Untuk Semesta: Telepon

February 20, 2020


Hai, Semesta.

Maaf aku baru sempat menulis surat lagi. Pekerjaan akhir-akhir ini menyita banyak waktuku. Belum lagi kondisi tubuh yang seakan tidak mendukung. Musimnya sedang aneh. Jaga kesehatanmu, Semesta. Jangan terlalu banyak merokok juga.

Perihal ingatan masa kecilku, aku selalu berusaha mengikhlaskan, tapi ternyata belum bisa. Hehehe. Biarlah. Mungkin nanti akan sadar dengan sendirinya kalau pengalaman buruk tidak perlu disimpan lama-lama.

Kau tahu? Sejak surat-suratmu datang ke rumah, ibu semakin penasaran. Ia kerap bertanya dengan siapa anak gadisnya berkirim kabar, melalui surat pula. "Kenapa tidak di telepon saja?" tanyanya waktu itu.

Lalu aku jelaskan kalau aku dan kau sedang mencoba cara lain dalam berkomunikasi. Merasai apa yang orang-orang dulu rasakan. Jujur saja, aku bukan tidak ingin bertelepon denganmu. Aku tentu saja mau. Karena akan banyak sekali hal yang kita bahas dalam waktu berjam-jam.

Omong-omong soal telepon, aku kadang bingung dengan diriku sendiri yang lebih lancar mengetik dan menulis daripada membahas sesuatu melalui ucapan. Aneh, ya? Padahal pikiranku penuh dengan beragam hal, tapi tetap hanya hening yang muncul. Aku ingin menghilangkan kebiasaanku yang satu itu.

Aku sudah pernah ditegur oleh beberapa orang karena terlalu banyak diam di telepon. Kata mereka, aku harus bisa menyuarakan apapun yang ada di pikiranku tanpa takut. Tapi rasanya sulit. Mungkin aku belum menemukan hal yang bisa kubahas dengan mereka.

Anehnya, aku bisa tahan bicara berjam-jam ketika bertemu sahabatku. Bayangkan, kami ngobrol dari jam 7 malam sampai jam 2 pagi dengan pembahasan super banyak tapi sama sekali tidak merasa bosan. Apakah ini yang namanya satu frekuensi? Orang-orang selalu bilang begitu padaku.

Katanya, carilah teman bicara yang satu frekuensi, supaya kamu bisa nyambung. Apa benar begitu?

Dan bukankah mengobrol secara langsung dengan bertelepon adalah dua hal yang sama? Lewat telepon kita bisa langsung mendapatkan jawaban atas pertanyaan. Sayangnya untuk orang sepertiku rasanya sulit jika harus berkali-kali melalui fase overthinking ketika harus melempar pertanyaan dan obrolan. Menulis lebih menyenangkan, pun ketika surat ini ditulis. Aku masih bisa berpikir apakah aku harus menyampaikannya padamu atau tidak.

Ya, pokoknya begitulah. Mungkin suatu hari nanti kita akan bertelepon juga kalau bosan berkirim surat. Bagaimana?

Semesta, aku mau cerita lagi. Aku sempat sebal dengan berita seharian kemarin. Rasanya seperti membaca kemunduran zaman yang isinya orang-orang sok tahu dan ingin ikut campur urusan orang lain. Kau baca juga, kan? Bagaimana menurutmu?

Sungguh deh, aku kesal sampai mau nangis kalau melihat berita-berita itu berseliweran di media. Kenapa tidak ada hal lain yang bisa dipikirkan oleh orang-orang semacam itu sih? Aduh, sudahlah. Masih pagi dan aku tidak boleh dibuat pusing.

Sampai ketemu, entah kapan.

Salam,

Aurora.

Kotaku, 20 Februari 2020.

You Might Also Like

0 comments