[CERPEN] PELUK

May 12, 2020


PELUK
Sebuah cerita tentang rasa tak berbentuk.
___

Sisa hujan masih membekas di jalan Bulungan yang ramai oleh muda-mudi di depan minimarket. Jok-jok motor yang diparkir beserta helmnya basah terkena guyuran air langit yang sempat menderas beberapa waktu lalu. Kini petugas parkir sudah bersiap untuk mengelapnya dengan kanebo basah yang kumal dan entah sudah berapa kali dipakai.

Aku memeluknya erat di antara motor-motor yang diatur berbaris oleh si petugas parkir. Ia membalas pelukanku dengan hangat. Gerimis turun amat lambat dan menyisakan bercak gelap di sweaternya. Ojek daringku sudah menunggu, tapi aku tetap enggan melepaskan pelukanku.

"Will we meet again?" Aku berbisik di telinganya sebab suara bising orang-orang seolah merenggut kesunyian yang kami ciptakan.

"Ya, of course." Suaranya terdengar amat dekat di telingaku. "Sekarang pulang dan hati-hati. Kita masih bisa ketemu nanti."

Aku melepaskan pelukanku dan nyaris menumpahkan air mata. Ia hanya tersenyum dan menyuruhku lekas menghampiri ojek daringku sebelum hujan menderas. Ia mengelus kepalaku, kemudian aku melambai ke arahnya dan menghampiri ojek yang sudah menunggu dari tadi. Dan itulah terakhir kalinya aku bertemu dia.
___

Langit Jakarta sedang panas terik ketika sebuah pesan masuk ke ponselku. Rian. Ia bilang kalau sekarang ia ada di Jakarta. Aku yang sedang mengantuk langsung bangun seketika. Apa aku tidak salah baca? Rian di Jakarta? Aku langsung mengingat kapan terakhir kali bertemu lelaki itu. Sepertinya sudah lama sekali. Mungkin sekitar setahun yang lalu.

Ia lantas memberitahuku bahwa ia sedang ada meeting dengan seorang klien di salah satu area di Lebak Bulus. Aku yang tinggal di daerah Ciputat langsung mengajaknya bertemu.

"Kamu selesai jam berapa?" tanyaku melalui pesan WhatsApp.

"Sekitar jam 3 mungkin. Kamu mau ke sini?"

"Iya. Dua puluh menit lagi aku berangkat ke tempatmu, ya. Tunggu di sana. Udah lama kita nggak ketemu."

Aku langsung bersiap-siap dan seketika teringat beberapa buku yang aku janjikan padanya setahun lalu, tepat di hari ulang tahunnya. Tapi sayang, buku itu tertinggal di rumah kostku di Bogor. Kabar kedatangannya sangat mendadak, sehingga aku tak sempat menyiapkan apa-apa untuk pertemuan hari ini.

Jalanan dari Ciputat menuju Lebak Bulus cukup ramai tapi tidak sepadat biasanya. Mungkin karena belum jam pulang kantor. Matahari agak sedikit tertutup awan sehingga menciptakan hawa sejuk tanpa kemuraman seperti hujan hari kemarin. Bisa dibilang, ini waktu terbaik untuk menikmati jalanan Jakarta. Tidak panas, tapi tidak juga mendung.

Aku tiba 20 menit kemudian di restoran yang telah Rian sebutkan dalam pesan WhatsApp. Aku dengan mudah menemukan sosoknya karena restoran sedang sepi. Ia masih bersama kliennya, yang kalau kutaksir berusia 35 tahunan. Rian melambaikan tangan padaku dan menyuruhku bergabung dengan mereka.

"Udah selesai kok meetingnya. Duduk sini aja," katanya. Aku dengan kikuk menurutinya. "Ini Arin, Mas." Ia memperkenalkanku pada kliennya.

Aku lantas menjabat tangan kliennya yang bernama Budi setelah ia menyebutkan namanya. Pak Budi sudah mulai membereskan laptopnya dan hendak pamit karena masih harus bertemu orang lain lagi. Aku hanya mengangguk sopan saat ia sudah beranjak dari tempat duduknya.

"Kamu kok nggak bilang ada di Jakarta?" sambarku.

