25 Minutes, 23 Second

May 03, 2020


Aku sedang bersantai di kasur usai salat maghrib ketika ponselku bergetar. Sebuah panggilan masuk dari seseorang yang tinggal nun jauh di sana.

Aku memang tak pernah menyalakan dering telepon dan hanya membuatnya bergetar saja. Kadang-kadang bunyi dering telepon mengagetkanku juga, apalagi ketika sedang tidur, sebab aku selalu memasang dering musik dengan intro lagu yang cukup bising. Seperti kali ini, aku masih menggunakan dering dari lagu Jepang berjudul Into The Sky yang dinyanyikan oleh Sawano Hiroyuki.

Alasan sederhana kupilih, agar aku dengar kalau-kalau ada panggilan masuk dari perusahaan tempat aku melamar kerja. Namun, belakangan ini aku memilih menyalakan mode getar tanpa berniat mengubahnya ke mode normal kembali. Belum saatnya, pikirku.

Setelah getar ketiga, aku mengangkat teleponnya.

"Hei, assalamualaikum." Suara di ujung sana terdengar renyah. Suara khas yang aku suka.

"Waalaikumsalam. Sudah salat maghrib?"

Ia lantas menjawab sudah dan terdengar bunyi genjrengan gitar dan sesekali bunyi knalpot motor mengaburkan suaranya yang jauh.

"Kau di mana?"

"Aku? Di kamar. Suara motornya berisik."

"Iya, karena aku di pinggir jalan."

"Di kedai maksudmu?"

"Iya. Eh kau suka lagu apa?"

"Hm, banyak. Tapi belakangan lagi sering dengar One Ok Rock."

Ia lalu mulai memetik gitarnya dan bernyanyi salah satu lagu favoritku, Wherever You Are. Aku banyak diam dan mendengarkan suaranya yang kadang menjadi candu di telingaku. Aku tak berhenti tersenyum, rasanya semua kata-kata tak ada yang bisa kulepaskan kala itu.

Suara bising motor masih jadi pengiring tetap selain suara gitar dan bibirnya yang bernyanyi. Aku jadi ingat beberapa tahun lalu ketika berkumpul bersama teman-teman kuliahku untuk sekadar mengisi waktu luang. Aku tidak pernah mau bernyanyi karena sadar kalau suaraku tak lebih bagus dari suara kucing yang mengeong.

Lantas, ketika mendengar yang lain bernyanyi, aku lebih sering bergumam tidak jelas. Bergumam saja aku sumbang. Aku paling tidak bisa diajak berkaraoke, kecuali untuk lagu yang nadanya benar-benar serupa dengan suaraku. Aku pernah menyanyikan soundtrack lagu Doraemon dengan baik saat berkaraoke. Juga lagu-lagu Taylor Swift yang punya nada sedang dengan cukup baik. Ya, paling tidak aku tidak mengecewakan layar karaoke dan mendapat nilai 78.

Wherever you are, I'll always make you smile
Wherever you are, I'm always by your side*

Boleh tidak ya aku tersenyum seharian kalau begini caranya? Ia masih terus menyanyikan lagu favoritku dengan gitarnya dan aku hanya senyum-senyum tidak jelas di atas kasur. Betapa romantisnya jika dinyanyikan secara langsung. Hahaha. Suara beratnya terasa pas di telingaku dan aku enggan mengganggunya yang semakin khusyuk bernyanyi.

Lagu favoritku selesai dan aku sontak bertepuk tangan saking senangnya. "Hm, lagu apalagi, ya?" Katanya, lebih seperti bergumam untuk dirinya sendiri.

"Apapun, terserah. Akan aku dengarkan."

Ia lalu mengubah petikan gitarnya. Sebuah lagu yang tak asing di telingaku, tetapi aku lupa apa judulnya. Kenapa seringkali aku jadi pelupa begini? Apakah memoriku terlalu kecil untuk mengingat banyak hal?

Aku memejamkan mata sambil masih mendengar suaranya di ujung telepon. Sesekali kujauhkan ponselku ketika suara motor di tempatnya terdengar terlalu bising. Aku mulai mengingat-ingat bagian nada dan lirik yang dinyanyikannya.

Mama, ooh
Didn't mean to make you cry**

Aku lupa. Jelas-jelas lupa untuk sebuah lagu yang sering aku dengar. Karena berusaha mengingat lagu itu, aku jadi tak fokus mendengarkan ia bernyanyi. Sesekali suaranya berubah menjadi serak seperti orang kehausan. Lalu ia menghentikan lagunya.

"Eh, tadi itu lagu apa ya?"

"Kau nggak tahu?"

"Sering dengar, tapi lupa judul."

"Queen. Bohemian Rhapsody."

"Ah, iya... Pantas aku seperti pernah dengar lagunya."

"Nggak apa-apa. Sudah dulu, ya. Ada yang beli kopi. Assalamualaikum."

"Iya. Terima kasih, ya. Waalaikumsalam."

Dan telepon terputus di menit keduapuluh lima lewat dua puluh tiga detik.[]

*Potongan lirik lagu Wherever You Are - One Ok Rock
**Potongan lirik lagu Bohemian Rhapsody - Queen

You Might Also Like

6 comments

  1. Si “aku” teleponan sama Dilan, ya?

    ReplyDelete
  2. Oke, agar bisa menjadi romantis begini dan membuat pasangan bahagia, saya harus belajar beli kopi saat yg jaga warungnya lagi teleponan.

    ini cerita mini apa cerita diri, Af?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha hei kok Anda malah mau beli kopi sih. Tapi soal romantis mah beda-beda sih ya setiap orang. Ini mah karena saya suka dinyanyiin aja. Terus kebetulan suaranya si mamang kopinya enak. Wkwk

      Ini cerita mini yang berkiblat pada cerita diri

      Delete
  3. Konser online yang private tanpa reservasi tiket. Asiikkk sekali.
    Jadi pengen ditelpon kayak gitu ah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha bahkan penyanyinya sendiri yang langsung nelepon yak. Nggak repot jadinya. Cobain gih kak sama pacarnya hehehe

      Delete