Beberapa Jam Sebelum Hari Berganti

May 04, 2020


Satu-satunya lagu yang kuputar melalui ponsel dan kudengar melalui earphone adalah lagu sedih milih Pamungkas. Menuju detik terakhir, lalu kembali ke awal. Begitu seterusnya sampai telingaku hapal di mana letak nada dari bait lirik yang kusuka berada.

Malam belum sepenuhnya tua, tetapi pikiranku mulai begitu rapuh mendapati kepingan-kepingan berisikan catatan-catatan masa lalu yang membuatku ingin berubah jadi koala. Aku mengetik kata-kata, rebah di atas kasur, bangkit dan duduk di pinggiran kasur, dan mengulangi kegiatan itu sampai beberapa menit berlalu.

Ujung mataku terasa sakit dan hendak mengeluarkan sesuatu yang sengaja aku tahan karena tidak ingin terlihat menderita. Jari-jari masih terus bergerak di atas papan tombol ponsel dan berakhir dengan pengumuman yang aku temukan sendiri.
___

Sesuatu di kepalaku terasa berputar. Dadaku nyeri dan terasa sulit bernapas. Sialan. Kenapa hal-hal seperti ini lebih menyakitkan daripada patah hati?

Kau tahu rasanya ditinggalkan oleh orang dekat yang begitu peduli hanya karena sebuah kesalahpahaman? Kau mengerti rasanya menahan rasa bersalah walaupun itu bukan salahmu? Kau paham rasanya berada di waktu yang tidak tepat?

Sudah, tidak apa-apa. Bukan salahmu.

Keadaan ini membawaku untuk berpikir. Belajar memahami, belajar memaknai, belajar mengerti sudut pandang orang lain. Aku ingin sekali bisa menjelaskan banyak hal. Ingin sekali bisa meluruskan apa-apa yang menjadi sebab salah paham muncul. Tapi tidak ada kesempatan. Tidak ada waktu. Dan mungkin tidak perlu.

Mula-mula aku merasa tidak apa-apa. Beberapa menit kemudian aku merasa ada yang salah. Kalimat-kalimat itu bekerja dan membuatku tetap merasa bersalah.

Jangan sedih. Bukan salah kamu.

Jam demi jam berlalu dan aku masih mendengar lagu yang sama. Beberapa jam sebelum hari berganti adalah terakhir kalinya aku melihatnya di satu-satunya tempat yang sebelumnya bisa kulihat. Terakhir kalinya aku mengirim pesan, menjawab permintaannya yang mungkin terakhir juga.

Beberapa jam sebelum hari berganti dan kami tak akan terhubung di manapun lagi. Kehilangan teman jauh lebih menyakitkan dibanding kehilangan mantan yang tidak layak untuk dipertahankan.[]

You Might Also Like

2 comments

  1. Kadang-kadang senyap bisa menjadi bising yang paling nyaring.

    Dulu saya punya teman. Dia sedikit kurang beruntung dari sisi ekonomi. Saya lupa dia putus sekolah di kelas berapa, yang saya ingat, waktu itu, tiap saya pulang sekolah, dia selalu menunggu saya dan mengajak saya bermain.

    Kami main, main, main, tiba-tiba saya masuk SMP. Tugas makin banyak dan saya punya pacar di sekolah. Lambat laun saya mulai jarang main sama teman rumah saya itu.

    Satu waktu kami berpapasan di jalan, tetapi dia tidak mau menyapa saya. Saya juga tidak menyapa karena bingung. Sejak saat itu, tiap kami berpapasan, kami tidak bicara. Saya tidak tahu apa yang salah. Saya pikir dia punya teman baru. Setahun kemudian dia pindah rumah karena rumahnya digusur paksa oleh satu perusahaan. Setahun kemudian lagi, dari teman saya yang lain, saya akhirnya tahu:

    Iyan menjauhi saya karena saya sering bawa teman sekolah ke rumah (buat kerja kelompok), tapi Iyan kira untuk main. Di satu sisi saya juga jarang keluar rumah dan ketemu Iyan. Jadi, dia pikir, ketika saya masuk SMP, saya cuma mau berteman sama orang-orang berpendidikan.

    Saya selalu merasa bersalah setiap ingat ini. Kadang-kadang, senyap memang bisa menjadi bising yang paling nyaring.

    ReplyDelete
  2. Merasa bersalah dan sebuah kesalahpahaman yang kadang susah buat dijelaskan.

    Kehilangan teman ternyata memang lebih terasa menyakitkan. I'm sorry to hear that, ya, Kak Gigip.

    ReplyDelete