Mimpi Buruk

April 08, 2020


Author's note: Saya sedang membaca buku Kamu karya Sabda Armandio pada bab ketika si tokoh aku sedang membicarakan teman perempuan di kelasnya. Tiba-tiba pikiran saya melantur dan ingin cepat-cepat menulis entah karena apa. Mungkin diksi dalam bagian buku tersebut sungguh apik sampai membuat saya ingin menulis secepat mungkin. Maka, jadilah tulisan kilat ini.
___

Tiga bulan lalu, sekitar pertengahan Agustus, ia mengirimiku pesan. Katanya, ia baru saja mimpi buruk. Ada anakonda di kasurnya. Aku tidak tahu harus merespon bagaimana. Ingin tertawa, tapi dari pesannya ia terlihat ketakutan sekali.

Maka kubilang, mungkin ia tidak rajin membersihkan kasurnya sebelum tidur. Aku jadi ingat, ibuku pernah bilang kalau kasur itu menyimpan banyak hal-hal aneh, termasuk setan-setan yang berkeliaran. Makanya ibu selalu menyuruhku untuk membersihkan kasur dengan sapu lidi sebelum tidur.

Ia tidak percaya. Apa hubungannya kasur yang kotor dengan mimpi buruk? Aku juga tidak tahu. Lalu ia bilang aku bodoh karena percaya begitu saja. Tapi aku membuktikannya sekarang. Ia mengakui kalau memang tidak membersihkan kasurnya sebelum tidur hingga akhirnya mimpi buruk.

Dan ia terdiam kemudian bilang sesuatu yang menurutku menggelikan. Aku bilang saja kalau ia harus mulai membersihkan kamarnya mulai dari sekarang, supaya lebih bersih dan tidak lagi mimpi buruk. Aku juga menyarankan agar jendela kamarnya dibuka supaya udara masuk dengan mudah.

Tidak perlu sampai membuka jendela, katanya. Sebab, kalau ia melakukannya, nyamuk-nyamuk dari luar jendela akan masuk semua ke kamarnya. Nanti bisa-bisa ia akan mati digigit seribu nyamuk setiap hari. Baiklah, aku tidak akan menyuruhnya membuka jendela lagi.
___

Karena ingatan itu aku jadi ingat beberapa kali mengalami mimpi buruk, termasuk ada cacing-cacing di kasurku. Ketika ketakutan, aku juga mengiriminya pesan yang sama. Kubilang, mungkin ini gara-gara aku tak membersihkan kasurku sebelum tidur. Tak lama ia membalas pesanku dengan kalimat yang menggelikan lagi.

Katanya kalau nanti aku dan dia ada di kasur yang sama, mimpi buruk tidak akan terasa buruk karena kami punya seseorang untuk dipeluk. Saat itu aku hanya menggaruk kepalaku sambil mengetik deretan huruf untuk menertawakan kelakarnya yang menurutku menggelikan.

Pada malam pertama pertemuan suara dan wujud dalam kenyataan, aku tidak bisa tidur. Aku mulai memikirkan, kenapa lampu kamar tidak dimatikan jika lampu meja tetap dibiarkan menyala? Ini pemborosan yang amat sangat. Belum lagi pendingin ruangan yang terus menyala sepanjang hari. Apakah hidup hanya untuk membayar listrik?

Aku lalu mulai memikirkan hal-hal aneh lainnya, seperti apakah ada hantu di sudut kamar itu atau tidak? Tapi hantu tidak bisa dilihat jika lampu kamar terang benderang seperti ini. Mungkin ini alasannya ia tidak ingin mematikan lampu utama. Atau ia takut anakonda ada lagi di kasurnya?

Aku menoleh ke arahnya yang memunggungiku. Ia tampak tidur nyenyak dibanding aku yang selalu memikirkan banyak hal sebelum tidur. Tidak ada yang bisa kuajak bicara tentang hal-hal aneh di kepalaku, seperti mengapa balkon kamar tidak bisa dibuka? Apakah pemilik kamar takut kalau penghuninya akan terjun dari lantai 35?

Aku mengusap tengkukku yang mulai merinding. Tidak mungkin ada yang terjun dari lantai 35 jika balkonnya masih terkunci sampai saat ini. Jadi, tidak mungkin ada hantu, kan?

Ia terbangun dan melihatku belum juga tertidur dan mulai bertanya kenapa. Aku bilang tidak apa-apa. Hanya memikirkan sesuatu yang tidak penting.

"Hei, bolehkah aku matikan AC-nya?" Akhirnya aku bertanya sebelum ia mulai masuk ke dalam mimpinya lagi. Ia cuma mengangguk lalu meraih tubuhku setelah aku mematikan AC-nya.

Ia bilang tubuhku dingin seperti es. Ini akibat dari tidur terpapar angin AC, kataku. Ia lalu merapatkan tubuhnya ke tubuhku dan mulai terlelap lagi. Alih-alih bisa tidur, aku malah jadi semakin tidak tenang. Badanku mendadak kepanasan.

"Aku nyalakan AC-nya lagi saja, ya?" Kupikir ada baiknya tetap menyalakan AC sambil tetap berselimut. Ia hanya bergumam tidak jelas, tapi dari raut wajahnya aku tahu ia setuju.

Aku akhirnya mencoba bicara padanya, siapa tahu ia masih mendengarku dan mau menemaniku mengobrol. Kutanya apakah ia tidak takut bermimpi tentang anakonda lagi? Sebab tadi kami tidak membersihkan kasur terlebih dahulu.

"Tidak ada sapu lidi di sini, Sayang. Lagipula, bukankah sudah ada yang membersihkan sebelum kita sampai di sini?" Ia menjawabku masih sambil memejamkan mata. "Dan aku tidak takut kalau ada anakonda sekarang, karena ada kau di sini."

"Boleh kupeluk kau sekarang?" kataku. "Aku baru saja melihat anakonda di pikiranku."

Ia meregangkan tangannya dan membiarkan aku terlelap di pelukannya. Lampu masih tetap dinyalakan, aku rasa hantu-hantu tak akan berani muncul jika terang benderang. Hanya anakonda di pikiranku yang semakin menggeliat.[]



Cileungsi, April 2020
15:22

You Might Also Like

6 comments

  1. Serem beneran sih kalo mimpi buruknya anakonda. Gue kayaknya mimpi buruk kalo lagi mimpiin orang yang gue nggak kenal sama sekali. Bangun2 siapa dia? di mana aku? kasur siapa ini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya jelas. Serem antara lo mau dimakan sama anakonda atau lo yang berubah jadi anakonda.

      Lo mimpiin maling apa gimana? Kan nggak kenal. Hm

      Delete
  2. yg menyebalkan adalah saat mimpi buruk, badan gue seperti susah digerakkan. lalu klo mata sudah terbuka, malah ngos-ngosan gitu.

    selain jgan lupa membersihkan kasur
    jgan tidur sore hari saat maghrib. bisa bikin pusing.
    kalo enggak percaya, cobain aja dulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener. Gue pernah mimpi buruk terus bangun-bangun nyesek juga.

      Tidur sore pas menjelang maghrib dan abis maghrib kayakmya emang ga dianjurkan deh. Gue pernah tidur di jam-jam segitu eh mimpi buruk juga. Pusing mah enggak sih gue, tapi bangun-bangun kayak capek aja.

      Delete
  3. Sepertinya semua yang muncul dalam mimpi bermula dari kepala :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya bener. Biasanya mikirin apa terus bisa kebawa ke mimpi ya hehe

      Delete