[Book Review] Cinta Tak Pernah Tepat Waktu by Puthut EA

May 02, 2020


Judul: Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Pengarang: Puthut EA | Penerbit: Buku Mojok | Tahun Terbit: Cetakan Kelima, Februari 2016 | Tebal Buku: 263 hlm. | ISBN: 978-602-1318-27-0

Ini kali kedua saya membaca buku Cinta Tak Pernah Tepat Waktu karya Phutut Ea. Saya memilih membaca ulang dengan alasan saya nggak paham isinya pada pembacaan pertama entah karena buru-buru atau memang ekspektasi saya ketinggian. Waktu itu, sekitar 4 tahun lalu saya membacanya dengan harapan buku ini bisa memberi saya pencerahan atas hal-hal di luar kuasa saya menyangkut kisah cinta yang memang sangat memuakkan.

Karena terjebak pada bab di mana si tokoh "aku" ikut organisasi mahasiswa 1998, saya jadi merasa buku ini penuh dengan intrik politik, padahal nggak gitu hei. Setelah membaca ulang saya baru tahu bagaimana sakitnya mencintai seseorang dan terlambat mengungkapkannya. Sialan memang.

Buku ini pernah ketumpahan air hujan di kosan. Saya hampir nangis-nangis nggak karuan melihat kamar kosan yang bocor dan buku-buku saya jadi korban sepulang dari luar kota. Sumpah, saya sampai mengutuk yang punya kosan karena nggak kunjung membetulkan atap kosan, tapi tetap berterima kasih juga karena telah menyelamatkan sebagian buku saya walau nggak tepat waktu. Karena buku-buku saya tetep basah dan bergelombang.

Sama halnya seperti perasaan yang yakin kalau hari tidak akan hujan, tapi ternyata pas kita keluar malah hujan deras. Sialnya kita nggak bawa payung. Cerita cinta di buku ini pun demikian. Kita sudah yakin bahwa hubungan akan lancar jaya, ternyata hambatan malang melintang di depan mata tanpa sebelumnya bisa kita lihat.

Lagi-lagi saya mendapati buku dengan sudut pandang orang pertama yang nggak pernah menyebutkan nama. Sama seperti novel Kamu karya Sabda Armandio, buku ini jadi bikin saya terinspirasi, alih-alih sibuk memikirkan nama atau dibuat pusing dengan nama tokoh yang super banyak, buku ini memberi keleluasaan pembaca untuk mengenal tokoh “aku” melalui karakter yang digambarkan selalu sial dalam hal asmara.

“Hei… berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Kamu memang dalam keadaan kacau. Wajar saja kamu berpikir  untuk hal-hal seperti itu. Kamu hanya sedang tidak ingin membuat banyak kesalahan seperti yang sudah-sudah…” Hlm. 128.

Perjalanan pertamanya dibuka dengan cerita pertemuan bersama mantan. Mantan ini memang kadang mengusik banget ya. Datangnya nggak diduga, tapi bikin pikiran porak poranda. Mau segimanapun bersikap jaim di depan mantan, tetap saja si tokoh “aku” nggak bisa menyembunyikan kegugupannya. Tapi seperti kebanyakan lelaki, ia pintar ngeles, alias punya serangan balik untuk si mantan yang datang tiba-tiba ini.

Perjalanan si tokoh "aku" dengan beberapa perempuan juga nggak pernah banyak berhasilnya. Saya mau ngetawain dan bilang kalau dia apes banget, tapi kasihan juga. DItambah si “aku” ini udah didesak untuk menikah sama ibunya. Dalam beberapa bab buku ini tentu saja diceritakan bagaimana si tokoh aku mengalami jungkir balik perasaan saat menyukai seseorang.

Pertama, ia masih cinta dengan si mantan yang ditemuinya di sebuah pesta. Sayangnya nggak bisa balikan lantaran si mantan sudah berkeluarga. Kedua, perempuan yang didekatinya setelah si mantan sudah memberikan respon baik, tapi ternyata si “aku” malah nggak ingin menjalin hubungan baru karena dianggap itu hanya memperumit hidupnya. Ketiga, perempuan yang dijodohkan ibunya, ia naksir, tapi sepertinya juga tidak berjalan mulus.

