diam-diam ingatan itu semakin menelisik ke dalam, bahkan tak mau pergi  barang sesenti pun dari pikiran. Aku nyaris goyah ketika ingat dering itu masih di sana, bersisian dengan memori yang nyaris lepas ke udara.

Getar dari gawai merambat ke jari-jariku. Aku ingin mendengar suaramu, tapi bukan dengan nada memaki yang biasa kau lontarkan ketika amarah membungkusmu rapat-rapat. Aku ingin dengar suaramu, yang halus di telinga kananku ketika kau membisikkan kata-kata paling manis sedunia. Aku ingin mendengar suaramu, bukan dengan kalimatmu yang menyapu habis keinginanku untuk hidup.

Aku ingin dengar suaramu...

"Kau gila, ya?!"

Kalimat pertama, menyakitkan.

"Aku sudah bilang, kan, untuk tidak menulis apapun tentangku di mana pun?"

Kalimat kedua, menggelikan.

"Kau tidak paham maksudku, ya? Perlu aku ulangi?"

Dua kalimat yang sungguh menjemukan dan menyebalkan.

"Kamu seharusnya mengerti! Apa yang sudah berakhir tidak perlu dibahas lagi."

Dua kalimat berikutnya sama-sama membuat kotak tertawaku sakit.

Aku sudah dengar suaramu dan tak ingin mendengar suara itu dimana pun lagi. Tetapi sekembalinya gawai itu ke tempat semula, otakku mulai memutar ulang rekaman suaramu dengan sangat jelas. Seperti pengeras suara di masjid yang menggetarkan sampai ke ulu hati.

Apa kau bilang? Aku gila? Bukankah kegilaan sudah merasuki kita berdua ketika kau bilang ingin segera menikahiku bulan lalu? Bukankah ketidakwarasan sudah membungkus kita berdua menjadi sepasang insan bodoh yang percaya pada tidak adanya ekspektasi dalam sebuah hubungan?

Kamarku kini dipenuhi gelak tawa yang berasal dari pita suaraku yang geli karena sebuah sikap inkonsisten seseorang. Mulanya aku tak percaya ada makhluk egois yang selalu menjelma bayi tak bersalah sepertimu. Tetapi kenyataann menampilkan wajah lain dan berupaya mengirimkan karma ke kamarmu yang jendelanya selalu tertutup.

Aku gila? Aku masih waras. Kalau kegilaan benar-benar menangkapku, mungkin kau sudah mati sejak dering teleponmu yang keduabelas. Sayangnya, aku masih waras dan membiarkan karma membunuhmu pelan-pelan.[]

Bogor, Mei 2020.

You Might Also Like

8 comments

  1. Speechless. Nyesek, tapi juga bikin lega. Apa kata yang tepat untuk ngegambarin efek perasaan ini?

    ReplyDelete
  2. ting tong... itu suara notif yang membuatku debar berpacu ketika mendengar dari gawaiku. Eh pas dilirik malah Line Today, Line Fun, Line Sticker, Line Indonesia, huffff

    ReplyDelete
  3. Ampun ya! Bikin nyesek di awal tapi nyesel di akhir. Rasanya kewarasan semakin melekat dalam otak karena ketidakwarasannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha aku pun kayak mau marah tapi jadinya cuma nyesek.

      Delete