"Ini kan udah bilang," ia hanya menjawab dengan cuek dan langsung menuju kasir untuk mengambil buku menu. "Aku mau pesan makan. Kamu mau makan nggak? Aku lapar belum makan."

"Nggak deh. Aku kenyang." Ia lalu mengangguk takzim atas jawabanku dan dengan cepat menulis pesanannya lalu kembali ke kasir.

Ia belum duduk ketika aku mulai menyerbunya dengan banyak pertanyaan. "Kamu berapa lama di Jakarta? Kerja di mana? Terus tinggal di mana selama di Jakarta?"

"Satu-satu dong nanyanya, Mbak. Hahaha." Ia tertawa dan sialnya aku suka caranya tertawa.

Pertemuan kami hari itu diakhiri dengan sebuah percakapan panjang yang entah bagaimana membuatku mengaku kalau beberapa hari sebelumnya aku sempat memimpikannya. Padahal aku tidak sedang memikirkannya waktu itu.

"Nah, itu tandanya kamu kangen sama aku. Tapi kan sekarang udah ketemu. Jadi nggak apa-apa," katanya sambil tertawa menggoda.

Aku refleks menepuk bahunya ketika ponselnya berbunyi. Ia mengisyaratkanku untuk diam sejenak dengan gerakan telunjuk di bibirnya. Aku tahu siapa yang menelepon. Siapa lagi kalau bukan kekasihnya. Iya, dia punya kekasih di luar Jakarta dan aku sudah tahu itu.

Kami memang sudah lama berteman dan aku tidak akan membicarakan hal romantis apapun dengannya, kecuali soal lelaki yang aku suka. Ia meletakkan kembali ponselnya dan menyeruput macchiato pesanannya.

"Kenapa dia?" Aku membuka obrolan kembali.

"Biasa, nanya lagi di mana, sama siapa, lagi ngapain. Semacam itulah. Udah nggak usah dibahas. Jadi, gimana gebetanmu? Masih mau diem aja? Masih nggak mau nyatain perasaan? Payah, ah."

"Emangnya kamu pikir nyatain perasaan itu gampang? Aku takut ditolak kali," sahutku malas.

"Ya, kalau ditolak tinggal cari yang lain. Segampang itu kok." Ia menyandarkan tubuhnya dan aku sibuk memikirkan ucapannya barusan.

Tak terasa, kopiku sudah tandas, pun miliknya. Pegawai di kedai kopi sudah mulai membereskan kedainya, bersiap untuk tutup. Orang-orang sudah mulai beranjak keluar menemui malam dan bertemu rumah yang hangat untuk beristirahat. Pada akhirnya jeda panjang di antara kami akan dimulai malam itu. Kami berpisah tanpa janji temu untuk selanjutnya yang entah kapan.

Tak ada pelukan erat, kami hanya saling melambaikan tangan dan saling mengatakan terima kasih juga hati-hati di jalan.
___

Aku menyiapkan dua buku yang akan kuberikan padanya seusai pulang kantor nanti. Rian sudah bekerja di Jakarta dan dalam kurun waktu 5 bulan sejak pertemuan kami sebelumnya, ia sudah melewati ulang tahun ke-26nya. Mungkin ini sebuah hadiah yang terlambat, tapi tidak apa-apa. Aku memilih dua buku yang entah akan dia suka atau tidak.

Aku tidak tahu selera bacaannya seperti apa. Aku memilih secara acak. Padahal, temanku pernah bilang, "Pilihlah buku yang kalau kamu lihat buku itu kamu langsung inget dia." Maka aku pilih saja buku yang aku suka. Entah karena apa, akhirnya aku turut menyelipkan sebuah puisi di dalamnya.

"Aku agak telat ke sana ya. Masih meeting di kantor. Mungkin sekitar jam 7 atau 7.30 baru jalan ke sana," ucapnya melalui sambungan telepon.

"Iya, tidak apa-apa."

Kami cuma teman lama yang bertemu kembali. Kami cuma dua orang yang terbiasa saling bercerita dan berbagi untuk hal-hal mendalam selepas tengah malam. Kami selalu tertawa ketika masuk waktu tersebut dan masing-masing dari kami langsung bercerita tentang banyak hal. Ia bilang tidak apa-apa, sudah jamnya untuk curhat.

