Blank

May 17, 2020


Tidak ada yang kumau saat ini selain menjambak rambutmu sampai tercerabut dari akarnya. Segala emosi memuncak sampai ubun-ubun dan duka tak pernah selesai secepat itu. Kalau memang waktu bisa menyembuhkan, rasanya amat sangat sulit menemukan caranya. Sebab, otakku selalu bilang, tidak ada waktu.

Sejak matahari meninggi, perutku mual. Amat sangat mual secara denotatif. Aku sedang membaca ulang sebuah percakapan lama dan langsung ingin muntah.

"Selamat tidur, Sayang."

"Selamat tidur juga, Mas."

Gawai jatuh dari tanganku menuju dada yang sakitnya menembus batas hidup dan mati.
___

Aku ingin segera mengeluarkan isi pikiran ini, pada siapapun. Pada begitu banyak orang yang mau mendengar kabar busuk tentang seseorang. Kabar yang menyakitkan kaki-kaki yang melangkah. Kabar yang menjegal banyak harapan dan menyisakan luka mendalam.

Aku ingin membagikannya... dalam bentuk lain yang menyenangkan. Tetapi... aku tidak pernah siap menghadapi konfrontasi dalam waktu singkat untuk memperdengarkan isi pikiran. Seperti kemarin malam, saat aku mempersiapkan diri untuk mencoba menyertakan diri dalam kumpulan. Aku, pada akhirnya, jadi seorang yang bersembunyi di balik kotak persegi tanpa wajah.

Janji bertemu siang dan aku mengurungkan segala yang berkecamuk di benak. Tidak lagi berani untuk bercerita. Tidak lagi berani membagikan beban. Tidak lagi mau jadi pusat perhatian. Dan aku memilih menyendiri, mencari tempat lain untuk menyembuhkan diri.

Suara-suara semakin terasa dekat. Dua lagu terakhir yang menjadi teman membunuh waktu amat sangat memelukku erat. Lathi dari Weird Genius dan Bedroom Warfare dari One Ok Rock. Keduanya punya musik yang lekat di memoriku. Keduanya punya lirik yang membuatku ingin menangis seharian. Keduanya seperti punya kekuatan magis dalam hidupku.
___

Aku menjatuhkan diri dan mulai membenci rumah. Entah kenapa. Saat orang lain menginginkan rumah dan kehangatan, aku membencinya sekaligus. Tidak ada alasan pasti mengapa dan bagaimana beberapa hal tampak ganjil dan membuatku muak di beberapa titik.

Catatan kali ini pendek karena beberapa kata mandek karena suatu hal...

dan aku tak tahu harus bercerita seperti apa.

You Might Also Like

3 comments

  1. Kebalik. “Lathi” dari Weird Genius.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan, omong-omong soal waktu, banyak dari kita sering bilang membunuh waktu, padahal diam-diam waktu yang membunuh kita. Jangan mati ditelan waktu; bergeraklah bersamanya. Semangat, Tiwi.

      Delete
    2. Thanks, Gip, koreksinya. Suka nggak fokus emang. Hehe.

      Iya, benar. Hari kemarin dan mungkin hari ini saya kelimpungan banget entah karena apa. Rasanya muak dan campur-campur kayak nasi rames. Semoga masih akan tetap hidup dan bergerak. Terima kasih, Gigip!

      Delete