Bicara Tentang Pertemanan

May 28, 2020


Ada milyaran manusia di bumi. Lebih dari 200 juta manusia di Indonesia. Namun, mengapa seringkali kita menganggap dunia ini sempit ketika bertemu seseorang yang kenal dengan kenalan kita yang lain?

"Oh, kamu teman SMA-nya si A? Sempit sekali dunia ini."
"Lho, kamu tetanggaan sama si B? Dunia udah kayak daun kelor, ya? Sempit banget."
"Lah lu kenal sama si C?"

Betapa kita selalu menuduh bahwa dunia ini sempit, padahal mungkin saja kita yang bergaul terlalu luas, main yang kejauhan, atau relasi kita yang kebanyakan. Beberapa kali saya mengalami hal semacam itu. Menganggap dunia yang kita tempati begitu kecil hingga kemanapun kita pergi, pasti akan bertemu orang-orang yang dikenal. Seorang teman lantas bilang ke saya, "Dunia ini luas, Tiw, tapi pertemanan kamu juga luas."

Dulu, saya nggak kenal banyak orang. Sejak memasuki SMA, saya mencoba melebarkan zona pertemanan saya dengan cara... keliling sekolahan dengan mengajak satu teman. Buat apa? Teman saya itu banyak kenal anak sekolahan, jadi saya keliling, ikut dia nongkrong sambil berkenalan juga dengan temannya. Dalam dua tahun, saya hampir kenal semua anak seangkatan (waktu itu ada 8 kelas dengan masing-masing ±35 siswa perkelas).

Memperluas zona pertemanan sungguh banyak manfaatnya terutama ketika ujian. Jika kelas lain sudah ujian duluan, biasanya saya akan bertanya kisi-kisi ujian pada mereka. Hahaha. Ini memang manfaat yang lazimnya dicari tahu para siswa, tapi bukan ini yang utama. Saya mau ketika main ke kelas orang lain, saya punya kenalan. Tujuan saya selalu sesimpel itu untuk menambah pertemanan.

Pun ketika di kampus, saya berusaha memperluas zona pertemanan lagi dengan alasan menjalin relasi. Meski tidak banyak, saya cukup kenal dengan 2-3 angkatan di atas saya dalam lingkup jurusan. Sampai suatu hari, ketika saya ditunjuk sebagai sekretaris event, ada beberapa kakak tingkat yang menyapa saya, tapi saya tidak kenal.

Seorang senior lantas bilang ke saya, "Tuh kan Tiw, kamu akan terkenal dengan caramu." Saya cuma tertawa padahal yah saya hanya berusaha menjalin pertemanan dan berbuat baik saja pada orang yang saya kenal. Bahkan bisa dibilang, usaha saya itu membuahkan hasil. Sampai hari ini saya masih berhubungan baik dengan mereka para senior yang teman-teman yang saya datangi dengan sok akrab di masa lalu.

Bukan hanya pertemanan langsung, tapi beberapa pertemanan saya mulai dari dunia daring. Contohnya, grup menulis Cendol, Klub Buku Indonesia, dan grup Diskusi Bulanan. Ketiga grup itu membuat saya berteman dengan banyak orang dari berbagai profesi dan berbagai kota. Tidak tanggung-tanggung, saya jadi selalu punya teman ketika sedang berada di luar kota, seperti di Jogja, Solo, Semarang, Aceh, Medan, Makassar, dll. Saya senang sekaligus terharu karena saya merasa tidak begitu pandai bergaul tapi ada banyak orang yang mau berteman dengan saya.

Bertemu temannya teman.
Kejadian ini terjadi beberapa kali. Baru saya sadari ketika saya pertama kali melamar pekerjaan. Teman sebelah saya ternyata adalah teman SMAnya teman kuliah saya. Saya lantas mengamini bahwa pertemuan semacam ini bukan suatu kebetulan, bukan juga karena dunia yang sempit, tetapi memang pertemanan kita yang sudah berkembang dari sebelumnya. Andaikan saya atau kenalan saya itu tidak akrab dengan teman kuliah saya, mungkin tidak akan ada pertanyaan, "Kamu kenal si A? Dia teman SMA saya."

Atau ketika rekan kerja saya bertanya apakah saya kenal dengan si B yang merupakan teman komunitas di daerahnya, mungkin saya akan menjawab tak acuh apabila saya tidak mengenalnya. Hal seperti ini kadang terlihat menggelikan, betapa kita sudah membangun hal yang cukup besar, tetapi selalu merasa dunia ini kecil. Ya, memang tidak ada salahnya karena dengan begitu kita tetap akan merasa wise dan down to earth.

Saya menyadari sikap sok akrab saya yang kadang menjadi sangat menyebalkan untuk sebagian orang, tapi setidaknya saya bersyukur banyak juga orang yang bisa menerima sikap saya yang demikian. Sebulan lalu saya baru melakukannya lagi. Menghubungi seseorang yang sungguh tidak bersinggungan sama sekali dengan hidup saya, tetapi kemudian kami menjadi akrab dan bertukar banyak cerita. Sebuah usaha membangun pertemanan yang cukup berhasil bagi saya.

Ada satu hal lain yang menjadi PR untuk saya, menjaga agar pertemanan itu tetap terjalin setelah susah payah membangun. Ini seperti sebuah benda berharga yang kamu miliki, tanpa dirawat, pertemanan akan memudar dan merenggang. Itu sebabnya kadang saya secara random bertanya kabar pada teman-teman yang saya anggap telah jauh dari radar saya. Hanya untuk memastikan, hanya untuk mempererat kembali pertemanan.

Sayangnya, saya masih menyesali kehilangan seorang teman karena satu dan lain hal yang tidak bisa kami diskusikan solusinya.

Jadi, apakah dunia ini memang sempit atau pertemanan kita yang terlalu luas?

You Might Also Like

2 comments

  1. dunia luas, namun pertemanan kita juga luas. setuju banget mba, emang sering banget kayak ketemu temen yang ternyata juga temen dari temen kita satunya lagi. jadi ribet yaa hehehe tapi yang penting, bertemanlah dengan banyak orang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, iya, hampir semua orang pernah mengalami hal kayak gini kan? Karena emang pada dasarnya kita semua juga suka berteman dan berelasi. Hehehe. Betuuuul, berteman dengan siapa saja :)

      Delete