“Aku takut, dalam emosi yang tidak stabil itu, aku justru akan menyakiti banyak orang sehingga malah menumpuk-numpuk permasalahan.” Hlm 66.

Sampai suatu hari ia bertemu seorang gadis yang membuat dadanya berdesir dan naksir. Tapi… karena ini adalah ending cerita, saya nggak mau spoiler, kamu bisa baca sendiri bukunya dan rasakan sensasi greget sambil nyesek dan menyesal kenapa buku ini judulnya Cinta Tak Pernah Tepat Waktu.

Selain membungkus cerita cinta, buku ini juga bicara tentang perenungan dan relasi kehidupan yang bisa dibilang cukup menggambarkan keadaan di tahun 1998. Gerakan-gerakan mahasiswa saat masih gencar-gencarnya untuk menjatuhkan rezim juga sedikit banyak diceritakan. Saya nggak tahu apakah bagian ini merupakan kisah nyata yang sengaja dimasukkan supaya kisahnya lebih realis atau memang mengambil setting waktu di tahun tersebut. Tapi setelah membaca bagian ucapan terima kasihnya, saya menyadari bahwa memang buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata.
---

Dari segi tulisan, saya juga menyukai penuturan Phutut EA yang sederhana dan mudah dipahami. Akhirnya setelah membaca ulang buku ini saya sudah bisa mengutuki dan memaki adegan demi adegan yang bikin si tokoh “aku” apes melulu.

Bagian favorit saya tentu saja ketika si tokoh “aku” menceritakan soal surga kecilnya di beberapa kota. Tapi saya jatuh cinta pada penggambaran surga kecil di Salatiga yang berupa sebuah sanggar yang bangunannya terbuat dari kayu dan dikelilingi tumbuhan menghijau. Karena saking sejuknya tempat itu di pikiran saya, maka saya mengutip bagian favorit itu di sini.

“Jika kamu main ke sana, kamu akan diterima dengan baik. Hanya ada syarat kecil yang harus kamu penuhi: matikan telepon genggammu! Selebihnya, silakan makan apa yang mereka makan. Kalau kamu mau, kamu bisa ikut mencangkul tanah, memberi makan ikan-ikan di kolam, mencari rumput dan memberi makan kambing-kambing di kandang belakang, atau bersuntuklah di dalam perpustakaan. Tidak akan yang menegurmu dan memarahimu, sekali lagi kecuali jika kamu menyalakan telepon genggammu.” Hlm 196 – 197.

Menurut saya, menyenangkan sekali untuk bisa hidup di sana. Apalagi syaratnya hanya harus mematikan telepon genggam. Bukankah hidup terkadang akan lebih tenang tanpa huru-hara dari telepon genggam?

Gara-gara membaca buku ini juga saya jadi ingin berkunjung ke Jogja dan Solo, entah kenapa. Mungkin karena saya ingin menemui seseorang di sana. Semoga waktunya tepat.

Sekian dan selamat membaca. Tetap waras dan jaga kesehatan!

You Might Also Like

4 comments

  1. Saat baca novel, saya kepikirannya kalau ini novel semi-otobiografis, menarik pas nebak-nebak beberapa tokoh yg ada di dalam novel ini sekarang sudah jadi "seleb sastrawi" kayak Eka Kurniawan, Damhuri Muhammad sampai Bilven, yg emang sepantaran Puthut. Bisa dibilang A Portrait of Artist as a Young Man ala Jogja, pergulitan batin antara asmara dan bikin karya.

    Baru kemarin pas awal tahun bisa ke Jogja lagi, soalnya nonton Persib tandang hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, pas awal baca ini saya sama sekali nggak tahu siapa Phutut EA dan lingkaran pertemanannya. Makanya nggak bisa nebak apa-apa.

      Lhaaa jauh juga nonton Persib sampai ke Jogja hehehe.

      Delete
  2. Aku baru baca sampai bab 11 dan aku setuju kalau setting cerita ini tahun 1998. Beberapa bagian diungkapkan sendiri oleh tokoh utamanya, tapi beberapa bagian menjadi bumbu cerita. Huhu, makin nggak sabar buat menyelesaikan baca buku ini xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayok semangat dilanjutkan kak!
      Ternyata setelah baca ulang malah jadi seru wkwk

      Delete