Ia putus dengan kekasihnya bulan lalu, tepat sebelum memasuki bulan lahirnya. Dan aku, entah mengapa, seperti punya kesempatan.

Aku sudah di tempat yang kami tentukan ketika ia datang tergesa. Aku menatapnya lamat-lamat. Celana jeans, kaus oblong merah yang dibalut sweater kesayangannya, sepatu keds, dan ransel. Jangan lupakan kacamata yang biasanya tidak ia kenakan saat bertemu denganku sebelumnya.

"Sorry. Udah lama nunggunya, ya?" Ia langsung duduk di depanku dengan nafas yang terengah-engah.

"Lumayan, tapi nggak apa-apa."

"Well, ada apa?"

Aku mengambil bungkusan yang sudah aku persiapkan dan menyodorkan ke arahnya. "Ini... buku yang aku janjikan waktu itu. Sorry telat banget ngasihnya, ya? Hahaha," aku mendengar kesumbangan dalam nada tertawaku.

"Lho, pake dibungkus segala."

"Anggap saja hadiah ulang tahun sekalian. Kamu kan baru ulang tahun semingguan lalu. Ya, kan?"

Ia hanya tertawa menanggapiku kemudian mengatakan terima kasih. Raut lelah tercetak jelas di wajahnya. Pipinya semakin kurus, ada lingkaran hitam di sekitar matanya. Ia pasti banyak begadang untuk pekerjaan yang sekarang. Ia masih terus sibuk dengan ponselnya, sedang aku mengalihkan pandanganku ke orang-orang yang asik mengobrol satu sama lain. Kami hilang ditelan sunyi yang mendadak. Kami tersesat dalam keramaian di pikiran kami masing-masing.
___

Kami tak pernah bertemu lagi setelah itu. Hanya sesekali bertukar kabar melalui pesan WhatsApp. Sesekali juga aku bertanya keadaannya di Jakarta saat ini. Ia bilang agak menyesal kerja di Jakarta, sebab tak punya teman yamg bisa diajak nongkrong. Sederhananya ia kesepian.

Tak ada angin tak ada hujan, ia mengajakku bertemu di tengah bulan ini. Aku menghela nafas dan tak tahu harus menjawab apa. Pikiranku terlalu rumit untuk berasumsi tentang apa yang terjadi setelah ia membaca kertas berisi puisi yang aku selipkan di bukunya waktu itu. Padahal aku sudah mempersiapkan hati jika hasilnya tidak sesuai bayanganku.

"Mau nggak?" Kali ini ia bertanya, mencari jawabanku yang entah di mana. Aku benar-benar bingung sekaligus takut untuk mengiyakan ajakannya. Tapi tidak ada salahnya juga menerima tawarannya, mungkin ini kesempatanku untuk membahas soal puisi di kertas itu.

"Ini serius ngajak?" Akhirnya cuma itu yang bisa kubalas padanya.

Setelah berusaha meyakinkan diri, aku menerima ajakannya dan berjanji bertemu pada Senin pekan depan seusai pulang kerja.

Gerimis masih turun dengan sangat lambat ketika aku sampai di tempat ia menunggu. Hujan yang tadi deras sudah mereda memang. Aku menatapnya lekat-lekat. Tidak ada yang berubah dari dirinya kecuali kacamata yang kembali tidak digunakannya serta kumisnya yang tumbuh sedikit lebih lebat dari sebelumnya.

"Cari tempat makan dulu?" tawarnya.

"Boleh."

Pikiranku semakin tidak karuan. Entah kenapa jantungku malah semakin berdebar padahal harusnya tidak begini respon tubuhku ketika bertemu dengannya. Aku memesan nasi goreng seafood, sedang ia memesan ayam capcay brokoli. Dua botol air mineral terhidang di meja kami.

Tidak ada percakapan yang tercipta sejak makanan kami datang dua puluh menit lalu. Sesekali kami saling melemparkan pertanyaan seputar pekerjaan masing-masing. Aku menghela napas dan mulai memberanikan diri bertanya tentang puisi itu. Ini harus diselesaikan segera.

