Berkas Kenangan

May 26, 2020


"Mungkinkah kita akan hidup bersama setelah ini?"

Kita pernah mengamini banyak hal. Beberapa menyoal khayalan yang tidak pernah sampai jadi kenyataan. Beberapa lagi cuma guyon yang kini bisa aku tertawakan sendirian. Aku terlampau lemah untuk bisa terlempar lagi ke dalam kolam kenangan dan mengingat satu dua peristiwa yang menyenangkan.

Suatu hari, ketika pohon-pohon sibuk bergerak mengikuti arah angin, aku cuma diam memperhatikan. Juga memikirkanmu yang kian lama kian menjadi bagian konspirasi semesta. Orang-orang berlalu lalang, diam terpekur dan menumpahkan keluh kesah melalui raut wajah lelah.

Aku mengembuskan napas dan mengambil sebatang rokok dari dalam tas.

"Kapan terakhir kali kita berbagi rokok, ya?" Aku bergumam sambil mengamati benda berisi nikotin dan tar itu lalu mulai membakarnya.

Asap mengepul dan menimbulkan polusi kecil dari mulutku. Beberapa jam setelah ini aku akan bertemu denganmu lagi. Entah bagaimana aku bisa menghadapimu setelah setahun berlalu. Aku tidak pernah tahu kabarmu dan memang tidak pernah ingin tahu sejak kau memilih jemari lain untuk kau genggam di kemudian hari.

"Kau datang jam berapa?"

Sebuah pesan masuk ke ponselku yang sudah berganti casing dua kali setelah kau membantingnya waktu itu. Lucu sekali rasanya. Kau membanting ponselku hanya karena geram tak mendapat kabarku selama beberapa hari. Aku akui, aku memang salah tak mengabarimu, tapi apa harus dengan membanting ponsel?

Aku mengisap rokokku lagi sambil menimbang-nimbang apakah aku harus membatalkan pertemuan itu atau tidak. Aku terlalu membenci pertemuan kita dulu. Menyesali berbagai hal dalam hubungan kita yang terlalu menyakitkan satu sama lain.
___

"Kenapa kau tidak bilang jika bertemu dengannya?"

"Aku sudah bilang padamu."

"Tapi bukan berarti tidak mengabari seperti ini."

"Sudahlah, aku malas berdebat. Aku ke sini untuk bicara baik-baik. Bukan ingin bertengkar."

"Bicara baik-baik katamu? Kau menghilang, lalu datang seperti tak terjadi apa-apa? Egois."

Sepotong ingatan itu mampir ketika rokokku nyaris habis. Pohon-pohon masih sibuk mengikuti arah angin dan aku tetap geming tanpa berniat membalas pesanmu. Aku masih bimbang. Tidak tahu akan bicara apa ketika bertemu.

Haruskah aku meninju wajahmu? Atau menyiramnya dengan minuman?

"Cih. Sinetron sekali," gumamku.

Aku tidak ingat kapan tepatnya aku mulai membenci sikapmu yang selalu menyalahkan itu. Dulu aku merasa baik-baik saja, merasa kau begitu perhatian sampai aku berniat ingin hidup denganmu walau usia hubungan kita baru seumur jagung.

Kau bilang dunia terlalu singkat tanpa kita mau mencoba. Manis sekali pikirku waktu itu. Aku mencoba memahami jalan pikiranmu yang berbeda dari kebanyakan orang. Menyelaraskannya dengan milikku yang sedikit berantakan dan... aneh. Kau bilang kita akan baik-baik saja. Kita akan hidup damai tanpa gangguan.

Aku mematikan rokokku, membungkus puntungnya dengan tisu dan memasukkannya ke dalam tas ketika teleponku bergetar. Jantungku berdebar cepat.

"Kau dimana?"

"Di tempat biasa."

"Sendirian?"

"Ya."

"Mau makan malam denganku?"

Aku berpikir sejenak, menyebutkan sebuah tempat, lalu menutup teleponnya.
___

Sesuatu di masa lalu memang selalu menggangguku bahkan ketika sudah memaafkan, tetapi berdamai tak pernah semudah itu. Aku sudah lama menginginkan pertemuan itu, berharap ada hal baik yang bisa membuat kita kembali bersama. Tetapi nurani berkata lain.

Kita sudah pernah memilih jalan takdir yang berbeda. Kita sudah pernah memuja ketiadaan ekspektasi dalam hubungan kita. Dan ketika itu semua terjadi, aku sedang berusaha menarik diriku sendiri dari telaga yang kau buat. Kukira waktu itu aku telah berusaha menolongmu dari dasar telaga, berharap bisa menghirup oksigen bersama-sama. Ternyata kau malah balik menenggelamkan aku tanpa mau menolong sedikitpun. Kita terlalu naif untuk jadi sepasang yang manipulatif. Kita terlalu brengsek untuk hidup yang terlampau menyedihkan.

Apa kau sudah selesai dengan dirimu sekarang?

Aku menghembuskan napas. Aku tak pernah selesai, belum. Entah berapa lama lagi.

Kuambil ponselku, membuka pesan masuk darimu dan membalasnya.

"Aku tidak bisa menemuimu. Aku ada janji dengan calon suamiku. Dan tolong jangan hubungi aku lagi. Terima kasih."

Pesan terkirim dan aku menghapus nomornya seperti aku menghapus dirinya dari berkas kenangan dalam hidupku.[]

Bogor, Mei 2020.

You Might Also Like

0 comments