"Hei... kamu udah baca puisi yang aku kasih?" Ia menoleh ke arahku dan mulai menatapku. Aku paling tidak suka ditatap lama-lama begini, tapi mau bagaimana lagi.

"Puisi itu, ya... Sudah aku baca, sih. Tapi sebenarnya..." Ia membiarkan kalimatnya menggantung.

"Apa?"

"Kamu bisa jelaskan maksudnya? Karena aku nggak ngerti."

Aku menghela napas, pasrah. "Kamu beneran nggak ngerti atau..." Kini giliranku yang menggantung pertanyaan.

"Hm, ya, aku sudah mengira sih, cuma kenapa arahnya ke sana. Aku nggak berpikir sampai sejauh itu, makanya aku butuh kamu jelasin ulang." Ia tak mengambil jeda menjelaskan hal tersebut hanya agar aku mengerti.

Ya, aku mengerti maksudnya. Aku mengerti ketidakmengertiannya pada puisiku. Aku mengerti kalau ia tidak mengerti jenis perasaan apa yang tumbuh di hatiku. Aku mengerti kalau ia berusaha membuatku merasa tidak tertolak.

"Ya, aku suka sama kamu. Simpelnya gitu. Dari pertama kita ketemu. Dari pas kamu masih punya pacar. Sampai kamu putus kemudian. Aku suka sama kamu..." Aku mengatakannya jelas seperti yang dia minta. "Tapi aku nggak minta buat kamu suka sama aku juga, Rian. Itu terserah kamu."

Kini gantian ia yang menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Ponselnya ia letakkan agak jauh dari tempat semula. Lalu ia memajukan tubuhnya ke arahku. Posisi kami masih tetap terhalang meja dan ini menyulitkan bagiku karena mau tidak mau harus menerima tatapan matanya secara langsung. Ini seperti konfrontasi searah.

Aku mulai memainkan kertas bon pesanan sewaktu ia mulai berbicara. "Arin, aku tahu ini akan jadi kalimat paling klise yang pernah kamu dengar. Tapi, jujur, kamu terlalu baik buatku. Kamu bisa dapat orang yang lebih baik dari aku. Kamu nggak pantas dapat orang yang kurang baik seperti aku." Ia menjeda kalimatnya dan masih terus menatapku. "Kamu ingat, kan? Orang baik akan dapat yang baik. Orang kurang baik akan dapat yang kurang baik juga. Kamu itu baik, Arin." Ia mengatakannya secara tegas tapi halus. Halus sekali sampai aku merasa ingin menangis.

Seharusnya aku sudah siap dengan jawaban semacam ini, tapi mengapa juga rasanya demikian mengejutkan? Padahal sebelumnya aku sudah memprediksi kemungkinan terburuk, termasuk yang satu ini.

Ia mengelus punggung tanganku dan bilang, "Jangan nangis di sini dong. Nggak malu diliatin orang?" Mau tidak mau aku tertawa mendengar ucapannya. "Aku minta maaf, tapi terima kasih sudah menyukaiku sampai saat ini. Dan maaf lagi, aku sebenarnya mau ngasih tau kamu..." jeda itu kembali lagi. "Akhir minggu ini aku tunangan."

Aku tertegun mendengar kata-katanya barusan. Lalu berusaha tersenyum. "Selamat, ya. Semoga lancar acaranya."

Dan di sinilah akhirnya. Kami berpisah ketika gerimis masih menggelayut manja. Pelukan itu jadi pelukan pertama sekaligus terakhir di pertemuan yang mungkin tidak akan ada lagi di hari-hari berikutnya. Bagaimanapun, kami berdua harus tetap melanjutkan hidup. Berteman? Tentu saja. Tapi bagaimana kalau calon istrinya cemburu? Itu urusan lain.

Aku tetap menganggap Rian sebagai seorang teman yang baik bahkan sampai saat ini, saat kita sudah tidak akan bertemu lagi. Aku yakin hidupnya akan lebih baik dari sekarang. Kalau hidupku? Tidak tahu. Semoga lebih baik juga.[]
___

Selamat menua.
Selamat menjadi 3³.
Hiduplah lebih sejahtera, ya.

You Might Also Like

2 comments